Untitled part 1

Standar

Tiba-tiba dapet mimpi bersama Kris yang sangat amat peleh. dan cerita di mimpi itu kocak aja. jadi mumpung masih inget mau nyoba di bikin jadi ff..

hehehe.. mungkin gk sebagus yang lain..

tapi.. inilah jadinya..

 

So.. Enjoyed it…!!!

 

 

“Minhyo, ppali!! Wu ahjuma sudah menunggu kita.” Umma ku berteriak dari lanntai bawah. Hari ini kami akan mengadakan piknik. Piknik ini dalam rangka ulang tahun toko roti milik umma ku dan Wu ahjuma. Kerja sama ini sudah dibangun kurang lebih lima tahun lamanya. Mereka merupakan teman lama semasa kuliah dulu.

“Ne umma..” Aku pun turun dan segera memasuki van yang sudah kami sewa, umma ku ingin bersama dengan Wu ahjuma. Appa ku pun menjadi dekat dengan Wu ahjushi. Appa kupun segera melajukan van-nya.

“Woo.. Chakaman. Sepertinya ada yang tertinggal.” Umma ku tiba-tiba berkata disaat kami sudah hampir keluar dari komplek perumahan kami.

“Waeyo yeobo??” Tanya appa ku. Umma terlihat menggeledah tas yang ia bawa.

“Aish, obat asma ku tertinggal dirumah. Minhyo tolong ambilkan ya?” Kata umma ku. Aku pun hanya mengangguk dan keluar dari van ini. Baru sekitar sepuluh langkah dari pintu van, aku mendengar suara anjing. Ya aku memang memiliki cerita tersendiri dengan hewan yang satu itu. Dan tak lama setelah mendengar suara anjing, hewan itu pun muncul dihadapan ku sekitar dua meter dari posisiku berdiri. Karena panik aku segera berlari masuk kedalam van lagi.

“YA!! Wae?? Kenapa malah kembali???” Teriak umma ku.

“Umma, ada anjing. Aku takut.” Aduku pada umma. Semua yang ada di van ini malah menertawai ku.

“Kau ini. Kalau kita kembali dengan van ini tanggung sekali. Cepat ambil itu. Tak perlu takut.” Kata appa ku yang bukannya membelaku.

“Ah, Kris saja yang ambil, bagaimana?” Kata Wu ahjuma menyelamatkan ku.

“Mwo? Aku bahkan tidak tahu dimana letaknya.” Kata Namja itu. Oh ya, namja yang bernama Kris itu adalah anak dari Wu ahjuma. Dia memiliki wajah tampan namun terkesan sombong. Aku tidak terlalu dekat dengannya.

“Minhyo, kau ikut dengannya. Kris akan menemani mu.” Kata umma ku.

“Shireo.. aku di van saja ya umma.” Kata ku memohon.

“Ya! Bagaimana mungkin kau tidak ikut?? Tidak sopan rasanya menggeledah rumah orang di saat pemiliknya tidak ada.” Katanya ketus. Akhirnya dengan terpakasa aku mengikuti kemauan umma ku.

“Kau turun duluan. Usir anjing itu.” Kata ku. Kris pun turun dari van dan mengusir anjing itu. Aku berjalan dibelakangnya.

“Ppabo yeoja. Hanya seekor anjing dan kau ketakutan? Tak bisa dipercaya.” Katanya.

“Suka-suka ku dong. Aku ini yang takut.” Aku terus berjalan menunduk tiba-tiba menabrak sesuatu. “Kau ini. Kalau ingin berhenti berikan aba-aba dong.” Kata ku.

“Kalau begitu kau ku tinggal disini saja. Rumah mu sudah dekat.” Dia membalik badannya dan berjalan kearah van lagi.

“Annieyo. Temani aku. Aku takut hewan itu akan kembali lagi.” Kataku menahan tangannya.

“Dasar kau ini. Cepat ambil.” Ia pun berhenti dan menungguiku di depan rumahku. Aku segera mengambil obat umma dan mengambil beberapa batang coklat. Dan segera kembali keluar, kulihat Kris sedang melakukan peregangan otot.

“Igeo.” Kuserahkan satu batang coklat padanya. Dia menaikan sebelah alisnya. “ucapan terimakasih. Jja kita kembali ke van. Mereka pasti sudah menunggu.” Kami pun berjalan ke arah van menunggu dan van itu segera berjalan ketika kami sudah menaikinya.

`~(^^`~  )  `~( ^^ )~`  (~` ^^)~`

Piknik yang menghabiskan waktu delama tiga hari itu pun selesai juga. Tidak ada kejadian yang aneh-aneh. Para karyawan toko terlihat menikmati piknik ini. Mereka melepas lelah secara gratis. Akhirnya aktivitas pun berjalan seperti biasa.

Sepulang kuliah aku memang selalu bermain di toko umma, tujuannya bukan untuk membantu. Melainkan memakan kue secara gratis. Saat sedang memakan kue-kue itu tia-tiba wu ahjuma memanggilku.

“Minhyo, bisakah kau mengantarkan kue ini? Para karyawan yang bertugas mengantarkan sudah pergi semua. Bisakah kau mengantarnya?” kata Wu ahjuma.

“Ne ahjuma.” Kataku.

“Kau akan pergi naik apa?” Tanya ahjuma.

“Mungkin naik bis saja ahjuma. Mobilku sedang rusak.” Kata ku menerima kotak yang berisi kue ulang tahun. Kata ku lalu mengambil tas ku. Saat akan keluar tiba-tiba ada yang menarik kotak itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya ku pada Kris yang mengambil kotak itu.

“Aku akan mengantar mu.” Katanya. Ia menarikku menuju parkiran. Lalu menyerahkan helm pada ku.

“Kenapa naik motor? Kenapa tidak naik mobil mu saja?” Tanya ku lagi padanya.

“Jalanan sedang macet, dan kau ingin naik mobil? Umma bilang ini harus cepat sampai karena akan di pakai untuk acara sore ini. Jadi untuk apa menyia-nyiakan waktu dengan mengendarai mobil?” Katanya panjang lebar.

“Hei, ku kira kau hanya bisa berbicara singkat saja, ternyata kau bisa berbicara kalimat sepanjang itu dalam satu kari tarikan nafas.” Kataku. Ia memukul kepala ku lalu menaiki motornya. Aku pun menaiki motor Kris.

“Pegang kue nya yang benar. Jangan sampai jatuh, atau kau akan terkena amukan umma ku.” Katanya lagi.

“Jinja? Wu ahjuma tidak pernah marah padaku.” Kata ku lagi.

“Terserahlah.” Kris pun melajukan motornya. Aku berpegangan pada bagian belakang motornya.

Saat sudah di pertengahan perjalanan, tiba-tiba motor Kris berhenti. Aku segera turun dari motor itu.

“Wae? Kenapa tiba-tiba berhenti? Setahuku ini masih jauh.” Kata ku.

“Bahan bakarnya habis.” Katanya lagi.

“Mwo? Jadi kau mengantarku tanpa melihat keadaan tangki bahan bakar mu? Sulit di percaya. Lalu sekarang bagaimana? Alamatnya masih jauh sekali dari sini.” Kata ku lalu melihat keadaan sekitar.

“Tenang saja, kita cari tempat pengisian bahan bakar dan beres.” Katanya pelan.

Kami berjalan sekitar lima meter kedepan, beruntung ada tempat pengisian bahan bakar di tempat itu, ia pun menuntun motornya dengan penuh semangat kearah tempat itu dan segera mengisi bahan bakar untuk motornya.

“Aigo..” katanya tiba-tiba, ia menepuk bagian belakang celananya.

“Wae?” Tanya ku yang heran melihat kelakuannya.

“Aish.. Aku lupa membawa dompet, tertinggal di etalase toko.” Katanya santai. Lalu ia melihat kearah ku.

“Mwo? Kau ini.. Iah.. baiklah sebentar.” Aku menyerahkan uang ku padanya. “Dasar, sudah tidak melihat keadaan bahan bakar kendaraanya, tidak membawa dompet. Dasar. Dia terlihat begitu perfect diluar, tapi ternyata dia itu ceroboh. Ppabo namja.” Gerutu ku.

“Siapa yang ppabo namja heuh?” Katanya tiba-tiba.

“Anni. Sudah cepat kita harus segera mengantarkan kue ini.” Kata ku dan segera menaiki motornya.

Perjalanan pun kembali dilanjutkan, aku memilih diam dan berusaha untuk menikmati angin yang berhembus. Kris melajukan motornya dengan cepat. Memang benar jalanan di kota ini begitu macet. Banyak sekali kendaraan bermotor yang berada dijalanan ini. Tiba-tiba Kris menghentikan motornya secara mendadak dan membuat kotak kue tersebut nyaris saja jatuh.

“YA! Kau ini. Kendarakan yang benar. Jangan seenaknya saja menghentikan motor mu. Kau tidak tahu kalau kita sedang membawa kue ini? Aish..!!” Omelku padanya.

“Kau yang bodoh, memegang kptak itu saja tidak bisa.” Katanya lagi, ia memutar arah motornya.

“Ish.. Kau ini. Dasar… Lalu mengapa kita memutar arah? Kau mau membawa ku kabur ha? Dengar ya. Aku sama sekali tidak tertarik dengan mu. Cepat kembali ke jalan yang benar!!!” Kata ku lagi.

“Ppabo yeoja. Kita akan memotong jalan, kau tidak lihat apa keadaan dijalan itu benar-benar stak dan tidak bergerak?” Katanya, aku pun melihat kearah jalan yang tadi di lalui. “Dan lagi pula, aku tidak tertarik dengan yeoja rata seperti mu itu.” Katanya santai. Dan dengan segera ku berikan hadiah berupa pukulan di kepalanya.

“Rasakan itu.” Teriak ku.

“Ya!! Memang kenyataan kan?” Katanya lagi. Dia kembali menyetir motornya. “Dasar wanita brutal.” Gumamnya yang tentu saja ku dengar tapi aku berpura-pura tidak mendengarnya.

`~(^^`~  )  `~( ^^ )~`  (~` ^^)~`

Entah berada dimana sekarang. Aku sangat amat buta dengan daerah ini. Di sepanjang jalanan terdapat sungai disampingnya. Kami berjalan seolah-olah mengikuti arus sungai itu. Kupasarahkan semuanya pada namja menyebalkan itu. Aku merasa sangat sial hari ini. Jika tahu akan berakhir seperti ini, aku tidak akan mampir ke toko. Lebih baik aku pulang dan menonton drama atau berlatih saja.

“Kita dimana?” Tanyaku yang makin merasa asing dengan daerah ini. Aku tidak percaya kalau dikota sebesar ini masih ada jalanan yang berukuran kecil.

“Kau diam saja, dan percaya padaku.” Katanya.

“Apakah kita masih lama?” kata ku lagi, sudah pegal rasanya duduk di motor ini.

“Kau lelah? Peluk saja aku.” Katanya dan terlihat seringaian mengerikan dari wajahnya yang kulihat dari kaca spion.

“YA!! DASAR YADONG!! MANIAK!!” Ku cubit pinggang nya dan kupukul kepalanya.

“Ya! Minhyo, kau ini brutal sekali.” Dia melindungi kepalanya dengan tangan sebelah kirinya dan menghadap belakang. Tanpa ia sadari ada seorang anak kecil yang sedang bermain sepeda dan berlawanan arah dengan kami.

“Kris!! Perhatikan jalanmu!!” teriak ku. Ia segera mengembalikan tangannya ketempat semula dan berhasil menghindari anak kecil tersebut. Namun disaat bersamaan kotak kue yang kupegang terjatuh. Dan dengan gerak reflek aku segera meraih kotak tersebut tanpa sadar bahwa posisiku berada di atas motor yang membutuhkan keseimbangan. Terlebih keadaan motor yang masih sedikit miring akibat menghindari anak kecil itu.

“Kyaaaaa…!!!!”

Dan.. Hal yang terjadi adalah.

___.B.Y.U.R.___

Motor terjatuh ditambah kami yang juga tercebur kesungai. Kotak kue itu entah berada dimana. Satu hal yang kupikirkan.’apa ini akan berakhir disini’ mengingat kami terjatuh dari ketinggian satu meter dari permukaan air. Kaki ku terasa membentur batu,dan alhasil kaki ku tidak bisa digerakan. Disaat aku sudah tidak bisa bergerak sama sekali, Kris menarik ku ke permukaan.

“Minhyo.. Gwaenchana?” katanya yang dibalas dengan anggukan kepala dari ku. Ia membawa ku ketepian.

“Argh.. Appo..” kataku memegang kaki ku, Kris menarik badan ku menuju tempat yang lebih tinggi. Banyak warga sekitar yang melihat dan segera membantu kami. Ada yang membantu menaikan motor ke jalanan. Beruntung motor itu tidak tercebur kedalam sungai. Lalu ada seorang ahjuma yang memberikan kami handuk.

“Gwaenchana agashi?” Tanya Ahjuma itu.

“Ne.. Gwaenchana. Kamsahamnida ahjuma.” Kata ku. Aku melihat kearah Kris. Ternyata keningya berdarah.

“Omo.. Kris, gwaenchana?” Tanya ku. Ia mengangguk dan menyingkirkan rambut yang menutupi lukanya.

“Ne, hanya tergores sedikit.” Katanya, ada seorang anak kecil yang memberikan plester padaku. Lalu kupakaikan pada keningnya yang terluka. “Gomawo.” Kata ku sambil tersenyum pada anak itu. Kris mengucapkan terimakasih pula pada anak kecil itu dan warga yang membantu kami. “Aku harus menelpon umma dan memberi tahu kejadian ini, tetapi ponsel kutercebur air.” Kata ku pada diri sendiri, lalu ada seorang namja yang memberikan ponselnya lalu ku hubungi umma. Beruntung umma mengerti keadaan kami dan ia segera memerintahkan salah satu karyawannya untuk segera mengantarkan pesanan tersebut pada pemesannya. Lalu aku melihat kesebelah ku yang tadi di tempati oleh Kris, tapi namja itu menghilang entah kemana. Dengan susah payah aku berusaha untuk berdiri dan mencarinya. Tak begitu lama kulihat ia sedang melihat kondisi motornya.

“Kris..” Panggil ku. Dia tidak menjawab panggilan ku. “Kris..” Panggil ku lagi kali ini lebih kencang. Tapi tetap saja ia tidak menjawabnya juga. “Ya! Wu yi fan. Jawab panggilanku.” Teriak ku lagi. Padahal tadinya aku ingin bersikap baik padanya, mengingat ia tadi menolong ku.

“Mwo?” Jawabnya singkat.

“Kau ini kenapa? Aku hanya ingin minta maaf. Dan menurutku ini bukan kesalahnku saja. Kenapa kau seperti marah padaku?” kataku tak terima dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.

“Ha? Salah ku? Siapa yang mencubit ku dan memukul kepala ku seenaknya? Kau kan?” Katanya dengan nada tinggi.

“Siapa suruh kau bersikap seperti itu?” Kataku dengan nada tinggi pula.

“Seperti apa?” Katanya lagi.

“Ka.. Kau bertingkah seperti orang maniak, dan itu mengganggu ku.” Kata ku lagi apa adanya.

“Mwo?” Katanya terkejut, lalu ia tertawa mengejek. “Park Minhyo, aku tidak akan tertarik padamu. Kau sadar tidak, kau sangat jauh dari tipe ku.” Dengan nada yang mengejek dan di sertai seringaiannya yang menyebalkan sekaligus memabukkan. Hei, aku baru menyadari hal tersebut.

“Kau ini.” Aku segera berbalik dan berjalan secepat mungkin yang ku bisa dengan keadaan kaki yang terkilir ini.

“Minhyo, kau mau kemana?  Dorawa..!!” Teriaknya. Aku tidak menghiraukanya dan terus berjalan, kutanyai pada warda yang masih berada di tempat itu jalan menuju rumah ku, dan mereka berkata bahwa bisa dengan sekali menaiki bus, aku pun menaiki bus tersebetu dan tetap mengacuhkan Kris yang masih memanggil namaku.

“Dasar. Dia itu sok sekali. Aku tahu dia tampan. Tapi tidak usah berkata seperti itu juga.” Aku memilih duduk di barisan tengah. Anehnya di kendaraan ini hanya ada sopir dan seorang ahjusi di pojokan. Sopir bus tersebut terlihat gelidah saaat aku menaiki bus nya. Bus pun berjalan. Saat ku lihat ke jendela, ternyata Kris sedang mengejar bus ini.

“Minhyo!!! Minhyo!! Kau mau kemana?? Cepat turun dari bus itu!” teriaknya, aku berusaha mengacuhkannya. Lalu tiba-tiba ahjusi aneh tersebut pindah ke sebrangku, dan dia seperti memperhatikan ku. Aku pun segera maju dan duduk di dekat sopir. Bisa kulihat Kris masih mengejar bus ini. Ia menyalip bus ini dan menghalangi jalan bus ini. Secara mendadak sopir bus ini segera menginjak rem dan Kris segera masuk kedalam bus dan menarik ku keluar dari bus itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Aku ingin pulang.” Kata ku berusaha melepaskan tangan ku darinya. Bus itu pun kembali berjalan. “Kau ini apa-apaan?” kata ku dengan nada marah.

“Neo.. Jinja ppabonika. Tak sadarkah kau kalau ahjusi yang berada di bus itu adalah orang maniak?” katanya lagi.

“Eung, aku menyadarinya kok.” Jawabku berbohong dan melihat kearah lain.

“Lalu kenapa kau tetap menaiki bus itu?” kata Kris lagi.

“Aku sebal dengan mu. Kau tiba-tiba marah secara tidak jelas padaku. Jelas-jelas kau yang salah karena melepaskan tanganmu dan itu mengakibatkan kita tercebur ke sungai. Tapi kenapa kau malah marah padaku? Dan apa itu maksudmu kau berkata kalau aku ini buka tipe mu. Aku sadar. Tapi tidak usah berkata seolah-olah aku ini berharap untuk menjadi pacarmu. Kau itu menyebalkan.” Omelku padanya. Kris hanya pasrah, setelah itu ia tertawa.

“Kau tau, aku bukannya marah, saat kau datang aku sedang merenung karena aku sudah membuatmu terluka. Kaki mu jadi terkilir karena ku kan? Dan aku juga mengatakan kata-kata yang terakhir itu hanya berupa candaan saja.” Katanya menerangkan.

“kau itu, bercandanya keterlaluan. Bagaimana pun aku juga seorang wanita. Dan mendengar ucapan mu itu membuatku merasa sangat rendah dihadapan mu. Aku tidak suka itu.” Kata ku masih marah.

“Jinja? Tapi aku menyukainya.” Katanya dan tersenyum

“Ish.. Kau ini. Sudahlah aku ingin pulang.” Kata ku.

“Aku memang bercanda mengatakan kalau kau bukan tipe ku, karena kau itu baru saja masuk menjadi tipe ideal ku Park Minhyo.” Katanya, aku shock mendengarnya dan menghentikan langkahku. Ia tersenyum menarik tangan ku dan menuntunku untuk kembali mengendarai motor bersamanya. Saat tangan nya bersentuhan dengan tanganku, aku merasa pipiku menjadi lebih panas.

“Aish… Kau bercandanya keterlaluan.” Kata ku mengibaskan tanganku di daerah pipi ku.

“Aku tidak bercanda. Hei, wajahmu memerah. Apa kau menyukai ku juga?” Katanya.

“Kenapa kau itu percaya diri sekali? Aku hanya kedinginan.” Kata ku. Tentusaja aku kedinginan, mengingat lami baru saja tercebur kesungai dan pakaian ku belum kering sepenuhnya.  Sementara ia menggunakan jaket persediaannya. Ia lalu membuka jaketnya.

“Tak usah, nanti kau sakit kalau tidak memakai jaket.” Kata ku.

“Heuh, percaya diri sekali. Aku juga tidak ingin sakit kau tahu.” Katanya cuek.Tiba-tiba aku merasakan kehangatan mejalar di sekitar ku. Ternyata iamemasukkan tubuh mungilku kedalam jaketnya. Mengingat jaket yang ia gunakan cukup besar. Dan rasanya hangat. Entah hangat karena jaket ini yang memang tebal atau karena hal lainnya. Entahlah. Tiba-tiba saja otakku menjadi blank.

“Hangat bukan?” Katanya lagi. Aku hanya diam membeku. OhTuhan.. Berada didekapannya ternyata sangat amat lah nyaman. Seandainya dia tidak menyebalkan, pasti akan menjadi pria idaman yang sempurna.

Ku dorong badannya perlahan, “Aku .. Aku ingin pulang.” Kata ku yang masih berusaha melepas dekapannya itu.

“Ne, biarkan seperti ini, sebentar saja. Rasanya nyaman.” Kata dia lagi dan kini ia tengah menciumi ujung kepala ku. “Harum.” Gumamnya dan aku hanya diam saja.

`~(^^`~  )  `~( ^^ )~`  (~` ^^)~`

“Aigo… Apa yang terjadi pada anak umma eoh?” Kata umma ku begitu kami sampai di toko kue. Badan kami masih agak basah dan kini aku memakai jaket milik Kris.

“Kami tercebur kesungai ahjuma, karena kebrutalan anak mu.” Kata Kris pada umma ku.

“Anniyo.. Kris saja yang menyetirnya tidak benar umma. Dan aku tidak brutal.” Kataku membela diri. Enak saja aku dibilang brutal. “Aku ini elegean.” Kata ku percaya diri.

“Mwo? Elegan? Ini yang dibilang elegan.” Katanya tidak percaya dan membulatkan kedua matanya. “Mengerikan.” Katanya pelan dan membuang muka kearah lain, tapi bisa kudengar berhubung aku berada di sebelahnya.

“Kalian, hentikan lah bertengkar seperti itu. Kalian  itu dulu sangat dekat loh, kenapa beranjak dewasa kalian malah sering sekali bertengkar eoh?” Kata Wu ahjuma.

“Bukan salah ku ahjuma, dia yang mulai.” Kataku, aku berjalan untuk membuat kopi di coffe maker yang ada di tempat itu.

“Ya, buatkan aku juga.” Kata Kris dan dia duduk di dekat ummanya.

“Buat saja sendiri.” Jawab ku acuh.

“Kau ini.” Ku julurkan lidah ku padanya, dia terlihat memegang kepalanya. “Hatchi…” Dan ia pun mulai bersin-bersin.

Karena merasa empati, akhirnya kubuatkan pula kopi untuk nya. “Igeo..” Kuserahkan padanya.

“Ne, gomawo.” Jawabnya “Aish.. Kepalaku pusing sekali.” Katanya.

“Kau sakit?” Ku pegang dahinya, dan ternyata memang suhu badannya terasa lebih panas dari yang tadi. “Ternyata kau memang bisa sakit.” Kata ku.

“Ya. Aku ini manusia, jadi itu adalah hal yang wajar.” Katanya lagi.

“Sudah, jangan bertengkar lagi kalian ini.” Umma menengahi kami. “Minhyo, bisakah kau mengantarkannya pulang, sekalian kau juga pulang untuk mengganti baju?” Tanya umma ku.

“Tapi mobil ku masih berada di bengkel umma.” Jawab ku.

“Tadi sudah di ambil oleh Jung ahjusi.” Kata umma ku.

“Haah.. Baiklah. Ya, ppali.” Kataku mengajaknya. Kulepas jaketnya dan kukembalikan padanya.

“Ne.” Ia pun berjalan mengikuti ku. “Umma, Ahjuma, kami pulang dahulu ya.” Pamit Kris padanya umma ku dan ummanya. Aku pun ikutan pamit. Dan kembali berjalan menuju mobil ku.

Ku antarkan Kris sampai rumahnya, berhubung jarak antara rumahku dan rumahnya hanyalah bebrapa langkah saja. Kulihat dia tertidur didalam mobil ku. Ingin ku bangun kan tidak enak rasanya. Ingin kutinggalkan saja, tapi rasanya aku begitu tega.

“Kris, bangun kita sudah sampai.” Kataku perlahan, dan ia pun terbangun.

“Ne.. Aish,, kepalaku rasanya berat sekali..” Dia terbangun dan memegangi kepalanya kembali. “Gomawo Minhyo.” Katanya dan ia pun keluar dari mobilku, aku juga keluar dari mobil ku yang sudah kuparkir. “Kau masuklah duluan.” Katanya pada ku, dan aku pun lekas memasuki rumah ku. Dan setelah aku masuk, ia pun berjalan kearah rumahnya. Wajahnya masih terlihat pucat.

Aku masuk kekamar ku dan segera menyalakan air hangat di kamar mandi. Berendam sejenak dengan air hangat pasti rasanya enak. Dan segera aku masuk kedalam bath up setelah airnya terisi penuh. “Wah.. Segar sekali..” Rasanya memang sangat nikmat. Ku nikmati saat-saat damai ini. Sekitar limabelas menit ku sudahi acara berendam ku dan segera mengeringkan badan ku.

Baru saja aku keluar dari kamar mandi, umma ku menelfon. “Yoboseo. Wae umma?” Tanyaku langsung, ingin rasanya aku merebahkan diri di kasurku.

“Minhyo, bisakah kau kerumah Kris? Ia sedang sakit dan tidak ada siapa-siapa dirumahnya. Appanya sedang ada project bersama appamu dan pelayannya sudah pulang dari tadi.” Jelas umma.

“Ne umma, akan kutengok dia.” Kata ku. Aku pun segera memakai bajuku dan berjalan menuju rumahnya.

Ku ketuk rumahnya tapi tak ada seorang pun yang membukanya, “Apa mungkin dia memang pingsan.” Ku coba membuka rumahnya, “Ehm tidak di kunci?” Aku segera melangkah masuk kerumahnya. Aku berjalan kekamarnya, aku mengetahui kamarnya karena saat kami masih kecil, kami sering bermain bersama, dan kurasa kamarnya tidak akan berubah. “Kris…” Kupanggil namanya, tapi ia tidak juga menjawab. Akhirnya lagi-lagi kuputuskan untuk masuk begitu saja kedalam kamarnya. Kulihat dia memang sedang berbaring di ranjangnya dengan selimut yang tebal.

“Minhyo?” Panggilnya pelan ternyata ia menyadari keberadaan ku. Segera saja ku pegang dahinya dan ternyata badannya memang sangat panas. Segera ku ambil thermometer.

“Kau ini, kenapa tidak mengganti baju dulu, ppabo.” Kata ku. Dia memang tidak mengganti bajunya sama sekali. Baju yang tadi ia pakai memang sudah hampir kering. Tapi belum kering sepenuhnya. Ku cek thermometer tersebut, 39˚C. “Tinggi sekali.” Segera saja ku ambil air es dan handuk, lalu ku ambil baju yang nyaman untuknya. “Ganti baju mu dulu.” Ia menurutinya dan berjalan ke kamar mandi. Setelah berganti baju ia kembali berbaring dan ku letakan handuk itu di keningnya. Ku selimuti badannya. Dan aku pun berinisiatif untuk membuatkan bubur untuknya. “Tunggu lah, kau tidur saja.” Aku berjalan.

“Mau kemana?” Tanyanya menggenggam tangan ku.

“Aku akan membuatkan bubur untuk mu.” Kata ku, ia pun melepaskan genggaman tangannya. Lalu aku berjalan meninggalkan kamarnya menuju dapurnya.

Ku bawa mangkuk yang berisi bubur hangat dan segelas gingseng hangat kealam kamarnya. Ku letakan itu semua di meja yang berada di sebelahnya. Ternyata dia tertidur. ‘tampan’ itu yang ada di fikiran ku saat melihat ia tertidur.

“Kris, ireona.. Kau harus makan dan meminum obat.” Kata kua, ia pun terbangun ku serahkan bubur itu dan ia memakannya.

“Tidak ada rasanya.” Katanya. Dasar, sudah sakit masih saja menyebalkan.

“Itu karena kau sedang sakit, makanya apa yang kau makan tidak akan ada rasanya.” Kata ku. Dia hanya mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.

“Selesai.” Katanya tapi masih tersisa ½ porsi bubur di dalam mangkuknya.

“Kau belum selesai Kris.” Kataku.

“Tapi aku sudah kenyang Minhyo.” Kata Kris lagi. Ku ambil mangkuk itu.

“Buka mulut mu.” Kata ku sambil menyodorkan(?) sendok itu kearahnya.

“Aku kenyammmmm..” Segera saja ku masukkan sendok itu kedalam mulutnya.

“Minum ini, agar suhu badan mu kembali normal.” Ku berikan ia obat penurun panas ia pun meminumnya. Ku ambil mangkuk kosong itu dan berjalan keluar kamar mencucinya. Setelah selesai aku kembali kekamar Kris. “Wah, dia tertidur, mungkin efek obat.” Ku tarik selimut hingga menutupi lehernya, ku periksa lagi suhu badannya. “Sudah turun, syukurlah.” Aku segera keluar dari kamarnya dan berjaga diluar. Sesuai dengan wejangan umma padaku. ‘Jaga dia hingga kami kembali.’ Dan mau tidak mau aku pun menungguinya.

“Kenapa tidak ada acara yang seru.” Ku bolak-balik chanel tv dan tidak menemukan acara yang menarik minat ku. Ku putuskan untuk melihat-lihat rumahnya. “Omo, nomu kyeopta.” Aku melihat fotonya semasa kecil. Sangat imut. Aku kembali ke sofa dan mencoba untuk tertidur karena aku merasa lelah. Dan kuputuskan untuk tidur sebentar saja.

Ku buka mataku, nyaman. Itu lah yang kurasa. Perasaan ku tadi aku tertidur di sofa.

“Kau sudah bangun?” Aku mendengar suara seseorang. Kebiasaan ku adalah mengumpulkan nyawaku yang bertebaran entah kemana saat tidur.

“Omo! Kenapa aku ada disini?” Setelah sadar ternyata aku berada dikamar Kris.

“Kau itu, sebenarnya yang sakit itu aku atau kau?” Katanya duduk di sofa yang ada di kamarnya.

“Kenapa aku bisa ada disini?” Tanyaku.

“Kau tertidur lalu umma sampai dan menyuruhku membawa mu ke kamar ku.” Terangnya.

“Oh.. Baiklah.” Aku bangun dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu.

“Minhyo, chakkaman..” Kris menahan tangan ku.

“Wae?” Aku membalik badan.

“Na.. Na..” Kris terlihat gugup. “Jo.. Na..” Kris masih gugup. Dia terlihat menarik nafas. “Johae.” Katanya.

“…”

 

TBC

 

mohon maaf kalau banyak Typo-nya ya

4 responses »

  1. IGEO MWOYA?!?! *semburkanapi* demi apa pun ngakak bacanya dari awal sampe tbc. lucky bgt pas jatoh di sungai itu, semua bala bantuan mendadak muncul lulul. terus, “Dan lagi pula, aku tidak tertarik dengan yeoja rata sepertimu itu,” :)))) park minhyo rata? huakakakakakakakaka anjrit mimpi lo ajaip bgt!
    ceritanya kocak, ditunggu lanjutannya. satu, eh, dua deng saran gue: pertama, typonya toloooong oh oh dibaca ulang dulu kl bisa rim sblm dipublish🙂. kedua, -ku -mu itu disambung aja sama kata kerja. itu aja dari aling si editor wanna be o:)
    btw, apa maksud emot ini ya? `~(^^`~ ) `~( ^^ )~` (~` ^^)~` -__-

  2. waaaah, terimakasih bu editor ataas sarannya.. saya akan perbaiki lagi untuk kedepannya..
    itu selama mimpi indah rasanya.. hahaha.. ia, Park minhyo rata *diem dipojokan* maksud emo itu sedang senang(?)
    terimakasih koment dan sarannya ya ibu editor…
    *BOW*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s