Our Time In Paris

Standar

“kevin.. kkaja, kita akan tertinggal pesawat kalau kau tidak selesai juga mandinya.” Teriak Minhyo.

“Minhyo.. aku capek…” Kata kevin yang baru saja keluar kamar mandi dan memeluk minihyo.

“Kau ini.. Kkaja.. makanya kau itu terlalu rakus sih..” kata Minhyo berbalik dan menyentuh hidung bangir Kevin lalu mengecup pelan bibirnya. “Kkaja pakai bajumu..” Minhyo mendorong Kevin dan memakaikan bajunya.

***

“Kevin!! Minhyo!! PALLI!!” teriak Sungra.

“Biarkan saja dulu Sungra, mereka masih letih.. hahahaha.” Tawa Jaesop a.k.a AJ

“hahahaha..” mereka tertawa bersama.

“Jadi kalian akan menghabiskan bulan madu kalian di Paris.. Kami sudah menyiapkan Hotel yang pasti sangat berkesan di sana.” Kata Harin

“ne.. Jadi, bersenang-senang lah…” teriak Kisseop.

“Gomawo… baiklah.. kami pergi dulu..” Kevin dan Minhyo pun masuk ke dalam terminal Internasional.

“bye…” para member Ukiss yang lain mengucapkan salam perpisahan secara bersamaan.

Setelah Kevin dan Minhyo pergi para member Ukiss beserta Istri langsung pergi menuju loket pembelian tiket pesawat.

“Ajushi.. kami pesan 14 tiket menuju Paris.” Kata Eli

“ne.. kelas apa?” tanya Ajushi itu

“hemm.. tunggu sebentar.. Kita akan mengambil kelas apa?” tanya Eli yang menjadi juru bicara(?).

“Kita tidak mungkin mengambil kelas eksekutif kan? Pasti mereka akan menyadari keberadaan kita.” Kata Hoon.

“ne.. ah, kelas bisnis saja?” kata Aj

“ne..tapi bagaimana jika ‘Kiss me’ menyadari keberadaan kita?” tanya Kisseop narsis.

“ne.. itu sudah resiko. Jadi kita mengambil kelas bisnis saja ya..” kata Eli lagi. Eli pun berbalik dan menghadap ke loket lagi. “Ajushi, kami memesan 14 tiket kelas bisnis saja.” Kata Eli

“ah.. Mian, baru saja saya mengecheknya, ternyata sudah habis.” Kata Ajushi itu.

“eum.. kalau kelas eksekutif?” tanya Kibum

“itu juga telah habis.” Kata Ajushi itu.

“lalu yang tersisa kelas apa?” tanya Seohyun

“eum.. hanya kelas VIP saja..”kata Ajushi itu.

“Ajushi.. kenapa tidak berbicara dari tadi? Kalau begini kami akan memesan tiket VIP saja.” Ucap Eli geram.

“hehehe.. mianhe.. baiklah, 14 tiket menuju Paris kelas VIP.” Ajushi penjaga tiket itu pun memberikan 14 lembar tiket. Mereka yang tengah bertugas membawa barang bawaan segera melaju meuju boarding pass. Dan menunggu jam keberangkatan yang akan dilaksanakan 10 menit lagi. Mereka pun dengan terburu-buru dan berhati-hati menuju tempat pesawat mereka akan berangkat.

Perjalanan Seoul-Paris memakan waktu sekitar 12 jam. Kevin dan Minhyo memasuki pesawat dan duduk di seat yang tersedia di tiket mereka.

“Disini kita duduk..” Kevin mempersilahkan Minhyo untuk duduk di dekat jendela.

“Perjalanan menuju Paris  12 jam. Pakai sabuk pengaman dulu.” Kevin memakai kan sabuk pengaman Minhyo. Lalu memakai sabuknya sendiri. Tak beberapa lama pesawat pun Take Off. Mereka menghabiskan waktu di pesawat dengan mengobrol, terkadang kevin merangkul pinggang Minhyo. Karena sudah lelah mereka akhirnya tertidur.

 

***

“PARIS!!! HELLO!!” Teriak Kevin begitu sampai di bandara internasional Paris Le Bourget Airport.

“Kevin.. Jangan seperti itu.” Minhyo berbicara pada Kevin.

“Wae Minhyo.. Ah, kkaja kita ke penginapan kita. Aku lelah.” Kevin dan Minhyo memasuki sebuak taksi yang akan mengantar mereka ke penginapan mereka yang berjarak 13 km dari Paris Le Bourget Airport.

Sesampainya di Champ Ellysess Hotels mereka segera ke bagian lobby di bagian lobby terlihat begitu glamour, dengan dekorasi yang sangat menakjubkan. Sementara Kevin melakukan registrasi, Minhyo menunggu di sofa yang sudah di sediakan oleh hotel tersebut untuk menunggu.

“Minhyo.. Kajja.” Minhyo pun berdiri dan menghampiri Kevin. Bel boy membawa bawaan mereka. Mereka pun menuju kamar yang telah di pesan oleh member Ukiss.

***

WOW..

Satu kata yang bisa digambarkan oleh Kevin dan Minhyo. Karena tidak main-main kelas kamar yang di pesan oleg member Ukiss..

Kelas

DELUXE BALNEO

“Apa kita salah kamar?” Tanya Minhyo

“Ani.. Ini kamar yang di pesan oleh mereka.” Jawab Kevin masih takjub.

“This is the key.. Enjoy your night in this hotel sir.” Kata bellboy itu.

“Thankyou, ah this is for you.” Kevin memberikan beberapa lembar uang pada bellboy itu.

“So.. Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanya Minhyo.

“Anni.. Ah.. Aku sepertinya lelah selama 12 jam perjalanan ini. Aku ingin tidur saja..” Kata Kevin.

“Arra… Aku ingin mandi dahulu.. Kau tidak mau mandi?” Tanya minhyo lagi.

“Ne.. Ah mandi bersama saja.” Kata Kevin lagi lalu Kevin mendorong Minhyo ke kamar mandi.”

“Kev.. Katanya kau capek?” Tanya Minhyo lagi. Masih bertahan di depan pintu kamar mandi.

“Ne? Kan hanya mandi.. Atau kau ingin sesuatu yang lebih??” Tanya kevin yang menaikan sebelah alisnya.

“Anni.. Kkaja mandi..” Minhyo dan Kevin pun masuk ke kamar mandi.

 

***

“Kevin.. Kkaja kita jalan-jalan.. Aku bosan.. Memangnya kau masih lelah?” Tanya Minhyo sambil memainkan hidung Kevin.

“Ne.. Aku masih malas Minhyo.. Nanti saja…” Kata Kevin yang malah membalik badan.

“Ish.. Kau ini.. Ayo kita menikmati hari-hari bebas yang jarang kau dapatkan ini.” Kata Minhyo lagi..

“Shiro.. Aku malas…” Kevin menutup kepalanya dengan bantal.

Minhyo yang kesal pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Ia memakai pakaian nya dan berjalan kearah pintu.

“Kau mau kemana?” Tanya Kevin.

“Breakfast.. I’m hungry.” Minhyo pun memakai sandalnya.

“Wait me..” Kevin pun segera berjalan untuk menyikat giginya dan membasuh mukanya.

“Did you lazy to go? Why you gou out with me?” Balas Minhyo dengan nada sebal.

“I just feel hungry.. Let’s go to breakfast. And I’m sorry Minhyo.” Kevin pun mendaratkan ciuman singkat di pipinya. Mereka pun berjalan menuju restaurant yang telah di sediakan pihak hotel.

Restaurant di hotel ini memiliki dekorasi yang sangat uniq. Terkesan klasik namun mewah. Dindingnya di biarkan berbentuk batu bata tanpa di lakukan pengecatan. Terdapat beberapa lampu yang memberi kesan antiq pada ruangan ini. Memang harga menginap 230.000 won permalam sepantar dengan pelayanan di hotel ini.

Mereka pun memesan makanan yang tersedia dalam daftar menu.

“Kevin setelah ini kita akan kemana?” Tanya Minhyo.

“Aku ingin belanja.. Sudah lama aku tidak berbelanja.” Jawab Kevin.

“Setelah itu kita ke menara Eifel? Aku ingin kesana..” Ajak Minhyo.

“Ne.. Sekarang waktunya makan.” Kevin dan Minhyo pun melanjutkan aktifitas sarapan mereka.

 

***

“Kevin.. Kita sudah lama berbelanja.. Ini sudah 8 jam lebih. Kaki ku pegal…” Minhyo berkata dan duduk di etalase toko. Minhyo memang tidak begitu menyukai shopping. Ia lebih menyenangi petualangan menuju tempat baru. Baginya itu lebih mendapat kepuasan batin dibanding dengan berebelanja yang hanya menguras uang. Apa yang akan ia lakukan jika barang yang ia beli sudah tidak terlalu di butuhkan lagi.

“Kevin. Aku bosan.” Kata Minhyo lagi.

“tunggu sebentar. Sebentar lagi aku selesai.” Kata Kevin. Kevin pun segera membaya belanjaannya. “Minhyo kkaja..” dia menarik minhyo pergi tanpa rasa bersalah.

“Setelah ini kita ke mana? Aku bosan.” Kata Minhyo.

“Kkaja kita makan Pizza. Restaurant di sini terkenal sangat enak.” Kevin menarik Minhyo pergi.

Minhyo masih menikamati Pizza di salah satu restaurant di Champ Ellysess ini. Dari dalam restaurant ini ia bisa melihat kemegahan dari benteng terindah di Prancis. Yang menjadi tempat perayaan kemenangan PD II ini.

“kau tidak menyukai makanannya?” tanya Kevin.

“anni.. hanya saja aku ingin berjalan-jalan. Bagaimana kalu setelah makan?” tanya Minhyo lagi.

“aku lelah Minhyo.” Kata Kevin sambil melanjutkan makannya.

“ne.. arra.” Minhyo kembali makan. Tidak ada perbincangan lagi. Minhyo merasa kesal kepada Kevin karena Kevin terlalu asik dengan dunianya sendiri. Lebih baik mereka tetap berasa di Seoul saja.itu menurut Minhyo.

Selesai makan pmereka pun kembali ke Hotel. Minhyo berjalan mendahului Kevin. Saat di Lobby hotel ada seorang gadi yang menegur Kevin.

“Hi.. Are you Ukiis’s Kevin Woo?” tanya gadi berambut pirang itu.

“Yes I am. Why you can know me?” tanya Kevin dengan ramah tanpa mempedulikan Minhyo yang sedang menunggu di depan lift.

“I’m  your fans. From Korea.” Kata gadis itu.

“Really.. oh Hi.. what’s your name?” tanya Kevin lagi

“Minjung Kim. Aku ingin berfoto dengan mu.. boleh kah?” tanya gadis berambut pirang bernama Minjung itu.

“Of course.. why not.” Mereka pun berfoto. Karena merasa tidak di pedulikan oleh Kevin Minhyo segera masuk ke pintu lift yang telah terbuka dan meninggalkan Kevin bersama ‘FANS’ nya itu.

“dasar. Sudah menikah masih berkelakuan seperti itu. Kevin Woo!! Neo jeongmal ppabonika.” Gerutu Minhyo saat berada didalam lift.

Minhyo memasuki kamarnya berganti baju, menaruh belanjaannya yang ‘TIDAK SEBANYAK’ Kevin. Lalu ia kembali keluar kamar dengan membawa kamera di lehernya. Ia benar-benar jengah dengan tingkah Kevin selama berada di Paris.

Di lobby, Minhyo melihat Kevin yang masih bersama ‘FANS’nya yang menyebalkan bagi Minhyo.

“tch.. apa-apan itu, sudah menikah masih saja berdekatan dengan yeoja lain.” Minhyo yang kesa segera menitipkan kunci kamarnya ke receptionist. Ia pun melangkah keluar untuk pergi menuju Arc de triomphe yang berada di ujung jalan Champ ellyses. Tanpa mempedulikan fakta bahwa ia seorang wanita yang berjalan di tengah kota yang tidak ia ketahui seluk beluknya.

“haa… membosankan. Kenapa Kevin harus bertemu fansnya. Dan kenapa fans nya itu TIDAK mempedulikan STATUS seorang Kevin Woo. Aarrggh!!” Minhyo berteriak di sepanjang jalan. Dia tidak perduli toh tidak akan ada yang mengerti bahasa yang ia gunakan. Ia terus melanjutkan berjalan, masih berada di sekitar Arc de Triomphe,  ia memasuki daerah taman yang terbilang cukup sunyi dan sepi. Tetapi ia tidak peduli. Ia masih terus melanjutkan wisata fotografi di sana. Karena ia merasa lelah ia pun duduk di bangku taman.

“Kevin Woo Pabo!!!” masih berteriak tidak jelas.

“fuuh.. Hello beautifull girl.” Tiba-tiba Minhyo mendengar suara lelaki yang sangat aneh. Minhyo segera berdiri dan melangkah.

“Where are you going??” tiba-tiba ada seorang pria berambut pirang yang mencegatnya. Minhyo masih mengacuhkannya dan masih berusaha melepas tangan pria pirang nan mesum itu.

“YA!! Don’t touch me!” Minhyo berteriak ketika salah seorang pria itu menarik tangannya.

“Come on, play with us.. It will be so amazing girl.” Salah seorang pria itu berbicara. Minhyo segera melepas tangannya dan lari secepat mungkin dari tempat itu. Tapi kedua pria itu masih mengejarnya. Lari kedua pria itu sangat cepat karena di dukung oleh kaki panjang yang mereka miliki. “Someone please help me….” teriak Minhyo, tapi itu percuma karena daerah itu sepi. Minhyo tidak tahu kemana ia berlari, karena ia memang tidak mengenal daerah itu. Dia amat sangat asing dengan tempat itu. Hingga ia menabrak seseorang.

“I’m sorry.. please help me..” ucap Minhyo yang segera berlindung dibalik orang yang ia tabrak itu.

“Minhyo? Are you okay?” kata orang itu.

“Kevin? Kevin.. aku takut, aku dikejar oleh dua pria mesum berambut pirang.” Kata Minhyo lagi. Ia merasa agak tenang dengan kedatangan Kevin.

“Benarkah? Ayo kita pergi daari sini. Kevin menggenggam tangan Minhyo dan bergegas untuk pergi. Namun langkahnya terhenti ketika seorang pria menghalangi jalannya.

“Where are you going guys?” Pria itu mendekat.

“Minhyo ottokhae?” Kevin berjalan mundur, Minhyo masih berada di belakangnya.

“Nan Mollaseoyo. Kyaaa!!” Minhyo berteriak ketika seseorang memegang pundaknya.

“Minhyo!!” kevin segera berbalik. “Don’t touch my wife. Go away from here!” Kevin berteriak dan melindungi Minhyo.

“heuh, what can you doing boy? You are nothing for us.” Kata kedua pria itu. Kevin yang merasa kesal memukul pria itu. Namun yang terjadi malah Kevin yang kesakitan.

“omo.. gwenchana?” tanya Minhyo. Pria itu menghampiri Kevin dan menonjok pipinya.

“Kevin…. Omo..” Minhyo kaget. Ia melihat ke sekitarnya dan menemukan ranting pohon  yang cuku besar. Ia mengangkatnya dan melemparnya pada salah seorang pria itu. Pria itu merasa kesakitan lalu berbalik menghampiri Minhyo. Minhyo lalu memasang kuda-kuda, pria itu makin mendekat. Minhyo pun menendang pria itu. Lalu ia pukuki pria itu dengan tas yang ia bawa. Lalu ia memukul pria itu bertubi-tubi. Pria itu pun kalah seketika. Pria yang satunya menghampiri Minhyo, Minhyo melepas sepatunya lalu melemparnya tepat di bagian bawah pria itu. Ternyata hal itu berhasil membuat pria pirang nan mesum itu kesakitan, ia pun segera pergi dan menarik temannya yang sudah pingsan akibat ulah Minhyo. *gagah amet gue (=,= )*.

“Kevin.. gwenchana??” Minhyo menghampiri Kevin dan membantunya berdiri.

“Ne.. kau hebat dan mengerikan.” Kata Kevin.

“YA! Apa maksudmu?” Minhyo mendorong Kevin kembali ketanah.

“aauw.. omo Minhyo, sakit.” Rengek Kevin manja.

“biar saja. Rasakan itu.” Minhyo mengambil tasnya lalu memakai sepatunya dan kembali berjalan meninggalkan Kevin.

“Minhyo.. Mian… kenapa tadi kau pergi sendiri??” tanya Kevin yang mengejar Minhyo.

“Kenapa katamu? Tanya kan pada FANS mu yang me-nye-bal-kan itu.” Minhyo menekan kata menyebalkan nya.

“oh.. Minjung? Dia itu menyenangkan kok.” Kata Kevin polos.

“yeah yeah.. What Ever. I don’t like hers. Dia sangat mengganggu.” Kata Minhyo lagi.

“anni.. dia fans yang baik.” Kata Kevin penuh semangat.

“SHUT UP. DONT TALK ABOUT HERS AGAIN. I DON’T LIKE HERS KEVIN WOO. Talk to my hand if you want to talked abaout hers again.” Minhyo sudah habis kesabarannya. Ia segera berjalan memasuki lobby hotel meninggalkan Kevin di belakangnya. Ia menekan tombol lift.

“Minhyo.. mianhe.. aku tidak bermaksud membuat mu marah, aku hanya mengatakan kenyataan.” Kata Kevin lagi.

“ya.. ya.. yaa… “ Minhyo menutup telinganya dan memutar bola matanya jengkel.

“oh.. Oppa..” Pintu lift terbuka dan menampakan seorang gadis yang Minhyo sebali. “Oppa, ada apa dengan wajah mu?” tanya gadi itu. Minhyo yang jengkel segera masuk dan menubruk gadis itu dengan sengaja.

“Hei.. kalau berjalan hati-hati. Kasar sekali sih.” Kata Minjung. Kevin juga masuk ke dalam lift.

“kenapa kau tidak jadi keluar?” tanya Kevin.

“aku ingin mengobati luka mu oppa.” Kata Minjung ketika pintu lift tertutup.

“ouh.. baik sekali kau. Kau bukan siapa-siapanya tapi sangat peduli padanya.” Kata Minhyo dengan nada merendahkan.

“Eoni, uri oppa sedang kesakitan. Wajahnya adalah asetnya. Jadi kita harus mengobatinya.” Kata Minjung yang kini mengeluarkan obat oles dari tasnya.

“apa? ‘uri’ memang nya dia siapa kau ha?” Minhyo masih berusaha menahan suaranya agar tidak meledak.

“aku fans nya.” Ia mendekati Kevin dan mengoleskan obat iti.

“Eung, Minjung lebih baik aku saja yang mengoleskannya.” Kata Kevin ia merasa hawa yang tidak enak dari sebelah kanannya.

“Wae? Kenapa berhenti?” tanya Minhyo semakin ketus.

“Anni.. eoh, kau turun di lantai berapa Minjung?” tanya Kevin mengalihkan pembicaraan.

“Aku turun di lantai 6 oppa.. Oppa sendiri?” tanya Minjung.

“ah, lantai…

“apa urusan mu? Ini sudah lantai 6. Ppali kembali keruangan mu.” Minhyo memotong pembicaraan.

“ne.. oppa, annyeong. Onnie, jangan marah marah terus, nanti cepat berubah menjadi ajhuma-ajhuma loh.. kan kasian namja chingu yang mau sama onnie.” Kata Minjung dan ia segera berlari keluar dari lift.

“YA!!! APA MAKSUDMU HA!!!” Minhyo berteriak dan ingin mengejar anak itu. “tch.. kalau pintu lift ini tidak tertutup, sudah ku hajar anak itu.” Minhyo mengepalkan tangannya. Entah mengapa sejak Kevin bertemu Minjung moodnya langsung menurun drastis. Terlebih sikap Kevin yang terlalu berlebihan.

“Minhyo.. uljima..” kata Kevin.

“Shikuro. Malam ini jangan berharap kau bisa menyentuh ku.” Minhyo segera turun dari lift begitu sampai di lantai tempatnya menginap. Ia bergegas menuju kamarnya.

“Minhyo.. Mianhe.. Aku tidak…”

“Tidak apa ha?” Minhyo masuk ke dalam kamar mereka, menaruh kamera dan tasnya.

“Minhyo..” Kevin memulai aegyonya. (T,T a)

“ya.. ya.. ya.. itu tidak mempan.” Minhyo berjalan ke kamar mandi, Kevin masih mengikutinya dari belakang.

“Min..”

BRAK!!

Minhyo membanting pintu kamar mandi tepat saat Kevin di belakangnya. Beruntung hidungnya masih terselamatkan(?).

“aish.. ottokhae…” Kevin berjalan menuju balkon. Dia mengambil handphone nya.

“Ku ttelfon Kisseop saja. Biasanya dia yang paling bisa menenangkan wanita. Khususnya Harin kalau Harin sudah ngamuk.” Dia pun menelfon Kisseop.

#Kisseop Place

“haaa.. Kevin woo ppabo. Masa malah dia yang dilindungi oleh wanita.”Kisseop melemparkan diri ke sofa yang ada di ruangan itu.

“ne… Kevin sangat bodoh.” AJ duduk di sebelahnya. “Aku tidak menyangka kalau Minhyo hebat juga. Dia sangat….. mengerikan.” Kata Eli.

“ne… itulah uri Minhyo. Kalian jangan macam-macam dengannya. Kalau tidak nasib kalian akan seperti pria yang kalian bayar tadi.” Kata Seungra.

“ne….” kata mereka serempak.

Bokura ni wa kasanette kita

Suteki na omoide mo aru keredo

“eoh.. Kevin menelpon?” Kisseop mengambil handphonenya. Begitu mendengar siapa yang menelfon, mereka langsung mengerubungi Kisseop. Kisseop mengangkatnya dan me-loud speakernya.

“Yeobseyo..” kata Kevin

“Yeobseyo, wae??” Tanya Kisseop to the point.

“Kisseop, bagaimana cara menenangkan wanita yang sedang marah?” tanya Kevin.

“Wae? Apa Minhyo marah?” tanya Minhyo, mereka yang ada di dekat Kisseop makin merapatkan diri.

“ne.. haaaah..” Kevin menghela nafas.

“ini semua karena kau yang dilindungi, bukan melindungi..”gerutu Kisseop pelan.

“Ne.. apa katamu?” Kevin mendengar sesuatu yang Kisseop ucapkan.

“Ne.. anni..” Kisseop segera membantahnya.

“PAABO!!!” bisik Seohyun di sebelah Kisseop, Kisseop pun di pukul oleh Eli dan dicubit oleh Harin.

“appo.. miaan..” Kisseop menjauhkan diri dari handphone nya lalu menendang Aj.

“Ya.. bukan aku. Eli..” Aj membela diri.

“Kisseop? Kau masih disitu? Kevin melanjutkan telefonnya.

“ne.. ah, lebih baik kau minta maaf dan memberinya bunga saja.” Kata Kisseop.

“begitu kah? Tapi setahuku Minhyo bukan tipe gadis yang seperti itu.” Balas Kevin.

“jinja.. eung, kau berikan saja di coklat. Atau makanan kesukaannya.” Kata Kisseop.

“benar juga.. tapi apa masih ada toko yang buka?” jawab Kevin lagi.

“aigo.. Kevin Woo.. kita berada di Paris sekarang.” Teriak Kisseop frustasi.

“ha? Kita? Apa kau juga ada di Paris?” Kevin mulai curiga.

“an.. anni.. maksudku kau.. euh, Kevin Harin memanggil ku. Sudah dulu ya.”  Kisseop menutup telfonnya.

“Ya!! Kau ini.. hampir saja Kevin mengetahui keberadaan kita.” Kata Kibum frustasi.

“ne.. mian, habis Kevin tidak berfikir sama sekali. Kita ada di Paris. Ini kota pariwisata. Pasti ada supermarket 24 jam. Aku frustasi.” Kisseop membela diri.

“dasar kau.” Harin mencubit pinggang Kisseop.

“appo…” kata Kisseop dengan aegyonya.

“tidak mempan.. sudah lah, jadi kita harus fikirkan apa yang harus kita lakukan agar mereka berdua berbaikan.” Kata Harin sambil menjauhkan Kisseop dari jangkauannya.

“ne.. apa yang harus kita lakukan….” kata Seungra.

“ah, bagaimana jika kita mengadakan dinner di salah satu restaurant dekat situ.” Young rin akhirnya mengeluarkan suaranya.

“ne.. itu benar.. aigo.. nae anae neomu yeoppo.” Kata Kibum sambil mencubit pipi Youngrin.

“tapi, bagaimana kita mengontact mereka? Tidak mungkin kita yang memberi tahu Kevin atau Minhyo kan??” kata Sungyoung.

“bagaimana kalau kita perintahkan Kevin saja?” kata Dongho.

“ah… Uri Dongho.. “ teriak mereka bersama.

“Kisseop, Ppali beri tahu Kevin!” perintah AJ.

“Ne!!!” Kisseop segera menghubungi Kevin. “Kevin, kenapa tidak kau ajak Minhyo dinner saja?” kata Kisseop penuh semangat.

“ne.. tapi makan dimana??” Kata Kevin lagi.

“haaah..” Kisseop menghela nafasnya. “kenapa kau tidak mengajaknya makan restaurant pasta depan hotel mu? Di situ sangat enak Kevin..” kata Kisseop lagi.

“bagaimana kau tahu kalau di depan hotel kami ada restaurant pasta? Dan darimana kau tahu kalau rasanya enak. Kau ada di Paris kan?” tanya Kevin lagi dengan nada penuh curiga.

“eung.. itu aku.. aku tahu dari.. dari internet.. ya dari internet. Sekarang ini zaman sudah canggih.” Terang Kisseop gugup.

“tapi aku tidak yakin itu rasanya enak.” Kata Kevin berusaha memancing Kisseop.

“aaaa… Kevin, aku sudah mencicipinya begitu kami sampai di Paris. Kau ini.. Argh!!!!” Kisseop berteriak frustasi. “omo…” Kisseop segera sadar akan ucapannya dan langsung menutup mulut dan merasa hawa dingin di sekitarnya, karena ada 13 pasang mata yang menatapnya seakan-akan ingin menelan hidup-hidup dirinya.

“Kisseop.. kau ada dimana ha? Ppali jawab yang jujur!!” teriak Kevin dari seberang sana.

“ani.. maksud ku saat aku ke Paris.” Jawab Kisseop berusaha mengelabui Kevin

“kapan kau ke Paris? Kau dimana? Apa kau ada di kamar sebelah?” kata Kevin lagi.

“anni.. waktu itu.. tidak aku tidak di kamar sebelah mu.. oke? Sudah dulu ya.. bye!!” Kisseop segera manutup telfonnya.

#Kevin Place

“pasti mereka ada di negara ini. Aku yakin.. baiklah besok aku akan mencari mereka. Sekarang fikirkan bagaimana cara meminta maaf pada Minhyo. Aigo..” Kevin mengacak rambutnya.

Pintu kamar mandi terbuka, Minhyo telah keluar dan sedang mengeringkan rambut dengan handuknya. “Ppabo. Apayang kau lakukan? Kangen dengan Minjung kah?” Tanya Minhyo ketus. Minhyo menaruh handuknya dan berjalan ke tempat tidur. Ia membungkus dirinya dengan selimut.

“anni.. Minhyo.. mianhe ne..” kata Kevin lagi. Kevin pun berjalan ke tempat tidur dan duduk di pinggirannya. “Minhyo.. chagia..” Kata Kevin lagi. Tapi Minhyo tidak menjawabnya.

“aku tahu kau belum tidur.” Kevin tiduran di sebelah Minhyo dan mengalungkan tangannya di pinggang Minhyo. Minhyo melepas tangan Kevin dan menendangnya dari tempat tidur hingga terjatuh. “appo..” kata Kevin lagi.

“tidak ada peluk-peluk malam ini.” Minhyo menaruh guling di tengah. “Kalau kau ingin tidur di tempat tidur, kau tidur di sisi sana.” Minhyo kembali menaruh kepalanya dibantal dan menutup matanya.

“minhyo.. mianhe.. saranghae..” kata Kevin ia bangun dan mengganti bajunya lalu ia pergi tidur di sebelah Minhyo (tepatnya guling).

 

***

Minhyo membuka matanya dan menyessuaikan dengan cahaya yang masuk melalui jendela. Semilir angin begitu terasa karena pintu balkon terbuka. Ia melihat kesebelahnya, Kevin sudah tidak ada di kamarnya. “Pasti Kevin sudah bangun duluan.” Minhyo bangun dan berjalan ke kamar mandi, ia membersihkan mukanya dan menyikat giginya. Ia melihat sebuah note di cermin di kaamar mandi.

Ia mengambilnya dan membacanya.

 

 

Minhyo…

Mianhe.. Jeongmal…

Bukan maksudku untuk mengacuhkanmu

Tapi ini adalah tuntutan profesi kami…

Kami harus memperdulikan fans…

Aku tunggu kau jam 06.00 malam di restaurant depan hotel kita..

 

Saranghae…

Suami tertampanmu..

 

(^v^)//

Woo Sunghyun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Dasar.. kau itu bukannya Tampan.. kau itu cantik.” Minhyo terkekeh membacanya. Sebenarnya ia sudah memaafkan Kevin. Ia pun mengerti kalau itu adalah tuntutan profesinya sebagai seorang Idola. Minhyo hanya merasa sedikit risih saja dengan sikap Minjung yang berlebihan.

“apa yang harus ku lakukan.. Kevin sudah keluar duluan..” Minhyo pun melanjutkan aktifitasnya.

 

#Kevin Place

“aku harus menemukan mereka dan meminta bantuan mereka..” kata Kevin yang sedang berjalan di sekitar hotel. “Ku lacak mereka saja dengan GPS” Kevin pun menghubungi Kisseop dan berusaha melacak keberadaan Kisseop dengan GPSnya.

“Yobseyo.. Kisseop.. berikan petunjuk apa yang harus aku lakukan.” Kata Kevin langsung.

“…”

“Ne..”

“…”

“Nee..”

“…”

“Arraseo..”

“…”

“Baiklah.. “ Kevin memutuskan sambungannya. “I got you guys.” Kevin pun segera berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh GPS nya.

“Mwo? Ternyata mereka memang ada di hotel ini. Dasar kalian..” Kevin pun berjalan lagi.

“Lantai 9? Itu kan ruangan ku.” Gumamya.

“901, 903, 905, 907, ini dia.. mereka ada di 907..” Kevin melihat kamar di sebelahnya. “909. Ini ruangan ku. Dasar mereka. Jangan-jangan mereka menguping apa yang aku dan Minhyo lakukan.” Kevin menggedor pintu kamar itu.

“Layanan Kamar…” katanya.

#Kisseop side

“hah,,, ada-ada saja Kevin.” Aku pun melanjutkan tidur ku dan memeluk Harin lagi.

“nugu??” Tanya Harin.

“Kevin..” aku kembali memejamkan mataku hingga suara bel yang di susul ketukkan di pintu kamar ku.

“Kisseop, buka itu.” Kata Harin.

“ne..” aku berjalan ke pintu dan membukanya.

“nuguseyo???” kata ku

“layanan kamar.” Kata orang diluar aku membuka pintunya.

“annyeong.” Kata orang itu. Betapa kagetnya saat ku buka pintu Kevin sudah berada di depan pintu dengan angelic smilenya.

“eh.. annyeong.” Aku menutup pintu tapi Kevin menghalanginya. Ia menerobos masuk kekamar ku.

“mana yang lainnya? Kau harus membantuku. Dan apa yang kalian lakukan disini.” Kata Kevin tanpa henti.

“eh.. itu..”

TING TONG bel berbunyi. Harin membuka pintunya.

“Kisseop kkaja.” Ternyata itu Hoon. “eh.. Kevin….” Hoon terlihat kaget, Kevin segera menariknya masuk.

“Hoonim hyung, panngil yang lain kemari.. Jebal..” kata Kevin.

Hoomin hyung yang tak tahan dengan aegyo Kevin pun memanggil yang lain untuk naik kekamar kami.

“yeobseo..” kata Hoomin hyung. “Ya.. Ppali kekamar Kisseop, Kevin sudah mengetahui keberadaan kita.” Katanya. “anni.. Minhyo belum tahu.. ne.. Ppali kemari.” Katanya menutup telfonnya. “semuanya akan kemari.” Kata Hoomin hyung.

Tak begitu lama bel pintu berbunyi, aku pun mempersilahkan mereka semua masuk. Yah beruntung aku memeasan kamar yang kelasnya sama dengan Kevin, jadi lebih luas dan mereka semua muat berada di ruangan ini.

“Jadi, sejak kapan kalian berada di sini?” kata Kevin memulai pembicaraan.

“Kami dating bersamaan dengan mu, hanya beda kelas pesawat saja.” Jawab Jaesop.

“oh.. lalu apa yang kalian lakukan? Ini sih judulnya bukan HONEY MOON. Tapi Ukiss’s Vacation.” Kata Kevin yang terkesan ngambek.

“ne.. Mian Kevin.. kami hanya ingin mengetahui apa yang akan kalian lakukan.. itu saja.” Kata Eli.

“ne.. tidak ada maksud tertentu kok..” Tambahku.

“hah.. kalian harus membantuku, Minhyo sedang marah padaku, aku mengikuti saran Kisseop untuk mengajaknya dinner, aku sudah memesan tempatnya. Hanya saja aku bingung apa yang harus ku lakukan.” Kata Kevin.

“memangnya kenapa Minhyo bias marah sih? Minhyo itu tidak mudah untuk marah. Pasti sesuatu telah terjadi.” Kata Yeong rin.

“ne.. jadi….” Kevin pun menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Kami mendengarkannya dengan seksama hingga selesai. Tapi Kevin tidak menjelaskan cerita mengenai preman pada kami.

“jadi Minhyo marah karena itu, pantas saja.. kau terlalu berlebihan pada Minjung sih.” Kata harin.

“ne.. aku setuju. Mungkin dari sisimu itu biasa saja karena kau terbiasa dengan hal ini dan kalian berasal dari kalangan artis, tapi bagi kami yang bukan dari kalangan artis itu terkadang menyakitkan. Terlebih kau berlaku seperti itu disaat kalian sedang berbulan madu.” Kata Sungyoung.

Kata-kata Sungyoung membuatku, Kevin, Eli, Seohyun, Kibum dan Jaesop tersadar dan merenung.

“eung.. Maafkan kami jika tingkah laku kami terkadang berlebihan, tapi ini adalah profesi kami.” Kata Seohyun.

“Kami juga mengerti, tapi mungkin terkadang kami yang egois..” Kata Sungyoung lagi.

“ne.. Mianhamnida..” kata Ku, Eli, Jaesop dan Kibum.

“Aish.. baiklah aku sadar.. sekarang bagaimana cara meminta maaf pada Minhyo..” Kta Kevin.

“Entah mengapa aku merasa Minhyo sudah memafkan mu Kev.” Kata Alexander.

“Ne? Kau tahu dari mana hyung?” kata Kevin

“Kau tahu sendirikan, kalau Minhyo marah itu tidak akan bertahan lama. Ia tipikal orang yang mudah untuk memaafkan. Ia akan berfikir siapa yang salah, apa dia atau orang lain yang salah. Dan ia akan menganggap itu berlalu jika orang yang bersangkutan tidak menambah masalahnya.” Jelas Alexander.

“ia juga hyung.. semoga Minhyo tidak marah lagi padaku.” Kata Kevin menenggelamka wajahnya di kedua telapak tangannya.

“So.. apa raencana kita.” Kata Eli.

“baiklah.. bagaimana kalau…” Dongho pun menuangkan idenya.

***

#author side

“Baiklah.. Aku akan mencari bunga bersama Kevin.” Kata Eli.

“Aku ikut..” Kata Kisseop dan AJ

“Ne.. Kami yang menghubungi restaurant dan memesan menunya.” Kata Yeon rin yang di sambut anggukan oleh Seungmi, Sungyong, Seungra dan Harin.

“Baiklah.. Aza-aza!!!” Teriak mereka. Mereka pun keluar satu persatu dari kamar Kisseop.

Kevin , Eli , Kisseop dan AJ mencari hadiah.

Dongho, Seohyun dan Hoon menyusun kata-kata untuk permintaan maaf.

Kibum dan Xander mengantar Seungmi, Yeon rin, Sung young serta Harin ke restaurant untuk mengatur menu yang akan mereka pesan.

“Hadiah apa yang harus kita cari” kata Kevin.

“Parfume otte??” Kata Kisseop.

“Kurang special.” Jawab Kevin.

“Tas.” Kata Eli. “Seungmi suka tas.” Kata Eli lagi.

“Ini untuk Minhyo.” Kata Kevin.

“Pakaian?” Kata AJ.

“Minhyo tidak mempunya ciri khas berpakaian yang spesifik.” Kata Kevin.

Mereka pun memikirkan apa yang harus mereka berikan.

“B U N G A..!!” Kata mereka serempak.

“Tapi…” Kevin ingin menyanggahnya,

“Meski Minhyo tidak begitu menyukai bunga, tapi pasti ia akan menyukainya.” Kata mereka bertiga memotong pemicaraan Kevin. Kevin akhirnya setuju. Mereka pun segera mencari toko bunga..

“Eung.. Warna apa?” Kata AJ.

“Merah, itu melambangkan cinta.” Kata Kisseop. Ia menarik 2 tangkai bunga merah.

“Lalu biru melambangkan kejujuran akan suatu hal.” kata Kevin mengambil 3 tangkai.

“Merah muda melambangkan kelembutan.” Kata AJ mengambil 2 tangkai.

“Dan putih melambangkan kesucian.” Kata Eli.

“Merahnya kurang sepertinya.” Kisseop mengambil 2 tangkai lagi.

Mereka membawanya ke kasir untuk dibayar sekaligus di rangkai.

“Tenang Kev, Minhyo pasti menyukainya.” Kata AJ sambil menepuk pundak Kevin. Setelah selesai mereka pun keluar dari took bunga itu.

“Apa bunga saja cukup. Kurasa ini masih kurang.” Kata Kevin.

“So, kita akan mencari apa lagi??” Tanya Kisseop.

“Eung.. bantu aku.” Kata Kevin.

“Kami sedang membantu mu Kevin Woo.” Kata mereka bertiga.

“Ne… Maksudku melakukan hal yang lain lagi.” Kata Kevin.

“Apa???” Kata mereka.

“Bantu aku untuk membuat Video permintaan maaf padaa Minhyo.” Kata Kevin menuangkan ide spontannya.

“Ne? Apa bisa? Waktu kita terbatas. Sekarang sudah jam 01.00 PM ini kurang dari ½ hari, kau juga harus bersiap-siap Kevin.” Kata Kisseop.

“Aku yakin bisa.” Kata Kevin. Kevin mengeluarkan Handycam nya dan menyipakan kata-kata.

“KYAAAAAA!!! THAT’S U-KISS RIGHT???” Terdengar suara teriakkan histeris di belakang mereka. Tiba-tiba segerombolan gadis segera berhamburan untung mengelilingi mereka.

“Gawat, mereka mengenali kita.” Kata Eli panic.

“Otte???” AJ segera menutupi wajahnya. “Apa kau masih ingin melanjutkan pembuatan Video itu Kevin Woo?” Lanjut AJ.

“ANI.” Kevin berlari di susul ketiga orang dibelakangnya yang di ikuti dengan segerombolan gadis yang mengerubungi mereka.

“OTTE?????” Teriak Kisseop panic.

“ANNIO” Teriak AJ.

Mereka masih berusaha berlari dari gerombolan gadis-gadis itu. Merasa lelah Kisseop dan AJ akhirnya memilih untuk berhenti. Tak jauh di depan mereka, Eli dan Kevin pun turut berhenti karena sudah merasa lelah. Hal ini membuat mereka harus melayani para fangirl tersebut. Setelah bersalaman dan member tanda tangan serta memberikan foto yang secara cuma-Cuma mereka di minta untuk menyanyikan satu lagu. Dengan ½ hati mereka menurutinya. Mereka pun menyanyikan satu buah lagu dari mereka. Kira-kira hal ini menghabiskan waktu sekitar 2 jam lamanya.

“tidak.. sekarang sudah jam 03.00 PM. Otte..”Kevin pasrah dan duduk di pinngir jalan.

“Masih ada waktu 3 jam menuju jam 06.00 PM Kev. Semangat!!” Eli menyemangati Kevin.

“Ne.. tapi perjalanan dari sini ke Champ Ellyses membutuhkan waktu 1 jam.” Kata Kevin pasrah.

“Itu masih lebih dari cukup. Sekarang kkaja kita mencari hadiah lagi untuk Minhyo.” Kata Kisseop. Mereka pun melanjutkan perjalanan mencari hadiah

Mereka pun kembali mengelilingi pertokoan yang ada. Mulai dari took ts, pakaian hingga perhiasan. Kevin masih belum menemukan sesuatu yang menurutnya cocok untuk Minhyo. Entah mereka sadari atau tidak tapi ini sudah 1 jam lamanya mereka hanya berkeliling.

“Aigo.. sekarang sudah jam 04.00 otte??? Kita hanya membuang waktu saja.” Kata Kevin.

“Molla..” Kisseop menghela nafasnya. Kevin masih melihat-lihat took sekitarnya hingga ia menemukan sebuah cincin berwarna tembaga yang berbentuk seperti tengkorak manusia. Menurutnya itu cocok untuk dipakai oleh Minhyo karena modelnya tidak terlalu feminism, sederhana tapi tidak terlalu simple.

“Aku kesana dulu.. Sebentar saja.” Kevin meninggalkan Kisseop, AJ dan Eli di tempat mereka beristirahat. Ia segera membeli cincin itu. Setelah selesai membelinya, mereka segera bergegas mencari Taxi untuk pergi dari tempat itu. Waktu yang mereka punya kini kurang dari 2 jam.

“Kita naik Taxi saja.” Kevin segera menghentikkan Taxinya dan segera berjalan menuju Champ Ellyses.

Bokura ni wa kasanette kita

Suteki na omoide mo aru keredo

“Yeobseo..” Ponsel Kisseop berdering. “Ne.. kami sedang di jalan kembali menuju Champ Ellyses. Bagaimana keadaan disana?” tanya Kisseop.

“Ne.. arraseo, mungkin satu jam lagi kami akan sampai di restaurant. Kau sudah menyiapkan pakian yang akan dipakai oleh Kevin kan?” tanya nya lagi. “Ne.. ne.. anyeong.” Kisseop mengakhiri telefonnya.

“Wae?” tanya mereka.

“Hanya sekedar pemberitahuan.” Mereka mengerti dan kembali memperhatikan jalanan. Namun saat nelihat kedepan, terjadi antrian yang begitu panjang. Entah apa penyebabnya.

“What happens sir?” tanya AJ.

“I don’t know too.. I’ll ask the other driver what happens on this way.” Supir itu pun menayakan apa yang terjadi pada mobil yang melaju ke arah sebaliknya.

“Why sir?” tanya Kevin.

“He said that an accident was Happend. So, we must wait for a while maybe.” Kata Supir itu.

“Aish jinja.. otteyo??” Kevin frustasi dan menyenderkan badannya ke bangku penumpang.

“Semoga ini tidak lama.” Kata Eli.

“Ne..”

~~~ 1JAM BERLALU~~~

“AAH!! Jinja.. ini sudah satu jam… dan sepertinya ini masih jauh..!” Kevin mengacak rambutnya frustasi. “handphone ku mati pula.. otteeee…” Kini Kevin menjedot-jedotkan kepalanya ke kaca yang ada di sebelahnya.

Bokura ni wa kasanette kita

Suteki na omoide mo aru keredo

Ponsel Kisseop kembali berdering.

“Yobseo.. Wae Harin??” tanya Kisseop langsung.

“MWO?? MINHYO SUDAH TIBA DI RESTAURANT??” Kisseop kaget. Kevin pun semakin panik.

“TAPI INI BELUM JAM 06.00 PM. Aigo…!!” Kevin semakin menghantam kepalanya kepada jendela taxi tersebut.

#MinhyoPlace

Minhyo sengaja datang setengah jam lebih awal dari biasanya. Ia hanya tidak ingin terlambat dan membuat Kevin kecewa.

“Mungkin aku terlalu cepat. Haa.. semoga Kevin tidak terlalu lama.” Ucap Minhyo. Minhyo berfikir untuk berkekliling di tempat itu untuk berberapa lama. Ia menikmati pemandangan yang ada di sana. Tak terasa sudah setengah jam berlalu, ia pun memasuki restaurant itu. Saat masuk ia langsung di sambut oleh pelayan yang ada disut.

“Are you Mrs. Minhyo?” tanya pelayan itu.

“Yes I am.” Jawab Minhyo, pelayan itu pun mempersilahkan Minhyo masuk dan pelayan itu menuntunnya menuju meja yang sudah di pesan oleh Kevin tanpa sepengeetahuan Minhyo tentunya.

“Thankyou.” Minhyo pun duduk. Tak beberapa lama para pelayan datang dan memberikan makanan yang sudah di pesan oleh Sungmi dan yang lainnya. Pelayan itu pun menuangkan anggur ke gelas Minhyo. Setelah selesai mereka pergi.

“KenapaKevin belum tiba?” Tanya Mnhyo pada dirinya sendiiri. Minhyo memutuskan untuk menelfon Kevin, tapi ponselnya tidak aktif. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu Kevin.

 

Sudah satu setengah jam Minhyo menunggu, namun Kevin belum tiba juga. Minhhyo tidak mmemakan makanannya, karena ia ingin menunggu Kevin

“Kevin.. Kau dimana…” Minhyo masuh berusaha untuk sabar.

“Sorry, are you Korean?” Tanya seorang pria berkulit putih dan memiliki wajah Asia yang cukup kental.

“Yes I am. Are you Korean too?” Tanya Minhyo hanya sekedar berbasa-basi.

“Yes. Bolehkah aku duduk disini?” Pria itu pun berbicara dalam bahasa Korea.

“eung.. Te.. Tentu saja.” Kata Minhyo mempersilahkan.

“Apa kau sedang menunggu seseorang.” Tanya pria itu.

“Ne..” jawab Minhyo. Sejujurnya Minhyo mereasa kurang nyaman dengan kehadiran pria itu, namun tidak mungkin kan ia berdiri dan pergi begitu saja. Toh ia juga sedang menunggu Kevin

“Jung Haewon imnida.” Katanya memperkenalkkan diri.

“Park Minhyo imnida.” Ia menjawab namanya. Tetapi ia masih memakai marganya, bukan marga Kevin

“Apa kau sedang menunggu seseorang?” Tanya pria bernama Haewon itu.

“Ne..” Jawab Minhyo singkat. “Eung, Haewon-ssi, aku oergi ke kamar mandi dahulu sbentar ya.” Minhyo pun berdiri dan meninggalkan Haewon.

 

~~~~                           ~~~~                           ~~~~

Kini sudah dua jam lamanya Minhyo menunngu Kevin, Minhyo menghubungi nomor Kevin, tapi ponselnya tidak aktif. Minhyo meminum satu teguk anggur lagi, hidangan yang sudah tersedia di depannya tidak menarik minatnya untuk menyantap mereka. Minhyo pun berakhir dengan mengobrol bersama pria asing yang mengaku berasal dari Seoul dan bernama Hewon. Entah apa yang mereka bicarakan.

“Kevin woo. Jika setengah jam lagi kau tidak datang, aku akan pergi dari tempat ini.” Ucapnya dalam hati. Ia pun melanjutkan berbincang-bincang dengan pria bernama Haewon itu.

AKHIRNYA SETENGAH JAM ITU PUN BERLALU. Minhyo bahkan sudah menambahkan waktu LIMA BELAS MENIT.

“Eung, Haewon-ssi, sepertinya kau harus kembali kepenginapan ku, mungkin orang yangku tunggu itu tidak datang.” Kata Minhyo kecewa.

“Begitukah? Baiklah aku akan mengantarmu kalau begitu.” Kata Haewon berdiri.

“Ah, ttidak usah. Penginapan ku dekat dari sini kok.” Kata Minhyo berdiri juga.

“Tak apa. Tidak baik wanita berjalan sendirian di malam hari. Meskipun ini masih sangat ramai. Lebih baik kita mengantisipasinyakkan.” Kata Haewon lagi. Minhyo hanya bisa pasrah, ia pun menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kasir untuk membayar makanan yang telah di pilih oleh Kevin dan tidak ia makan.

“haewon-ssi, terimakasih karena sudah mau menemaniku mengobrol selama dua jam tanpa henti.” Kata Minhyo.

“Sama-sama. Aku juga ingin berterimakasih, karena kau mau menceritakan bagaimana keadaan Seoul sekarang. Setidaknya aku sudah bisa membayangkan kampung halaman ku seperti apa sekarang.” Katanya. Minhyo terkekeh.

“Kau mau kembang gula Minhyo?” Tanya Hewon.

“Ah, tidak usah.” Kata Minhyo menolaknya.

“Tak apa. Lagipula dekat. Dan jika kita memakan sesuatu yang manis itu pasti dapat meredakan emosi kita. Kau tunggu disini dulu ya.” Kata Haewon yang pergi menuju sudut taman. Mereka memang berjalan melewati taman. Minhyo ingi ketaman dan kebetulan Haewon mengetahui taman yang indah yang berada dekat dengan penginapannya.

“Kevin woo.. kau benar-benar menyebalkan.” Minhyo pun duduk di bangku yang berada di dekat situ. Tak begitu lama haewon datang membawa dua kembang gula berwarna biru muda yang terlihat sangat manis.

“Gomawo. Kenapa kau membeli berwarna biru keduanya?” tanya Minhyo.

“aku merasa aku menyukai warna biru. Itu saja.” Kata Haewon yang memakan kembang gulanya.“Kkaja.. hotel mu sudah dekat.” Kata Haewon.

“Sebenarnya dari restaurant itu juga sudah dekan Haewon-ssi.” Kata Minhyo lagi. Mereka pun kembali berjalan hingga sampailah mereka di hotel yang Minhyo tempati.

“Terimakasih Haewon-ssi sudah mengantarku.” Kata Minhyo.

“Ya, sama-sama. Baiklah aku pulang dulu ya.” Kata Haewon.

“Ne.. Josimhae..” Kata Minhyo.

“Ne..” kata Haewon. Tapi ia tidak berbalik juga.

“Katanya kau ingin pulang?” tanya Minhyo.

“Kau dulu masuk kedalam hotel, baruakau akan berbalik pergi.” Kata Hewon.

“Mwo?? Oh.. baiklah.. sampai jumpa Haewon-ssi…” Minhyo pun melangkahkan kakinya masuk menuju lobby hotel. Dan ia melihat Hewon pun berbaik pergi. ‘Pria yang baik’ itu yang ada difikirannya.

***

Kevin tergesa-gesa berlalri menuju rastaurant itu. Ia sangat mgnutuk kemacetan yang menimpa dirinya. Ia tidak terlalu berharap Minhyo  masih menunggu di tempat itu. Bagaimana bisa Minhyo menunggu selama nyaris tiga jam dari waktu yang di janjikan. Tapi boleh kah ia sedikit berharap?

“Kevin!!” ia mendengar seorang wanita memanggil namanya.
“Seungra? Otte? Dimana Minhyo?” tanya Kevin saat melihat Seungra dan yang lain sudah duduk di meja yang di pesannya untuk bersama Minhyo.

Mereka menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Kevin.

“Minhyo sudah pulang duluan hyung.” Kata Dongho.

“Benarkah?” Kevin punterduduk dibangku.

“Ne.. dan tadi kami melihat ia oergi bersa—mmnvjdh..” Sungyoung tidak bisa berbicara karena mulutnya di bekap oleh Seohyun.

“Wae?” tanya Kevin. Mereka diam. “Wae???” Kevin mulai berteriak.

“hhah.. ia pergi bersama seorang pria. Pria asia lebih tepatnya. Mungkin itu kenalannya.” Kata Hoon.

“Begitukah?” Kevin pun berjalan keluar dari restaurant itu dan kembali menuju hotelnya.

Sesampainya di kamar hotel, Kevin melihat Minhyo sudah tertidur di tempat tidur. Ia menghampiri Minhyo dan mencium keningnya.

“Mian.. aku tidak bermaksud membuat mu menunggu selama hampir 2 jam. Tapi tadi terjadi kecelakaan.” Kata Kevin sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Minhyo.

“jika aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan mengadakan pertemuan hari ini. Mian Minhyo.” Kevin pun naik ketempat tidur dan menarik Minhyo ke dalam pelukannya. Ia pun tertidur, menyusul Minhyo.

 

 

#Morning…

Minhyo tidak melihat Kevin di tempat tidur sebelahnya. Tapi ia mendengar suara air di kamar mandi. Itu pasti Kevin yang sedang mandi. Minhyo mereasa sangat kesal dengan Kevin karena sudah membuatnya menunngu selama berjam-jam di restaurant. Minhyo menyenderkan badannya di kepala tempat tidur. Tak begitu kama Kevin keluar.

“kau sudah bangun?” katanya.

“….” Minhyo hanya mengangguk dan memutar kepalanya ke arah jendela.

“Kau mau ikut tidak? Kita jalan-jalan bersama.. bagaimana?”  Tanya Kevin yang duduk di sebelah Minhyo. Minhyo hanya menggeleng dan ia melangkah menuju balkon.

“Minhyo, mianhe…” kata Kevin. Minhyo masih tidak menjawab pernyataan Kevin. Ia lebih memilih diam menikamati pemandangan Paris di pagi hari.

“Minhyo.,,…” kata Kevin lagi tanpa bosan.

“Ne.. aku sudah memaafkan mu Kev.” Kata Minhyo.

“Benarkah? Gomaawo.” Kevin berjalan kearah Minhyo dan memeluk pinggang nya. Minhyo melepas pelukkan Kevin dan pergi menuju kamar mandi.

“Kalau kau mau pergi, ka ubisa pergi sendirikan?” kata Minhyo sebelum ia menutup pintu kamar mandi.

Kevin yang merasa Minhyo masih belum memaafkannya hanya bisa pasrah. Ia pun berjalan ke luar kamar, dan menuju kamar Eli dan Seungmi.

Setelah Minhyo selesai mandi ia tidak melihat Kevin ada di ruangan itu. Iapun memutuskan untuk sarapan di lantai bawah. Minhyo berjalan sediri. Sesampainya disana ia langsung mengambil menu yang telah ada di sana.

Saat ia duduk ada seorang pria yang memakai jaket berwana hitam bertubuh tinggi dan tegap duduk di depannya. Pria itu melepas kacamata hitam yang dipakainya.

“Haewon-ssi. Apa yang kau lakukan disisni?” tanya Minhyo.

“Apa aku belum bercerita kalau apartement ku juga berada di wilayah ini dan aku bisa sarapan disini?” kata haewon. Minhyo hanya menggelengkan kepalanya. Ia lalu melanjutkna sarapannya.

“Kau mau berjalan-jalan tidak?” tanya Haewon.

“anni.” Kata minhyo.

“Baiklah, setelah kau sarapan kita akan ke Place de la Condore, itu adalah alun-alun terluas di negara ini. Lalu aku akan membawa mu ke Musee du Louvre, itu merupakan salah satu museum seni terluas di dunia. Hebat bukan? Setelah itu kita akan ke Notre dame de Paris, kau tidak boleh melupakan tempat itu tentunya. Lalu aku akan membawamu ke sebuah taman yang sangat idah, lebih indah dari yang kita lewati kemarin. Iitu namanya Parc de Sceaux tempat itu sangat menarik. Kita juga harus ke Istana Versailles.” Kata Haewon menerangkan dengans semangat tempat apa yang akan mereka kunjungi entah untuk berapa lama. Mengingat banyak tempat yanng di sebutkna olehnya.

“tapi…” Minhyo mencoba menolak.

“tidak ada kata TAPI.” Kata Haewon lalu menarik Minhyo pergi.

“Ya!! Aku bahkan belum menyelesaikan sarapan ku.” Kata Minhyo.

“Untuk apa sarapam disini? Lebih baik mencoba sesuatu yang baru di luar sana.” Kata Haewon.

“Aku belum membawa ponsel.” Kata Minhyo lagi berusaha melepaskan tangannya.

“Tenang saja.” Kata Haewon.

“Aku tidak memakai mantel.” Kata Minhyo lagi.

“Di mobil ku ada mantel ku yang sudah kecil, kau bisa memakainya, jadi tidak ada alasan lagi.. Kita berangkat.” Kata Hewon, Minhyo hanya bisa pasrah sat Haewon mendorongnya ke dalam mobil Haewon.

“Baiklah. Kau pasti sudah ke Eiffel kan?” kata Haewon. Minhyo menggelengkan kepalanya.

“Mwo? Kau belum? Apa yang kau lakukan saja di sini?” tanya Haewon lagi. Minhyo hanya membuang tatapaannya menuju jendela.

“baiklah… tujuan pertama kita adalah Eiffel.” Kata Haewon.

 

~~~                 ~~~                 ~~~                 ~~~                 ~~~                 ~~~

Tanpa terasa sudah dari pagi hingga hampir malam mereka mengelilingi tempat wisata yang telah di sebutkan oleh Haewon. Meski baru 3 tempat, tapi ketiga tempat itu memakan waktu yang lumayan lama. Haewon membelikan Minhyo beberapa cindera mata dari setiap tempat yang mereka kunjungi. Dan Haewon memberi Minhyo makan tentunya.

“Baiklah, karena sudah tidak memungkinkan, kita kembai saja ok?” kata Haewon. Minhyo menganggukkan kepalanya.

“Gomawo Haewon-ssi..” Kata Minhyo.

“Ne.. eoh, panggil aku Haewon saja. Tidak pakai –ssi. Lama-lama terdengar aneh.” Kata Haewon.

“Baiklah Haewon.” Kata Minhyo.

“Kau lelah? Kau tidur saja.” Kata Haewon lagi.

“anni.. aku akan menemani mu.” Kata Minhyo. Haewon menganggkat tangannya dan meututp mata Minhyo.

“kau pasti lelah kan? Tidak usah memaksakkan diri.” Kata Haewon. Minhyo melepas tangan Haewon.

“N..ne baiklah.” Minhyo menghadap jendela dan menutup matanya, berarap wajah memerahnya tidak terliaht oleh Haewon. Minhyo pun menutup matanya. Awalanya ia berniat berpura-pura tidur. Tapi yang terjadi ia malah tertidur. Haewon yang melihatnya hanya tersenyum, ia menepikan mobilnya dan diam-diam mengambil foto Minhyo yang sedang tertidur.

“Apa aku menyukai gadis ini?” Katanya pada hatinya sendiri. Ia kembali memajukan mobilnya.

Setelah melewati perjalanan yang panjang akhirnya mereka sampai di hotel tempat Minhyo menginap.

“Gomawo Haewon kau sudah menemani ku berjalan-jalan.” Kata Minhyo.

“Ne.. Maaf karena pagi ini menculik mu tiba-tiba.” Kata Haewon, Minhyo tertawa.

“Ne.. kau ini..” Minhyo melepas sabuk pengamannya.

“Eung, masih ada dua tempat yang belum kita kunjungi, besok aku aku akan menculik mu lagi sepertinya.” Kata Haewon yang dilanjutkan dengan cengirannya.

“Benarkah? Baiklah. Itu bukan menculik namanya kalau kau memberitahu kepada korban mu sehari sebelumnya.” Kata Minhyo. “Baiklah, aku turn dulu. Terimakasih untuk hari ini Haewon..” Kata Minhyo, Minhyo pun turun dari mobil Haewon dan Haewon melajukan mobilnya keluar dari area hotel itu.

“Baiklah. Apa yang harus ku katakan pada Kevin.” Kata Minhyo. “Tunggu, apa ia akan perduli pada ku? Sepertinya tidak.” Minhyo pun masuk ke lobby hotel. Saat di lobby ia melihat seorang wanita yang seperti “Yeon rin? Ah, tidak mungkin ia berada disini.. Aku pasti kelelahan.” Kata Minhyo. Minhyo pun masuk ke lift dan menuju kamarnya

TING TONG

Minhyo menekan bel pintu, berharap Kevin memukanya. Memang tak begitu lama pintu terbuka.

“Minhyo? Kau kemana saja? Aku panik mencari mu.” Kata Kevin yang segera menarik Minhyo masuk.

“Oh, ternyata kau peduli pada ku.” Kata Minhyo yang segera masuk ke kamar mereka.

“Apa maksudmu, tentu saja aku perduli.” Kata Kevin lagi.

“Lalu apa kau peduli aku menunggu selama hampir dua jam lebih? Itu sangat menyebalkan Kevin. Kau bilang ingin meminta maaf, tapi kenapa kau tidak hadir juga.” Kata Minhyo.

“Minhyo mian, aku tidak bermaksud membuat mu menunggu. Terjadi kemacetan disana. Terjadi kecelakaan.” Kata Kevin sambil memeluk Minhyo

“Kau bohong, kau tahu? Aku seperti orang bodoh, aku mengobrol dengan orang asing. Entah dia siapa.. Tapi dia lebih perduli pada ku. Setidaknya kau memberi ku kabar agar aku tidak usah mengunggu mu.” Minhyo melepas pelukan Kevin.

“Minhyo.. Dengarkan aku..” kata Kevin.

“Mwo? Lebih baik kau bersama dengan fans mu itu Kevin.” Kata Minhyo.

“Aku tidak ada apa-apa. Hubungan kami hanya sebatas fans dengan idolanya.” Kata Kevin lagi.

“IA BAIKLAH, AKU PERCAYA. Aku percaya. Tapi perlakuan mu berlebihan Kevin.” Minhyo pun berteriak, karena ia sudah sangat kesal dengan Kevin. Ia pun masuk ke kamar mandi dan membanting pintu. Ia menangis di sana.

“Minhyo… Mianhe…” kata Kevin di balik pintu.

***

Minhyo membuka matanya, ia merasakan ia berada di ranjang yang empuk. Seingat dia, tadi malam ia tertidur di sofa. Ia melihat kearah sofa, ternyata Kevin yang tidur di situ. Minhyo mengecheck ponselnya. Ia melihat ada sms.

Minhyo…

Kkaja.. Kita akan pergi ke Parc de Sceaux dan Istana Versailles

Ppali..

Aku tunggu kau di Lobby hotel ini

“Dari  mana ia mendapat nomor ponsel ku.” Kata Minhyo. Minhyo pun segera mandi. Sebelumnya ia memberikan selimut kepada Kevin. Setelah itu ia segera bergegas.

“Minhyo..!!!” panggil Haewon dari sofa yang berada di sana.

“Kau… Dari mana kau mendapat nomor ponselku?” tanya Minhyo.

“Heumh.. itu rahasia..” Kata Haewon, ia segera menarik Minhyo menuju mobilnya.

“Kau membawa mantel kan?” tanya Haewon lagi.

“Ne” Kata Minhyo menunjukkan mantel nya yang berwarna Hitam.

“baiklah.. kita akan Ke Parc de Sceaux dulu.” Haewon pun melajukkan mobilnya.

Tak begitu lama mereka pun sampai di tempat yang dituju, ternyata taman itu begitu indah..

 

“Indah sekali…” kata Minhyo, ia pun berlarian di padang rumput yang begitu luasnya. Diam-diam, Haewon kembali mengambil foto Minhyo.

“Haewon, kau jangan hanya bermain ponsel saja.” Teriak Minhyo.

“Minhyo.. Liat ke sini.” Teriak Haewon, Haewon mengambil foto Minhyo lagi. Entah kenapa ia tidak bosan mengambil foto gadis itu.

“Ya!! Kenapa kau mengambil fotoku???” Teriak Minhyo. Minhyo berlari menghampiri Haewon.

“Bagaimana kalau memakai yang ini.” Minhyo memberikan kameranya.

“Tadi kau mengomel saat aku mengambil fotomu, sekarang malah memerintah ku.” Kata Minhyo lagi. Minhyo hanya tertawa. Pada akhirnya Haewon pun mengambil foto Minhyo dengan kamera Minhyo.

Selama satu jam mereka berada di sana. Minhyo meminum MochachinoLatte yang di belikan oleh Haewon.

“Baiklah, kita sudah lama ada disini. Bagaimana kalau kita ke Istana Versailles sekarang?” tanya Haewon.

“Baiklah. Aku ingin ke toilet dulu ya..” Kata Minhyo lalu berdiri.

“ne..” Haewon mengantar Minhyo dan menungguinya.

“Isn’t she your girlfriend sir? She is beautiful.” Kata seorang pria.

“Not yet.” Haewon tersenyum. Minhyo keluar dari toilet.

“Ada apa dengan mantelmu?” tanya Haewon.

“Tdai tersiram air.” Kata Minhyo.

“Baiklah, kau pakai saja Mantel ku yang kemarin.” Kata Haewon sambil mengacak rambut Minhyo. Saat itu Minhyo merasa bersalah pada Kevin. Karena ia merasa sudah mengingkari janjinya. Mereka pun berjalan ke arah mobil haewon. Minhyo memutuskan untuk memberi kabar pada Kevin

 

Aku sedang bertemu denagn teman ku, ia mengajakku berpergian.

Jangan khawatir

Minhyo menutup ponselnya dan menaruhnya kedalam tas. Ia kembali menikmati pemandangan di luar mobilnya.

“Lelah kah? Tidur saja..” Kata Haewon sambil melihar kearahnya.

“Anni.. aku ingin menikmati pemandangan.” Kata Minhyo.

“oh ya, berapa lama lagi kau disini?” tanya Haewon lagi.

“Miungkin 5 hari lagi.” Kata Minhyo.

“Baiklah..” Haewon mengakhiri pembicaraannya. Keheninga melanda mobil itu.

Mereka akhirnya sampai di Istana Versailles.

 

“kalau di Perancis , namanya jadi Château de Versailles , sepertinya memiliki arti kastil versailles. Di istana inilah dinasti Raja Louis bertahta . kemegahan versailles tetap lestari dan kini menjadi salah satu objek wisata paling terkenal di Perancis . Raja Louis XIV membentuk pemerintahan monarki absolut yang berpusat di versailles. Tamannya versailles luas , indah , rapi , teratur terawat.” jelas Haewon.

“Kenapa kau tiba-tiba berubah jadi guide tour Haewon?” Kata Minhyo. Lalu tertawa.

“Kau ini menyebalkan. Pakai mantel mu yang benar. Atau kau akan sakit nantinya.” Kata haewon mengalihkan pembicaraan.

“baiklah…” Minhyo masih tertawa. Haewon menarik Minhyo untuk berkeliling.

“Indah sekali.”kata Minhyo.

“Ne.. “ Kata Haewon lagi. Haewon menarik Minhyo ke depan pintu kastil itu.

“Minhyo.” Haewon memegang kedua tanga Minhyo.

“Ne? Wae Haewon?” tanya Minhyo yang merasa tidak nyaman dengan tangannya.

“Would you be my girl friend? Je suis amore..” Kata Haewon. Minhyo yang mendengarnya kaget setengah mati. “Aku tahu kita baru mengenal kurang dari satu minggu, tapi aku merasa yakin dengan hal ini.” Kata haewon

“ehem.. haewon.. se.. sebenarnya..” Minhyo menarik nafasnya. “Sebenarnya, aku sudah.. aku sudah menikah..” Kata Minhyo akhirnya.Haewon terlihat shock. Ia diam dan melepas tangan Minhyo.

“Mian, bukan maksudku untuk membohongi mu.” Kata Minhyo menunduk.

“Gwenchana.” Haewon tersenyum miris. “lalu mengapa kau tidak bersama suami mu?” tanya Haewon.  Minhyo pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia pu meminta maaf pada Haewon. Haewon hanya tersenyum dan kembali seperti biasa.’Malang sekali hidup ku, menyukai wanita yang baru menikah’ itu yang ada di dalam hatinya sekarang.

“Baiklah, sepertinya kita harus pulang. Suami mu pasti mencarimu.” Kata Haewon. Mereka pun berjalan memasuki mobil dan segera pulang.

“Kita tetap berteman kan?” tanya Minhyo.

“Tentu saja..” Kata Haewon.

“Apa kau besok mau menemani ku mencari hadiah untuk permintaan maaf pada suami ku?” tanya Minhyo.

“Kenapa tidak?” kata Haewon.

 

***

Setelah sampai dan mengucapkan salam sampai jumpa pada Haewon minhyo segra masuk ke hotel dan menuju kamarnya bersama Kevin.

“Dari mana kau?” tanya Kevin begitu Minhyo masuk ke kamarnya.

“Aku sudah bilang, aku habis bertemu teman ku dan dia mengahakku berkeliling.” Kata Minhyo menje;askan.

“Kau tidak tahu betapa paniknya aku saat membuka mata kau tidak ada di ruangan ini?” kata Kevin melembut. “kau memakai Mantel siapa?” tanya Kevin saat melihat mantel Minhyo.

“Iini.. Ini punya temanku.” Kata Minhyo.

“Teman mu itu pria? Kay pergi dengan pria lain tanpa sepengetahuan ku?” kata kevin, suaranya terdengar menahan amarah.

“Anni.. Kau tenang saja.” Kata Minhyo melepas boots nya dan duduk di sofa.

“Woo Minhyo. Kau tidak sedang berbohongkan?” tanya Kevin

“Tidak. Aku tidak berbohong.” Kata Minhyo.

“Baiklah, aku percaya pada mu.” Kata Kevin lalu memeluk Minhyo. Minhyo membalas pelukkannya.

“Mianhe..” Kata Minhyo.

“Anni, seharusnya aku yang meminta maaf padamu, bukan aku.” Kata Kevin mencium tenguk Minhyo sekilas.

“..” Minhyo diam saja.

“Bogoshipo..” Kata Kevin.

“Na do..” Kata Minhyo. Mereka pun memutuskan untuk berjalan-jalan keluar hotel. Saat di lift mereka bertemu dengan Minjung.

“Kevin oppa.. Lama tak jumpa..” kata nya

“Ne..” kata Kevin.

“kenapa setiap bertemu, kau selalu bersama dengan Onnie ini?” tanya Minjung.

“Kau ingin tahu kenapa?” Kata Minhyo.

“Karena, Minhyo nae anae..” Kata Kevin. Dan itu membuat Minjung terlihat shock.

“Ya! Bukan kah kau Kiss me? Tapi kenapa tidak mengetahuinya huh?” Kata Minhyo.

“Aku sedang sibuk, jadi aku tidak membuka internet dan tidak tahu perkembangan.” Kata Minjung. “Chukkae oppa, onnie.” Kata Minjung akhirnya. Kevin dan Minhyo hanya tertawa.

~~~                                         ~~~                                         ~~~

Pagi hari saat membuka mata Minhyo segera mandi dan turun ke lantai bawah ia sudah janjian dengan Haewon untuk mencari hadiah permintaan maaf pada Kevin.

“Apa aku lama?” tanya Minhyo.

“Anni.. aku juga baru sampai.” Kata Haewon.

“Baiklah kkaja. Aku akan mengajak mu ke Champ Ellisses Street. Disitu ada banyak barang yang bisa kau pilih.” Kata Haewon menjelaskan.

“Baiklah.” Mereka pun keluar dari hotel. Tanpa mereka sadari Kevin melihatnya dan mengikuti mereka dari belakang.

 

Mereka sudah mengunjungi banyak toko, tapi tidak ada yang menarik hati Minhyo. Akhirnya mereka sampai di toko pakaian. Minhyo melihat ada kemeja yang menarik hatinya, ia merasa itu cocok di pakai oleh Kevin. Mereka pun memasuki toko itu.

“Sepertinya ini cocok untuk kevin.” Kata Minhyo. “tapi dia ukurannya yang mana ya..” Kata Minhyo lagi. Minyo melihat Haewon yang sedang melihat-lihat toko itu. “Haewon, maukah kau mencobanya?” tanya Minhyo. “Spertinya badan Kevin sedikit lebih kecil dari mu.” Kata Minhyo lagi.

“Baiklah.” Haewon pun masuk ke kamar pas. Minhyo melihat-lihat lagi. Ternyata ada sebuah dasi yang menarik perhatiannya. Ia pun meminta dasi itu. Setelah Haewon keluar, Minhyo mencoba mengepaskan dasi itu dan memakaikannya pada Haewon.

Saat sedang memasangkan dasi itu, ada sebuah tangan yang menarik tangan Minhyo kebelakang.

“Kevin..” Minhyo kaget dan

BUGH

Kevin menonjok Haewon. “Don’t touch my wife.” Kevin segera menarik Minhyo keluar dari toko itu meninggalkan Haewon yang masih terliaht kaget.haewon melepas baju itu dan membayarnya.

***

“Kevin, dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kau duga.” Kata Minhyo.

PRAK

Minhyo memegang pipinya yang memerah karena baru saja ditampar oleh Kevin.

“Kev..” Kata Minhyo lirih.

“Kau mengecewakan ku. Belum ada satuminggu kitab menikah, aku sudah  berselingkuh. Aku tidak menyangka kau seperti itu Park Minhyo.” Kata Kevin dengan nada dinginnya.

“Anni.. Kevin, dengarkan aku dulu.. Jebal.” Kata Minhyo, Kevin berjalan memingggalkan Minhyo. Minhyo meraih tangan Kevin tapi di tepis olehnya.,

“Kevin..” Minhyo terdiam. Kevin semakin menjauh dari pandangannya. “Mianhe…” Kata Minhyo pelan. Minhyo memutuskan untuk kembai ke hotel. Ia membutuh kan seseorang untuk bercerita. Ia memutuskan untuk menelfon Harin.

“Harin.. kevin salah paham… Aku tidak berselingkuh.. Aku tidak berselingkuh. Aku mencintainya..” Kata Minhyo begitu Harin mengangkat telfonnya.

“Minhyo? Wae? Kau dimana? Kita bertemu di Swimminh pool saja, ok?” Kata Harin.

“Ne..” Minhyo akhirnya berjalan menuju swimming pool disana. Ia tidak memperdulikan fakta bahwa Harin berada di Paris yang seharusnya dia berada di Seoul.

Ia pun duduk di restaurant yang berada di swimming pool itu. Menunggu kedatanga Harin. Tak begtu lama Harin datang. Minhyo yang melihatnya segera memeluk Herin dan menangis.

“Aku tidak selingkuh… Aku hanya berteman dengannya. Dia salah paham…” Kata Minhyo terus seperti itu.

“Ada apa? Ceritakan padaku apa yang terjadi.” Kata Minhyo. Minhyo pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan Kevin.

“Mungkin ia membutuhkan waktu untuk sendiri.” Kata harin begitu selesai mendengar cerita Minhyo.

“Ne.. Ohya, bagaimana kau bisa berada disini?” tanya Minhyo yang baru sadar kalau mereka di Paris buakan Seoul.

“Ah… Itu..” Hari baru menyadari kebodohannya.

 

***

#Kevin Place

Kevin pergi menuu coffe shop yang ada disana. Ia membutuhkan waktu sendiri. Pesanannya pun datang. Saat ia sedang meminum kopinya, ada seorang pria yang duduk didepannya dan meanur bingkisan di hadapannya.

“Kau.. Kau selingkuhannya Minhyo kan?” Kata Kevin emletakkan cangkir kopinya.

“Kau salah paham. Aku memang menyukainya, tapi ia sudah bersuami. Apa boleh buat?” kata Haewon.

“Tch.. mana ada Maling yang mengaku. Ia kan?” kata Kevin lagi.

“Aku bertemu dengannya saat ia sedang menunggu seseorang yang tidak datang selama dua jam lamanya.” Kata Haewon. “Ia menunggu mu dengan sabar. Aku yang merasa ia orang Korea juga pun menegurnya. Ternyata ia begitu cantik saat ku lihat dari dekat. Namun sayang ia sudah ada yang punya.” Kata Haewon tersenyum miris. “Bingkisan ini ia carikan untuk mu. Untuk permintaan maaf tentunya. Karena ia tidak tahu daerah Paris akhirya ia meminta tolong padaku.” Kata haewon lagi.

“Bodoh. Bodoh sekali aku. Aku melupakannya selama kami berbulan madu.” Kata Kevin.

“Lalu? Apa dengan menyesal itu akan selesai? Lebih baik kalian berbaikan.” Kata Haewon.

“Terimakasih kau sudag menyadarkan ku. Maafkan aku sudah menuduhmu.” Kata Kevin.

“Tenang saja, aku sudah terbiasa.” Kata Haewon lagi. Kevin segera mengambil bingkisan itu. Ia segera pergi keluar dari coffe shop itu. Ia ingin meminta maaf pad Minhyo karena sudah menuduhnya berselingkuh.

“Yobseo?” Kevin mengangkat telefonnya

“Ne? Minhyo menangis? Baiklah, aku segera kesana.” Kata Kevin. Ia segera memasuki hotel, pergi ke kamar Hoon untuk menunmpang berganti baju. Ia segera bergegas ke lantai tas. Kekamar mereka.

 

***

 

Kevin masuk ke dalam kamr itu. Ia memegang kuncinya. Ia melihat Minhyo yang masih tidak menyadari kehadirannya. Ia peluk Minhyo dari belakang.

“Mianhe.. Mianhe karena sudah menuduh mu berselingkuh. Aku yang bodoh disini. Mianhe Minhyo..” Kata Kevin. Kevin membalik badan Minhyo. Ia melihat pipi Minhyo basah. Kevin menenggelamkan wajah Minhyo di dadanya.

“Kau jahat.. Kau tidak mau mendengar penjelasanku.” Kata Minhyo.

“Ne.. Aku jahat, jadi maafkan aku.. Aku berjanji tidak akan melupankanmu lagi. Aku berjanji.” Kata Kevin.

“Janji?” Minhyo mengangkat kelingkingnya. Kevin tidak menyambut ya, tetapi malah mencium bibir Minhyo.

“Aku berjanji.” Kevin tersenyum dan kembali melumat bibir Minhyo

 

 

 

 

 

 

END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s