My Mistake is Expecting His Love

Standar

Ini sebenernya FF gaje dari note gue..

Akhirnya gue meng-edit cerita ini sedikit-sedikit..

hehehehe…

dan ini OOC

oke.. selamat membaca…

 

Title            :    My  Mistake is ExpectingHis Love

Cast             :    Lee Taemin

Park Minhyo

Other Cast:

Choi Minho

Han Minhyo a.k.a Hanmin

Jo Kwon

 

 

“Minhyo, kumohon bantulah aku agar bisa kembali bersama Hanmin.” Ucap Taemin.
“Entah lah aku bisa apa tidak. Tapi akan ku usahakan.” Aku hanya tersenyum tipis.
“Jinja? Gomawo..” Lalu dia memelukku.
“Ne. Cheon.” Aku pu melepaskan pelukkannya dan melangkah pergi
***
Aku melangkahkan kaki ku menuju kelas, Lebih tepatnya aku akan menemui Hanmin. Aku dan Hanmin memang bersahabat. Kami saling mengenal saat kami beerada di bangku tingkat satu di SHS ini.
“Minhyo, kau tahu, aku sedang menyukai seseorang” katanya begitu aku memasuki kelas dan duduk disebelahnya.
“Nugu?” tanya ku
“Minho” Jawabnya sambil tersenyum manis.
“Minho? Choi Minho?” Tanyaku sedikit ragu.
“Ne..” Hanmin menjawabnya dengan yakin seraya menganggukkan kepalanya.
“Tapi..” Entah apa yang harus ku ucapkan. Apa yangg harus ku lakukan..
“Tapi kenapa?” Tanyanya lagi.
“Ani.. Anniyo, lupakan saja. Oh ya, bagaimana jika Taemin masih menyukai mu?” Kata ku sedikit ragu.
“Mwo? Haah.. Aku sudah tidak menyukainya. Dia terlalu memaksakan kehendaknya. Selama ini kau tahu kan, dia hanya pelarian ku dari Myungsoo saja. Kau menyukainya kan?” Katanya.
“Annio..Ne, aku tahu”.

Aku tahu semuanya, tapi tahu kah kau? Kalau taemin masih begitu mengharapkan mu? Bahkan dia selalu menceritakan segala sesuatu tentangmu. Dan itu cukup membuat hati ku sakit. Karena tidak ada ruang di hatinya untukku

“Jangan berbohong” Kata Hanmin seraya menyenggol bahu ku.
“Aku tidak..” Aku berusaha menyangkalnya.
“Sudah lah, kau tahu? Kita seperti bertukar. Dulu kau menyukai Minho, sedangkan aku berpacaran dengan Taemin. Sekarang aku menyukai Minho, dan kau dengan Taemin. Hahaha.. Lucu ya.” Kata Hanmin yang sedang mengeluarkan roti dari tasnya. “Mau?” tawarnya. Aku hanya menggeleng.
“Ne kau benar..” akhirnya aku mengakuinya.

Tapi kau dan Minho saling menyukai, sementara Taemin, tidak seperti Minho’
Ya, dulu aku memang menyukai seorang Choi Minho. Tapi kini, semenjak Lee Taemin dekat dengan ku, aku malah menyukainya..

***

Berharap..

Hanya itu yang bisa kulakukan..

Tapi aku tak berani untuk terlalu berharap,

Karena terkadang berharap membuatku tak ingin menyadari kenyataan

“Minhyo” panggil Taemin.
“Ne? Waeyo?” Akupun menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya.
“Bagaimana? Kau sudah bertanya pada Hanmin?” Tanyanya
“Eung, belum. Kemarin aku sibuk” kataku berbohong.
“Haah.. Kau ini. Kau tahu? Semakin hari dia semakin cantik. Dan semakin hari aku makin ingin bersamanya.” Katanya.
“Hn.. Arraseo.” Gumamku.
“Semakin lama, aku semakin mencintainya”

Ucapan itu meluncur dengan mudahnya dari bibir mu,
“Memang mengapa kau begitu menginginkan nya kembali padamu?” Tanya ku perlahan.
“Mungkin, dia dapat membuatku berubah. Dapat membuatku semakin baik tiap harinya. Kau tahu aku dulu kan? Dan, aku merasa nyaman bersamanya.” Ucapnya sambil menatap langit.

Berhenti..

Kumohon berhenti membicarakan Hanmin.
“Oh ya? Dia hebat ya?” kataku dengan nada yang dipaksakan menurutku, tapi apakah dia pefuli dengan nada bicaraku sementara yang ada difikirannya hanya Hanmin. ‘Betapa bodoh nya aku. Berhentilah berharap Minhyo.‘ Itu yang kutanamkan dalam otakku.
“Ne. Dia sempurna. Dan hanya dia yang dapat membuat ini semakin bergetar.” Dia memegang dadanya.
“Oh.. A.. Aku pergi dulu ya, aku lupa ada janji dengan Jo kwon oppa. Bye” lebih baik aku pergi. Sungguh tak kuat rasanya mendengarnya.
“Eh, chakaman.” Aku pun menghentikan langkahku lagi.
“Waeyo?” Aku berbalik ke arahnya.
“Akhir minggu ini bagaimana jika kita pergi ke Lotte world bersama?” Ajaknya
“Ah. Baiklah.” Tanpa fikir panjang aku menerima ajkannya.
“Jangan lupa, ajak Hanmin. aku akan aja Minho juga.” Ucapnya.
“Oh, ne. Aku pergi.” Ya tuhan, sakit sekali rasanya jika yang ia bicarakan hanya hanmin. Aku pun pulang menuju rumah. Saat perjalanan, tak sengaja aku melihat Hanmin yang sedang mengobrol dengan Minho.
“Enaknya jadi Hanmin, dia selalu dapat memikat orang-orang. Tidak seperti aku, yang hanya jadi bayang-bayang nya saja.” Aku pun melangkahkan kaki ku lagi.

Menjadi bayang-bayangnya. Ya itulah yang kualami. Semua yang mengenalku memiliki tujuan agar mereka dapat dekan dengan Han Minhyo, atau Hanmin. Lalu setelah berhasil mereka akan melupakan ku.

***
Sesampainya dirumah, Aku segera masuk kekamar tanpa menghiraukan eomma dan oppa. Yang ku ingin hanya sendiri.

“Kenapa? Kenapa kau tidak menyadari ku? Aku yang selalu ada di saat kau butuh.. Aku selalu mendengar ceritamu.. Aku yang selalu siap kau ganggu kapan pun.. Tak biskah? Tak bisakah kau membuka hati untukku taemin? Tak tau kah kau, kalau dia tidak tulus mencintaimu? Kau hanya pelariannya.” Aku menenggelamkan wajahku pada bantal.
“Sakit.. Sakit sekali di sini..” Aku memukul dadaku perlahan. Berharap rasa sakit nan memilukan itu menghilang. Berharap perasaan itu menghilang.
“Minhyo? Wae? Kenapa kau menangis?” Oppa masuk ke kamarku, dan menghampiri ku yang berada di ujung kasur.
“Oppa..” Aku memeluk oppa ku. “Oppa. Rasanya sakit. Dia tidak pernah melihat ke arah ku. Aku.. Aku..” aku memeluk oppaku, menenggelamkan wajahku didadanya. Ia membiarkan ku menangis dan membasahi bajunya.
“Sshht.. Uljima Minhyo.. Jika kau merasa sakit, jauhi dia.” kata oppa sambil mengelus punggungku.
“Aku tidak bisa oppa.. Apa yang harus ku lakukan?” Aku merasa.. Entah lah, hancur.. Sangat hancur..
“Kau pelan-pelan harus melepaskannya, kau harus mencobanya” kata oppa melepas pelukkannya.
“Tapi.. Aku tak mau jauh darinya”
“Katakan perasaan mu pada nya” oppa menghapus air mataku.
“Aku.. Aku takut merubah keadaan ini” aku kembali memeluk oppa.
“Kau harus mencobanya.. Sudah, berhenti menangis ya?” oppa kembali mengusap kepalaku lembut.
“Ne oppa, akan ku coba” Kataku sambil mengangguk.
“Sudah, kau mandi, lalu makan.”
“Anni.. Aku tidak lapar. Aku ingin langsung tidur saja.”
“Baiklah.. Selamat malam..”
“Malam.” Oppa meninggalkanku di kamar ku.
***
Hari jum’at ini, aku akan menelfon Hanmin. Semoga dia mau ikut. Agar Taemin tidak sedih. Ya, aku bahkan tidak mempedulikan perasaanku lagi. Betapa bodohnya aku, terkadang aku menertawakan tindakan bodoh ku ini. Kenapa aku masih membantunya ya?
“Yoboseo, Hanmin.. Taemin mengajak bermain di lotte world kau ikut ya.” kataku
“Ah, tapi..”
“Dia mengajak Minho” kataku.
“Jinja? Baiklah.. Aku ikut” begitu mendengar nama Minho ia langsung menerima ajakannya.
“Ne.. Nanti ku kabari lagi” Kata ku.
“Ne.. Kalian akan berkencan ya?” Katanya dengan nada ceria.
“Anni.. Sudah ya Hanmin. Aku oppa memanggilku.” Aku segera memutuskan telfonnya.

~Tomorow~
“Taemin, Hanmin akan ikut pergi.” Kataku menghampirinya yang sedang berada di depan kelas.
“Jinja? Gomawo Minhyo.” Katanya sambil tersenyum
“Ne. Minho jadi ikut kan?” Tanyaku memastikannya.
“Kenapa kau menayakannya? Kau menyukai nya?” katanya dengan polos sambil tersenyum
“Anni.. Sudah ya aku mau makan dulu.” Aku segera membalikkan badanku. Yang kusukai itu kau bodoh. Bukan Minho. Tapi Lee Taemin.
“Aku ikut” katanya.
“Haah, yasudah.. Kkaja.” padahal aku menginginkan waktu sendiri.
***
“Jadi sekarang ada 2 motor. Kau mau dengan siapa Hanmin?” kata Taemin.
“Aku dengan minho saja.” Hanmin segera menuju motor Minho.
“Baik lah, silahkan naik.” Minho memiringkan motornya agar hanmin lebih mudah menaikinya.
“Berarti aku dengan Taemin.” Kataku pelan
“Naik cepat”. Katanya dengan nada ketusnya.
“Ne.” Aku pun menaiki motornya.

~@Lotte world~
“Eum, aku mau kekamar mandi dulu ya.” kata ku.
“Aku juga.” Kata Taemin.
“Baiklah, aku dan Hanmin tunggu di sini ya” kata Minho
“Ne, jangan bersenang-senang tanpa kami ya. Kkaja Minhyo.” Taemin menarik tanganku.
“Ne..” Aku hanya pasrah.
“Minhyo, aku rasa waktunya sekarang” katanya Taemin padaku.
“Waktu apa?” Tanyaku berpura-pura tidak tahu. Apa ini? Apa sekarang? Seharus nya aku tidak ikut pergi..
“Aku akan mengatakan pada Hanmin bahwa aku masih mencintainya” katanya mantap.
“Jinja? Hwaiting.” Kataku lemah. Tak tau kah kau, rasanya hati ini bagai teriris. Aku pun masuk ke dalam kamar mandi, dan terisak sendiri di sana.

***
“Bagaimana? Apa kau sudah mengatakannya?” Tanya ku.
“Huh? Belum” katanya dan mengerucutkan bibirnya.
“Oh.” hanya tu respon yangku berikan
“Minhyo, aku tidak tahu jalan pulang jika tidak bersama Minho. Kita kerumah Hanmin dulu ya.” Katanya lagi.
“Oh. Ne.” Kataku lagi. Kau fikir aku tak tahu kalau kau khawatir terjadi sesuatu di antara mereka? Tapi aku masih berpura-pura tak tahu apapun.
“Kau hapal jalan ini?” Kataku lagi
“Ia, aku sering kemari” Jawabnya.
“Oh..”  tak berapa lama kami pun sampai di rumah Hanmin, Taemin memilih jalan berbeda dengan yang di ewati oleh Minho dan Hanmin. Entah alasannya apa toh aku tidak peduli. Aku hanya ingiin pulaang.
“Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka berpelukan?” Kata Taemin.
“Entahlah.. ” jawabku, toh aku tidak mengetahui apa-apa.
“Minho?” Panggil Taemin.
“Ne?” Jawab Minho dan melepaskan pelukkannya dengan Hanmin
“Kau sedang apa?” Tanya Taemin lagi, tangannya terlihat mengepal.
“Kau tahu Taemin, ternyata Hanmin juga menyukai ku. Dan kami sudah resmi sekarang.” Katanya lalu memeluk Hanmin yang kini sudah bersemu merah.
“Ne? Chukkae.” Katanya pelan.
“Kalian juga sedang berpacaran kan?” Tanya Hanmin. Heuh, tentu saja tidak. Tidak mungkin. Itu hanya MIMPI BELAKA.

“Mwo? A.. an..” Ucapan ku terputus saat tangan aemin menggengggam tanganku.
“Oh, ne.. Aku dan minhyo sedang berpacaran.” Katanya. “Hahaha.. Kkaja minhyo, ku antar kau.” Aku menatapnya tak percaya.
“Tapi..” aku menatapnya meminta penjelasan.
“Ppaliwa” dia lalu menarik tanganku untuk segera pergi.
***
“Minhyo, mianhe. Aku sudah mengaku bahwa kau itu pacar ku.” Katanya sambil menunduk.
“Ne. Gwenchana.” Apa?gwenchana? Aku ini, apa ini masih bisa di bilang gwenchana? Apa rasa sakit ini masih baik-baik saja?
“Aku telat, aku telat satu langkah. Aku tidak bisa melihat mereka.” Dia memelukku dan menenggelamkan wajahnya di pundakku.
“Kalau begitu, kau tak usah melihatnya.” Kata ku.
“Aku tak bisa, hanmin begitu berharga bagi ku.. Aku..” Bisa kurasakan bahu ku basah, punggung nya pun bergetar. Pasti dia menangis.
“Tidak bisa kah kau berhenti membicarakan Hanmin? Tidak bisakah kau berhenti melihatnya? Tidak bisakah kau melihat kearah lain selain dirinya?” Kata ku.
“Ne? Kau kenapa?” Kata Taemin heran.
“Kau tahu? Setiap hari kau selalu membicarakan Hanmin. Aku muak. Aku muak setiap malam  aku menangis seperti orang bodoh. Aku menangisi diriku sendiri karena kau Lee Taemin.” Kata ku. Taemin melepaskan pelukannya.
“B.. But wae?.. Kenapa?” Taemin menatap ku heran.
“Kau itu bodoh  ya? Apa begitu sempurnanya Hanmin sehingga kau tidak menyadari aku?” Kata ku setengah terisak.
“Minhyo..”
“Aku mencintai mu. Tapi kau seperti ini. Kau terlalu mengharapkan Hanmin. Kau selalu membiscarakannya, memperdulikannya, memperhatikannya. Sementara aku hanya kau peralat agar kau bisa kembali bersama Hanmin.” Aku menundukkan kepalaku, berusaha menutupi air mata yang siap mengalir kapan saja.

Hening itu yang terjadi untuk beberapa saat.
“Aku.. Mianhe.. Aku tidak bisa aku..” Ia mengeluarkan suara.
“Ne. Aku tahu, kau masih mencintainya kan?” Kata ku, menatap langit. Aku berusaha menenagkan diriku.
“Ne.. Mianhe.. Aku pulang dulu.” kata Taemin. Bahkan, dia hanya mengantarku sampai ke taman.

Dan, di sinilah aku. Menangis sendiri, di taman. Miris sekali Hidupku. Disaat mengungkapkan perasaanku, disaat itu pula aku merasakan sakitnya.

“Minhyo?” Panggil seseorang.
“Oppa, Jo kwon oppa.” Dia menghampiriku dan memelukku.
“Oppa, aku sudah mengataknnya. Aku takut.. Aku takut semua berubah..” Dan kini aku merasa menyesal mengatakannya.
“Sshht.. Uljima.. Yang penting, kau sudah mengatakannya. Setidaknya kau tidak terlalu merasa sakit. Sesakit memendammya terlalu lama.” Oppa menghapus air mataku.

“Oppa..” Aku semakin menangis. Beruntung sekali oppa melihat ku.

***
Dan, hal yang ku takutkan terjadi. Taemin menjauhikku. Menghindari ku tepatnya. Dia masih begitu mengharapkan Hanmin kembali. Aku sadar. Kalau dia hanya ‘memperalat’ ku agar ia bisa kembali bersama hanmin. Awalnya aku merasa itu tidak masalah.
Tapi, rasa sakit ini lebih parah dari yang dulu. Karena dia seakan-akan tidak mengenalku. Dia membuat ku menyukainya karena dulu kami selalu bersama. Dan kini, dia menjauhi ku karena kesalahan ku.

And my biggest mistake is Expecting his love

END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s