My Mistake, Is Especting His Love

Standar

huaaa… this is my first fanfic..

sebenernya ini udah pernah di publish di FB ku.. tapi dari pada kosong mending di publish aja..

ini sebenernya cuma coret – coretan yang sangat amat tidak jelas..

jadi mian kalo abal..

hehehehe

 

 

 

My mistake is Expecting His Love

 

 

“Minhyo, kumohon bantulah aku agar bisa kembali bersama hanmin.” Ucap taemin.
“Entah lah aku bisa apa tidak. Tapi akan ku usahakan.” Aku hanya tersenyum tipis.
“Jinja? Gomawo..” Lalu dia memelukku.
“Ne. Cheon”

Aku pun pergi menemui hanmin. Aku dan hanmin memang bersahabat.
“Minhyo, kau tahu, aku sedang menyukai seseorang” katanya.
“Nugu?”
“Minho”
“Minho? Choi minho?”
“Ne..”
“Tapi..” Apa yg harus ku lakukan..
“Tapi kenapa?”
“Ani.. Anniyo, lupakan saja. Oh ya, bagaimana jika taemin masih menyukai mu?” Kata ku sedikit ragu.
“Mwo? Haah.. Aku suadah tidak menyukainya. Dia terlalu memaksakan kehendaknya. Selama ini kau tahu kan, dia hanya pelarian ku dari L saja. Kau menyukainya kan?” Katanya.
“Annio..Ne, aku tahu”. ‘Aku tahu semuanya, tapi tahu kah kau? Kalau taemin masih begitu mengharapkan mu? Bahkan dia selalu menceritakan segala sesuatu tentangmu. Dan itu cukup membuat hati ku sakit. Karena tidak ada ruang di hatinya untukku’
“Jangan berbohong”
“Aku tidak..”
“Sudah lah, kau tahu? Kita seperti bertukar. Dulu kau menyukai minho, sedangkan aku berpacaran dengan taemin. Sekarang aku menyukai minho, dan kau dengan taemin. Hahaha.. Lucu ya.”
“Ne..” ‘Tapi kau dan minho saling menyukai, sementara taemin, tidak seperti minho’
Ya, dulu aku memang menyukai seorang Choi minho. Tapi kini, semenjak Lee taemin dekat dengan ku, aku malah menyukainya..

“Minhyo” panggil taemin.
“Ne? Waeyo?”
“Bagai mana? Kau sudah bertanya pada hanmin?”
“Eung, belum. Kemarin aku sibuk” kataku berbohong.
“Haah.. Kau ini. Kau tahu? Semakin hari dia semakin cantik. Dan semakin hari aku makin ingin bersamanya.” Katanya.
“Hn.. Arraseo.” Gumamku.
“Semakin lama, aku semakin mencintainya”
Deg..
“Memang mengapa kau begitu menginginkan nya kembali padamu?” Tanya ku perlahan.
“Mungkin, dia dapat membuatku berubah. Dapat membuatku semakin baik tiap harinya. Kau tahu aku dulu kan? Dan, aku merasa nyaman bersamanya.” Berhenti.. Kumohon berhenti membicarakan hanmin.
“Oh ya? Dia hebat ya?” ‘Betapa bodoh nya aku. Berhentilah berharap minhyo.’
“Ne. Dia sempurna. Dan hanya dia yang dapat membuat ini semakin bergetar.” Dia memegang dadanya.
“Oh.. A.. Aku pergi dulu ya, aku lupa ada janji dengan jo kwon oppa. Bye” lebih baik aku pergi.
“Eh, chakaman”
“Waeyo?” Aku berbalik ke arahnya.
“Akhir minggu kita ke lotte world yuk”
“Ah. Baiklah.”
“Jangan lupa, ajak hanmin. aku akan aja minho juga.”
“Oh, ne. Aku pergi.” ‘Ya tuhan, sakit sekali rasanya jika yang ia bicarakan hanya hanmin.’ Aku pun pulang menuju rumah. Saat perjalanan, tak sengaja aku melihat hanmin yang sedang mengobrol dengan minho.
“Enaknya jadi hanmin, dia selalu dapat memikat orang-orang. Tidak seperti aku, yang hanya jadi bayang-bayang nya saja.” Aku pun melangkahkan kaki ku lagi.

Sesampainya dirumah, Aku segera masuk kekamar tanpa menghiraukan eomma dan oppa. Yang ku ingin hanya sendiri.

“Kenapa? Kenapa kau tidak menyadari ku? Aku yang selalu ada di saat kau butuh.. Aku selalu mendengar ceritamu.. Aku yang selalu siap kau ganggu kapan pun.. Tak biskah? Tak bisakah kau membuka hati untukku taemin? Tak tau kah kau, kalau dia tidak tulus mencintaimu? Kau hanya pelariannya.”
“Sakit.. Sakit sekali di sini..”
“Minhyo? Wae? Kenapa kau menangis?” Oppa masuk ke kamarku, dan menghampiri ku yang berada di ujung kasur.
“Oppa..” Aku memeluk oppa ku. “Oppa. Rasanya sakit. Dia tidak pernah melihat ke arah ku. Aku.. Aku..”
“Sshht.. Uljima minhyo.. Jika kau merasa sakit, jauhi dia” kata oppa sambil mengelus punggungku.
“Aku tidak bisa oppa.. Apa yang harus ku lakukan?” Aku merasa.. Entah lah, hancur.. Sangat hancur..
“Kau pelan-pelan harus melepaskannya, kau harus mencobanya” kata oppa melepas pelukkannya.
“Tapi.. Aku tak mau jauh darinya”
“Katakan perasaan mu pada nya” oppa menghapus air mataku.
“Aku.. Aku takut merubah keadaan ini” aku kembali memeluk oppa.
“Kau harus mencobanya.. Sudah, berhenti menangis ya?”
“Ne oppa, akan ku coba”
“Sudah, kau mandi, lalu makan.”
“Anni.. Aku tidak lapar. Aku ingin langsung tidur saja.”
“Baiklah.. Selamat malam..”
“Malam.” Oppa meninggalkanku di kamar ku.

Hari jum’at ini, aku akan menelpon hanmin. Semoga dia mau ikut. Agar taemin tidak sedih. Ya, aku bahkan tidak mempedulikan perasaanku lagi.
“Yobseo, hanmin.. Taemin mengajak bermain di lotte world kau ikut ya”
“Ah, tapi..”
“Dia mengajak minho”
“Jinja? Baiklah.. Aku ikut”
“Ne.. Nanti ku kabari lagi”
“Ne.. Kalian akan berkencan ya?”
“Anni.. Sudah ya hanmin. Aku ingin tidur dulu”
“Oh, ne.. Jaljayo”
“Jaljayo”

~esok~
“Taemin, hanmin akan ikut pergi”
“Jinja? Gomawo minhyo”
“Ne. Minho jadi ikut kan?”
“Kenapa kau menayakannya? Kau menyukai nya?”
“Anni.. Sudah ya aku mau makan dulu”
“Aku ikut”
“Haah, yasudah.. Kkaja”
***
“Jadi sekarang ada 2 motor. Kau mau dengan siapa hanmin?”
“Aku dengan minho saja”
“Baik lah, silahkan naik”
“Berarti aku dengan taemin”
“Naik cepat”
“Nee”

~di lotte~
“Eum, aku mau kekamar mandi dulu ya” kata ku.
“Aku juga”
“Baiklah, aku dan hanmin tunggu di sini ya” kata minho
“Ne, jangan bersenang-senang tanpa kami ya. Kkaja minhyo” taemin menarik tanganku.
“Ne..” Aku hanya pasrah.

“Minhyo, aku rasa waktunya sekarang” katanya.
“Waktu apa?” Apa ini? Apa sekarang? Seharus nya aku tidak ikut pergi..
“Aku akan mengatakan pada hanmin bahwa aku masih mencintainya” katanya mantap.
“Jinja? Hwaiting” ‘tak tau kah kau, rasanya hati ini bagai teriris’ aku pun masuk ke dalam kamar mandi, dan terisak sendiri di sana.

~perjalanan pulang~
“Bagaimana? Apa kau sudah mengatakannya?” Tanya ku.
“Huh? Belum”
“Oh”
“Minhyo, aku tidak tahu jalan pulang jika tidak bersama minho. Kita kerumah hanmin dulu ya”
“Oh. Ne” ‘kau fikir aku tak tahu kalau kau khawatir terjadi sesuatu di antara mereka? Tapi aku masih berpura-pura tak tahu apapun’
“Kau hapal jalan ini?”
“Ia, aku sering kemari”
“Oh..” ‘Sudah kuduga’

“Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka berpelukan?” Kata taemin.
“Entahlah.. ”
“Minho?” Panggil taemin.
“Ne?”
“Kau sedang apa?”
“Kau tahu taemin, ternyata hanmin juga menyukai ku. Dan kami sudah resmi sekarang” katanya lalu memeluk hanmin yang kini sudah bersemu merah.
“Ne? Chukkae” katanya pelan.
“Kalian juga sedang berpacaran kan?” Tanya hanmin. Heuh, tentu saja tidak. Tidak mungkin.
“Oh, ne.. Aku dan minhyo sedang berpacaran.” Katanya. Hahaha.. Kkaja minhyo, ku antar kau” aku menatapnya tak percaya.
“Tapi..”
“Ppaliwa” dia lalu menarik tanganku untuk segera pergi.
“Ne..”

“Minhyo, mianhe. Aku sudah mengaku bahwa kau itu pacar ku”
“Ne. Gwenchana” apa?gwenchana? Aku ini, apa ini masih bisa di bilang gwenchana? Apa rasa sakit ini masih baik-baik saja?
“Aku telat, aku telat satu langkah. Aku tidak bisa melihat mereka” dia memelukku dan menenggelamkan wajahnya di pundakku.
“Kalau begitu, kau tak usah melihatnya”
“Aku tak bisa, hanmin begitu berharga bagi ku.. Aku..” Bisa kurasakan bahu ku basah, punggung nya pun bergetar. Pasti dia menangis.
“Tidak bisa kah kau berhenti membicarakan hanmin?” Kata ku.
“Ne? Kau kenapa?” Kata taemin heran.
“Kau tahu? Setiap hari kau selalu membicarakan hanmin. Tiap malam pun aku menangis karena mu” kata ku.
“B.. But wae?.. Kenapa?” Taemin menatap ku heran.
“Kau itu pabo ya? Apa begitu sempurnanya hanmin sehingga kau tidak menyadari aku?” Kata ku setengah terisak.
“Minhyo..”
“Aku mencintai mu. Tapi kau seperti ini”
“Aku.. Mianhe.. Aku tidak bisa aku..”
“Ne. Aku tahu, kau masih mencintainya kan?” Kata ku, menatap langit.
“Ne.. Mianhe.. Aku pulang dulu” kata taemin. Bahkan, dia hanya mengantarku sampai ke taman. Dan, di sinilah aku. Menangis sendiri, di taman.

“Minhyo?” Panggil seseorang.
“Oppa, jo kwon oppa.” Dia menghampiriku dan memelukku.
“Oppa, aku sudah mengataknnya. Aku takut.. Aku takut semua berubah..”
“Sshht.. Uljima.. Yang penting, kau sudah mengatakannya. Setidaknya kau tidak terlalu merasa sakit. Sesakit memendammya terlalu lama.”
“Oppa..” Aku semakin menangis. Beruntung sekali oppa melihat ku.

***
Dan, hal yang ku takutkan terjadi. Taemin menjauhikku. Menghindari ku tepatnya. Dia masih begitu mengharapkan hanmin kembali. Harus nya, aku sadar. Kalau dia hanya ‘memperalat’ ku agar ia bisa kembali bersama hanmin.
Tapi, rasa sakit ini lebih parah dari yang dulu. Karena dia seakan-akan tidak mengenalku. Dia membuat ku menyukainya karena dulu kami selalu bersama. Dan kini, dia menjauhi ku karena kesalahan ku.

Kesalahan ku yang mengharapkan cintanya..

My mistake..

Is

Expecting His Love

 
END

3 responses »

  1. RimaaaAAAAAA, gue komen (dgn seenaknya) sebagai proofreader, namanya jg calon editor =p (amin). Ceritanya bagussss (y) kehidupan remaja bgt. Tapi tapi tapi, ada bbrp bagian yg typo, trus nama org pake kapital yeahhhhh :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s