Biased

Standar

Menurut gue,bias-bias gue itu terbilang mempunyai ke ‘unique’kan tersendiri dibanding dengan bias orang..

hehehehe..

hahahaha…

terkadang suka mikir, kenapa gue bisa suka sama tuh orang-orang..

yah, mungkin selera gue yang terlamapu amat sangat ‘unique’

dan..

inilah bias-bias gue..

ta

da

da

daaaa…..

1. Kim Ryeowook ‘Super Junior’

mungkin yang bikin gue suka sama nih orang itu suaranya yang kelewat unique ya..

tapi gue demen banget, karena suara dia gampang untuk dibedain..

iakan… ia kan.. udah gitu kalo nyanyi part nya banyak.. makin bangga aja gue sebagai “RYEOSOMNIA’

2. Lee Taemin ‘SHINee’

yang bikin gue tertarik sama magnae shinee yang ini adalah cara dance nya yang WOW..

udah gitu mukanya imut banget, cantik..

apa lagi pas dia jadi cewe…

aaaa… suaranya juga enak lagi…

3. Jo Kwon ’2AM’

banyak yang heran kenapa gue suka sama leader ’2AM’ ini..

gue juga heran kenapa bisa suka..

tapi kelakuannya kocak, suka bikin gue ngakak, dan makin demen lagi setelah gue nontonin  We Got Married nya dia sama Ga in BEG..

4. Jang Hyunseung ‘B2ST’

pertama liat dia di MV breathe.. dan dia beda…

ada yang bikin gue tertarik sama dia.

suaranya yang terbilang gampang banget untuk dibedain meski lead vocalnya bukan dia..

dan DANCE nya.. wowowowo…

tapi, agak SHOCK pas liat dia duet sama HYUNA 4Minute..

5. Kevin Woo ‘UKISS’

aaa. dia itu bias gue yang paling cantik….

pertama kali liat dia di man-man hani..

diadi dalem mobil kuning dan bikin gue jatuh hati sama suaranya yang lembut…

oh my god…

bikin gk tahan…

6. Kim Jonghyun ‘SHINee’

awalnya biasa aja, tapi pas lama-lama ngedenger VOKALnya yang so amazing..

buat gue tercenut-cenut ama dia..

kalo udah pake nada tinggi bikin merinding,

apa lagi kalo dengerin dia nyanyi lagu sello..

mati gue…

mati..

dan otot bisep nya bikin gk nahan..

menurut gue, dia bias gue yang paling ‘LAKEE’

hahahaha

7. Lee Sungjong ‘INFINITE’

pertama liat ‘Magnae’ ini yang gue fikirin mirip Lee Taemin..

terus dengerin lagunya lama-lama kok gue suka sama suara ini sih, pas gue tanya-tanya..

ternyata ini suara nya dia..

makin mantep aja untuk gue jadiin bias.. hehehehe

kelakuannya juga masuk tipe gue banget,,..

8. Jung Heecheol ‘ZE:A’

awalnya di group ini yang gue suka itu dongjun..

tapi temen gue bilang dongjun bukan tipe gue banget..

dan ada yang menyarankan untuk melihat Hwanng Kwanghee..

pas diliat.. lucu juga..

pas lagi iseng nge-search, eh liat kwanghee sama Heecheol nari Nu Abo ‘f(x)’ dan pas liat Heecheol..

yang ada di pikiran gue, dia mirip KIM RYEOWOOK

dan pas tau dia rapper.. makin bangga..

dan suara kalo dia udang nge-rapp itu’Unique’

hahahaha..

itulah ke-delapan bias gue… tapi sekarang lagi ada satu pertimbangan..

Jung Haewon X5..

kenapa masih dipertimbangin..

karena gue ragu..

belom bisa ngenalin suara nya dia banget-banget…

hehehehehe

sekian, terimakasih…

Untitled part 1

Standar

Tiba-tiba dapet mimpi bersama Kris yang sangat amat peleh. dan cerita di mimpi itu kocak aja. jadi mumpung masih inget mau nyoba di bikin jadi ff..

hehehe.. mungkin gk sebagus yang lain..

tapi.. inilah jadinya..

 

So.. Enjoyed it…!!!

 

 

“Minhyo, ppali!! Wu ahjuma sudah menunggu kita.” Umma ku berteriak dari lanntai bawah. Hari ini kami akan mengadakan piknik. Piknik ini dalam rangka ulang tahun toko roti milik umma ku dan Wu ahjuma. Kerja sama ini sudah dibangun kurang lebih lima tahun lamanya. Mereka merupakan teman lama semasa kuliah dulu.

“Ne umma..” Aku pun turun dan segera memasuki van yang sudah kami sewa, umma ku ingin bersama dengan Wu ahjuma. Appa ku pun menjadi dekat dengan Wu ahjushi. Appa kupun segera melajukan van-nya.

“Woo.. Chakaman. Sepertinya ada yang tertinggal.” Umma ku tiba-tiba berkata disaat kami sudah hampir keluar dari komplek perumahan kami.

“Waeyo yeobo??” Tanya appa ku. Umma terlihat menggeledah tas yang ia bawa.

“Aish, obat asma ku tertinggal dirumah. Minhyo tolong ambilkan ya?” Kata umma ku. Aku pun hanya mengangguk dan keluar dari van ini. Baru sekitar sepuluh langkah dari pintu van, aku mendengar suara anjing. Ya aku memang memiliki cerita tersendiri dengan hewan yang satu itu. Dan tak lama setelah mendengar suara anjing, hewan itu pun muncul dihadapan ku sekitar dua meter dari posisiku berdiri. Karena panik aku segera berlari masuk kedalam van lagi.

“YA!! Wae?? Kenapa malah kembali???” Teriak umma ku.

“Umma, ada anjing. Aku takut.” Aduku pada umma. Semua yang ada di van ini malah menertawai ku.

“Kau ini. Kalau kita kembali dengan van ini tanggung sekali. Cepat ambil itu. Tak perlu takut.” Kata appa ku yang bukannya membelaku.

“Ah, Kris saja yang ambil, bagaimana?” Kata Wu ahjuma menyelamatkan ku.

“Mwo? Aku bahkan tidak tahu dimana letaknya.” Kata Namja itu. Oh ya, namja yang bernama Kris itu adalah anak dari Wu ahjuma. Dia memiliki wajah tampan namun terkesan sombong. Aku tidak terlalu dekat dengannya.

“Minhyo, kau ikut dengannya. Kris akan menemani mu.” Kata umma ku.

“Shireo.. aku di van saja ya umma.” Kata ku memohon.

“Ya! Bagaimana mungkin kau tidak ikut?? Tidak sopan rasanya menggeledah rumah orang di saat pemiliknya tidak ada.” Katanya ketus. Akhirnya dengan terpakasa aku mengikuti kemauan umma ku.

“Kau turun duluan. Usir anjing itu.” Kata ku. Kris pun turun dari van dan mengusir anjing itu. Aku berjalan dibelakangnya.

“Ppabo yeoja. Hanya seekor anjing dan kau ketakutan? Tak bisa dipercaya.” Katanya.

“Suka-suka ku dong. Aku ini yang takut.” Aku terus berjalan menunduk tiba-tiba menabrak sesuatu. “Kau ini. Kalau ingin berhenti berikan aba-aba dong.” Kata ku.

“Kalau begitu kau ku tinggal disini saja. Rumah mu sudah dekat.” Dia membalik badannya dan berjalan kearah van lagi.

“Annieyo. Temani aku. Aku takut hewan itu akan kembali lagi.” Kataku menahan tangannya.

“Dasar kau ini. Cepat ambil.” Ia pun berhenti dan menungguiku di depan rumahku. Aku segera mengambil obat umma dan mengambil beberapa batang coklat. Dan segera kembali keluar, kulihat Kris sedang melakukan peregangan otot.

“Igeo.” Kuserahkan satu batang coklat padanya. Dia menaikan sebelah alisnya. “ucapan terimakasih. Jja kita kembali ke van. Mereka pasti sudah menunggu.” Kami pun berjalan ke arah van menunggu dan van itu segera berjalan ketika kami sudah menaikinya.

`~(^^`~  )  `~( ^^ )~`  (~` ^^)~`

Piknik yang menghabiskan waktu delama tiga hari itu pun selesai juga. Tidak ada kejadian yang aneh-aneh. Para karyawan toko terlihat menikmati piknik ini. Mereka melepas lelah secara gratis. Akhirnya aktivitas pun berjalan seperti biasa.

Sepulang kuliah aku memang selalu bermain di toko umma, tujuannya bukan untuk membantu. Melainkan memakan kue secara gratis. Saat sedang memakan kue-kue itu tia-tiba wu ahjuma memanggilku.

“Minhyo, bisakah kau mengantarkan kue ini? Para karyawan yang bertugas mengantarkan sudah pergi semua. Bisakah kau mengantarnya?” kata Wu ahjuma.

“Ne ahjuma.” Kataku.

“Kau akan pergi naik apa?” Tanya ahjuma.

“Mungkin naik bis saja ahjuma. Mobilku sedang rusak.” Kata ku menerima kotak yang berisi kue ulang tahun. Kata ku lalu mengambil tas ku. Saat akan keluar tiba-tiba ada yang menarik kotak itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya ku pada Kris yang mengambil kotak itu.

“Aku akan mengantar mu.” Katanya. Ia menarikku menuju parkiran. Lalu menyerahkan helm pada ku.

“Kenapa naik motor? Kenapa tidak naik mobil mu saja?” Tanya ku lagi padanya.

“Jalanan sedang macet, dan kau ingin naik mobil? Umma bilang ini harus cepat sampai karena akan di pakai untuk acara sore ini. Jadi untuk apa menyia-nyiakan waktu dengan mengendarai mobil?” Katanya panjang lebar.

“Hei, ku kira kau hanya bisa berbicara singkat saja, ternyata kau bisa berbicara kalimat sepanjang itu dalam satu kari tarikan nafas.” Kataku. Ia memukul kepala ku lalu menaiki motornya. Aku pun menaiki motor Kris.

“Pegang kue nya yang benar. Jangan sampai jatuh, atau kau akan terkena amukan umma ku.” Katanya lagi.

“Jinja? Wu ahjuma tidak pernah marah padaku.” Kata ku lagi.

“Terserahlah.” Kris pun melajukan motornya. Aku berpegangan pada bagian belakang motornya.

Saat sudah di pertengahan perjalanan, tiba-tiba motor Kris berhenti. Aku segera turun dari motor itu.

“Wae? Kenapa tiba-tiba berhenti? Setahuku ini masih jauh.” Kata ku.

“Bahan bakarnya habis.” Katanya lagi.

“Mwo? Jadi kau mengantarku tanpa melihat keadaan tangki bahan bakar mu? Sulit di percaya. Lalu sekarang bagaimana? Alamatnya masih jauh sekali dari sini.” Kata ku lalu melihat keadaan sekitar.

“Tenang saja, kita cari tempat pengisian bahan bakar dan beres.” Katanya pelan.

Kami berjalan sekitar lima meter kedepan, beruntung ada tempat pengisian bahan bakar di tempat itu, ia pun menuntun motornya dengan penuh semangat kearah tempat itu dan segera mengisi bahan bakar untuk motornya.

“Aigo..” katanya tiba-tiba, ia menepuk bagian belakang celananya.

“Wae?” Tanya ku yang heran melihat kelakuannya.

“Aish.. Aku lupa membawa dompet, tertinggal di etalase toko.” Katanya santai. Lalu ia melihat kearah ku.

“Mwo? Kau ini.. Iah.. baiklah sebentar.” Aku menyerahkan uang ku padanya. “Dasar, sudah tidak melihat keadaan bahan bakar kendaraanya, tidak membawa dompet. Dasar. Dia terlihat begitu perfect diluar, tapi ternyata dia itu ceroboh. Ppabo namja.” Gerutu ku.

“Siapa yang ppabo namja heuh?” Katanya tiba-tiba.

“Anni. Sudah cepat kita harus segera mengantarkan kue ini.” Kata ku dan segera menaiki motornya.

Perjalanan pun kembali dilanjutkan, aku memilih diam dan berusaha untuk menikmati angin yang berhembus. Kris melajukan motornya dengan cepat. Memang benar jalanan di kota ini begitu macet. Banyak sekali kendaraan bermotor yang berada dijalanan ini. Tiba-tiba Kris menghentikan motornya secara mendadak dan membuat kotak kue tersebut nyaris saja jatuh.

“YA! Kau ini. Kendarakan yang benar. Jangan seenaknya saja menghentikan motor mu. Kau tidak tahu kalau kita sedang membawa kue ini? Aish..!!” Omelku padanya.

“Kau yang bodoh, memegang kptak itu saja tidak bisa.” Katanya lagi, ia memutar arah motornya.

“Ish.. Kau ini. Dasar… Lalu mengapa kita memutar arah? Kau mau membawa ku kabur ha? Dengar ya. Aku sama sekali tidak tertarik dengan mu. Cepat kembali ke jalan yang benar!!!” Kata ku lagi.

“Ppabo yeoja. Kita akan memotong jalan, kau tidak lihat apa keadaan dijalan itu benar-benar stak dan tidak bergerak?” Katanya, aku pun melihat kearah jalan yang tadi di lalui. “Dan lagi pula, aku tidak tertarik dengan yeoja rata seperti mu itu.” Katanya santai. Dan dengan segera ku berikan hadiah berupa pukulan di kepalanya.

“Rasakan itu.” Teriak ku.

“Ya!! Memang kenyataan kan?” Katanya lagi. Dia kembali menyetir motornya. “Dasar wanita brutal.” Gumamnya yang tentu saja ku dengar tapi aku berpura-pura tidak mendengarnya.

`~(^^`~  )  `~( ^^ )~`  (~` ^^)~`

Entah berada dimana sekarang. Aku sangat amat buta dengan daerah ini. Di sepanjang jalanan terdapat sungai disampingnya. Kami berjalan seolah-olah mengikuti arus sungai itu. Kupasarahkan semuanya pada namja menyebalkan itu. Aku merasa sangat sial hari ini. Jika tahu akan berakhir seperti ini, aku tidak akan mampir ke toko. Lebih baik aku pulang dan menonton drama atau berlatih saja.

“Kita dimana?” Tanyaku yang makin merasa asing dengan daerah ini. Aku tidak percaya kalau dikota sebesar ini masih ada jalanan yang berukuran kecil.

“Kau diam saja, dan percaya padaku.” Katanya.

“Apakah kita masih lama?” kata ku lagi, sudah pegal rasanya duduk di motor ini.

“Kau lelah? Peluk saja aku.” Katanya dan terlihat seringaian mengerikan dari wajahnya yang kulihat dari kaca spion.

“YA!! DASAR YADONG!! MANIAK!!” Ku cubit pinggang nya dan kupukul kepalanya.

“Ya! Minhyo, kau ini brutal sekali.” Dia melindungi kepalanya dengan tangan sebelah kirinya dan menghadap belakang. Tanpa ia sadari ada seorang anak kecil yang sedang bermain sepeda dan berlawanan arah dengan kami.

“Kris!! Perhatikan jalanmu!!” teriak ku. Ia segera mengembalikan tangannya ketempat semula dan berhasil menghindari anak kecil tersebut. Namun disaat bersamaan kotak kue yang kupegang terjatuh. Dan dengan gerak reflek aku segera meraih kotak tersebut tanpa sadar bahwa posisiku berada di atas motor yang membutuhkan keseimbangan. Terlebih keadaan motor yang masih sedikit miring akibat menghindari anak kecil itu.

“Kyaaaaa…!!!!”

Dan.. Hal yang terjadi adalah.

___.B.Y.U.R.___

Motor terjatuh ditambah kami yang juga tercebur kesungai. Kotak kue itu entah berada dimana. Satu hal yang kupikirkan.’apa ini akan berakhir disini’ mengingat kami terjatuh dari ketinggian satu meter dari permukaan air. Kaki ku terasa membentur batu,dan alhasil kaki ku tidak bisa digerakan. Disaat aku sudah tidak bisa bergerak sama sekali, Kris menarik ku ke permukaan.

“Minhyo.. Gwaenchana?” katanya yang dibalas dengan anggukan kepala dari ku. Ia membawa ku ketepian.

“Argh.. Appo..” kataku memegang kaki ku, Kris menarik badan ku menuju tempat yang lebih tinggi. Banyak warga sekitar yang melihat dan segera membantu kami. Ada yang membantu menaikan motor ke jalanan. Beruntung motor itu tidak tercebur kedalam sungai. Lalu ada seorang ahjuma yang memberikan kami handuk.

“Gwaenchana agashi?” Tanya Ahjuma itu.

“Ne.. Gwaenchana. Kamsahamnida ahjuma.” Kata ku. Aku melihat kearah Kris. Ternyata keningya berdarah.

“Omo.. Kris, gwaenchana?” Tanya ku. Ia mengangguk dan menyingkirkan rambut yang menutupi lukanya.

“Ne, hanya tergores sedikit.” Katanya, ada seorang anak kecil yang memberikan plester padaku. Lalu kupakaikan pada keningnya yang terluka. “Gomawo.” Kata ku sambil tersenyum pada anak itu. Kris mengucapkan terimakasih pula pada anak kecil itu dan warga yang membantu kami. “Aku harus menelpon umma dan memberi tahu kejadian ini, tetapi ponsel kutercebur air.” Kata ku pada diri sendiri, lalu ada seorang namja yang memberikan ponselnya lalu ku hubungi umma. Beruntung umma mengerti keadaan kami dan ia segera memerintahkan salah satu karyawannya untuk segera mengantarkan pesanan tersebut pada pemesannya. Lalu aku melihat kesebelah ku yang tadi di tempati oleh Kris, tapi namja itu menghilang entah kemana. Dengan susah payah aku berusaha untuk berdiri dan mencarinya. Tak begitu lama kulihat ia sedang melihat kondisi motornya.

“Kris..” Panggil ku. Dia tidak menjawab panggilan ku. “Kris..” Panggil ku lagi kali ini lebih kencang. Tapi tetap saja ia tidak menjawabnya juga. “Ya! Wu yi fan. Jawab panggilanku.” Teriak ku lagi. Padahal tadinya aku ingin bersikap baik padanya, mengingat ia tadi menolong ku.

“Mwo?” Jawabnya singkat.

“Kau ini kenapa? Aku hanya ingin minta maaf. Dan menurutku ini bukan kesalahnku saja. Kenapa kau seperti marah padaku?” kataku tak terima dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.

“Ha? Salah ku? Siapa yang mencubit ku dan memukul kepala ku seenaknya? Kau kan?” Katanya dengan nada tinggi.

“Siapa suruh kau bersikap seperti itu?” Kataku dengan nada tinggi pula.

“Seperti apa?” Katanya lagi.

“Ka.. Kau bertingkah seperti orang maniak, dan itu mengganggu ku.” Kata ku lagi apa adanya.

“Mwo?” Katanya terkejut, lalu ia tertawa mengejek. “Park Minhyo, aku tidak akan tertarik padamu. Kau sadar tidak, kau sangat jauh dari tipe ku.” Dengan nada yang mengejek dan di sertai seringaiannya yang menyebalkan sekaligus memabukkan. Hei, aku baru menyadari hal tersebut.

“Kau ini.” Aku segera berbalik dan berjalan secepat mungkin yang ku bisa dengan keadaan kaki yang terkilir ini.

“Minhyo, kau mau kemana?  Dorawa..!!” Teriaknya. Aku tidak menghiraukanya dan terus berjalan, kutanyai pada warda yang masih berada di tempat itu jalan menuju rumah ku, dan mereka berkata bahwa bisa dengan sekali menaiki bus, aku pun menaiki bus tersebetu dan tetap mengacuhkan Kris yang masih memanggil namaku.

“Dasar. Dia itu sok sekali. Aku tahu dia tampan. Tapi tidak usah berkata seperti itu juga.” Aku memilih duduk di barisan tengah. Anehnya di kendaraan ini hanya ada sopir dan seorang ahjusi di pojokan. Sopir bus tersebut terlihat gelidah saaat aku menaiki bus nya. Bus pun berjalan. Saat ku lihat ke jendela, ternyata Kris sedang mengejar bus ini.

“Minhyo!!! Minhyo!! Kau mau kemana?? Cepat turun dari bus itu!” teriaknya, aku berusaha mengacuhkannya. Lalu tiba-tiba ahjusi aneh tersebut pindah ke sebrangku, dan dia seperti memperhatikan ku. Aku pun segera maju dan duduk di dekat sopir. Bisa kulihat Kris masih mengejar bus ini. Ia menyalip bus ini dan menghalangi jalan bus ini. Secara mendadak sopir bus ini segera menginjak rem dan Kris segera masuk kedalam bus dan menarik ku keluar dari bus itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Aku ingin pulang.” Kata ku berusaha melepaskan tangan ku darinya. Bus itu pun kembali berjalan. “Kau ini apa-apaan?” kata ku dengan nada marah.

“Neo.. Jinja ppabonika. Tak sadarkah kau kalau ahjusi yang berada di bus itu adalah orang maniak?” katanya lagi.

“Eung, aku menyadarinya kok.” Jawabku berbohong dan melihat kearah lain.

“Lalu kenapa kau tetap menaiki bus itu?” kata Kris lagi.

“Aku sebal dengan mu. Kau tiba-tiba marah secara tidak jelas padaku. Jelas-jelas kau yang salah karena melepaskan tanganmu dan itu mengakibatkan kita tercebur ke sungai. Tapi kenapa kau malah marah padaku? Dan apa itu maksudmu kau berkata kalau aku ini buka tipe mu. Aku sadar. Tapi tidak usah berkata seolah-olah aku ini berharap untuk menjadi pacarmu. Kau itu menyebalkan.” Omelku padanya. Kris hanya pasrah, setelah itu ia tertawa.

“Kau tau, aku bukannya marah, saat kau datang aku sedang merenung karena aku sudah membuatmu terluka. Kaki mu jadi terkilir karena ku kan? Dan aku juga mengatakan kata-kata yang terakhir itu hanya berupa candaan saja.” Katanya menerangkan.

“kau itu, bercandanya keterlaluan. Bagaimana pun aku juga seorang wanita. Dan mendengar ucapan mu itu membuatku merasa sangat rendah dihadapan mu. Aku tidak suka itu.” Kata ku masih marah.

“Jinja? Tapi aku menyukainya.” Katanya dan tersenyum

“Ish.. Kau ini. Sudahlah aku ingin pulang.” Kata ku.

“Aku memang bercanda mengatakan kalau kau bukan tipe ku, karena kau itu baru saja masuk menjadi tipe ideal ku Park Minhyo.” Katanya, aku shock mendengarnya dan menghentikan langkahku. Ia tersenyum menarik tangan ku dan menuntunku untuk kembali mengendarai motor bersamanya. Saat tangan nya bersentuhan dengan tanganku, aku merasa pipiku menjadi lebih panas.

“Aish… Kau bercandanya keterlaluan.” Kata ku mengibaskan tanganku di daerah pipi ku.

“Aku tidak bercanda. Hei, wajahmu memerah. Apa kau menyukai ku juga?” Katanya.

“Kenapa kau itu percaya diri sekali? Aku hanya kedinginan.” Kata ku. Tentusaja aku kedinginan, mengingat lami baru saja tercebur kesungai dan pakaian ku belum kering sepenuhnya.  Sementara ia menggunakan jaket persediaannya. Ia lalu membuka jaketnya.

“Tak usah, nanti kau sakit kalau tidak memakai jaket.” Kata ku.

“Heuh, percaya diri sekali. Aku juga tidak ingin sakit kau tahu.” Katanya cuek.Tiba-tiba aku merasakan kehangatan mejalar di sekitar ku. Ternyata iamemasukkan tubuh mungilku kedalam jaketnya. Mengingat jaket yang ia gunakan cukup besar. Dan rasanya hangat. Entah hangat karena jaket ini yang memang tebal atau karena hal lainnya. Entahlah. Tiba-tiba saja otakku menjadi blank.

“Hangat bukan?” Katanya lagi. Aku hanya diam membeku. OhTuhan.. Berada didekapannya ternyata sangat amat lah nyaman. Seandainya dia tidak menyebalkan, pasti akan menjadi pria idaman yang sempurna.

Ku dorong badannya perlahan, “Aku .. Aku ingin pulang.” Kata ku yang masih berusaha melepas dekapannya itu.

“Ne, biarkan seperti ini, sebentar saja. Rasanya nyaman.” Kata dia lagi dan kini ia tengah menciumi ujung kepala ku. “Harum.” Gumamnya dan aku hanya diam saja.

`~(^^`~  )  `~( ^^ )~`  (~` ^^)~`

“Aigo… Apa yang terjadi pada anak umma eoh?” Kata umma ku begitu kami sampai di toko kue. Badan kami masih agak basah dan kini aku memakai jaket milik Kris.

“Kami tercebur kesungai ahjuma, karena kebrutalan anak mu.” Kata Kris pada umma ku.

“Anniyo.. Kris saja yang menyetirnya tidak benar umma. Dan aku tidak brutal.” Kataku membela diri. Enak saja aku dibilang brutal. “Aku ini elegean.” Kata ku percaya diri.

“Mwo? Elegan? Ini yang dibilang elegan.” Katanya tidak percaya dan membulatkan kedua matanya. “Mengerikan.” Katanya pelan dan membuang muka kearah lain, tapi bisa kudengar berhubung aku berada di sebelahnya.

“Kalian, hentikan lah bertengkar seperti itu. Kalian  itu dulu sangat dekat loh, kenapa beranjak dewasa kalian malah sering sekali bertengkar eoh?” Kata Wu ahjuma.

“Bukan salah ku ahjuma, dia yang mulai.” Kataku, aku berjalan untuk membuat kopi di coffe maker yang ada di tempat itu.

“Ya, buatkan aku juga.” Kata Kris dan dia duduk di dekat ummanya.

“Buat saja sendiri.” Jawab ku acuh.

“Kau ini.” Ku julurkan lidah ku padanya, dia terlihat memegang kepalanya. “Hatchi…” Dan ia pun mulai bersin-bersin.

Karena merasa empati, akhirnya kubuatkan pula kopi untuk nya. “Igeo..” Kuserahkan padanya.

“Ne, gomawo.” Jawabnya “Aish.. Kepalaku pusing sekali.” Katanya.

“Kau sakit?” Ku pegang dahinya, dan ternyata memang suhu badannya terasa lebih panas dari yang tadi. “Ternyata kau memang bisa sakit.” Kata ku.

“Ya. Aku ini manusia, jadi itu adalah hal yang wajar.” Katanya lagi.

“Sudah, jangan bertengkar lagi kalian ini.” Umma menengahi kami. “Minhyo, bisakah kau mengantarkannya pulang, sekalian kau juga pulang untuk mengganti baju?” Tanya umma ku.

“Tapi mobil ku masih berada di bengkel umma.” Jawab ku.

“Tadi sudah di ambil oleh Jung ahjusi.” Kata umma ku.

“Haah.. Baiklah. Ya, ppali.” Kataku mengajaknya. Kulepas jaketnya dan kukembalikan padanya.

“Ne.” Ia pun berjalan mengikuti ku. “Umma, Ahjuma, kami pulang dahulu ya.” Pamit Kris padanya umma ku dan ummanya. Aku pun ikutan pamit. Dan kembali berjalan menuju mobil ku.

Ku antarkan Kris sampai rumahnya, berhubung jarak antara rumahku dan rumahnya hanyalah bebrapa langkah saja. Kulihat dia tertidur didalam mobil ku. Ingin ku bangun kan tidak enak rasanya. Ingin kutinggalkan saja, tapi rasanya aku begitu tega.

“Kris, bangun kita sudah sampai.” Kataku perlahan, dan ia pun terbangun.

“Ne.. Aish,, kepalaku rasanya berat sekali..” Dia terbangun dan memegangi kepalanya kembali. “Gomawo Minhyo.” Katanya dan ia pun keluar dari mobilku, aku juga keluar dari mobil ku yang sudah kuparkir. “Kau masuklah duluan.” Katanya pada ku, dan aku pun lekas memasuki rumah ku. Dan setelah aku masuk, ia pun berjalan kearah rumahnya. Wajahnya masih terlihat pucat.

Aku masuk kekamar ku dan segera menyalakan air hangat di kamar mandi. Berendam sejenak dengan air hangat pasti rasanya enak. Dan segera aku masuk kedalam bath up setelah airnya terisi penuh. “Wah.. Segar sekali..” Rasanya memang sangat nikmat. Ku nikmati saat-saat damai ini. Sekitar limabelas menit ku sudahi acara berendam ku dan segera mengeringkan badan ku.

Baru saja aku keluar dari kamar mandi, umma ku menelfon. “Yoboseo. Wae umma?” Tanyaku langsung, ingin rasanya aku merebahkan diri di kasurku.

“Minhyo, bisakah kau kerumah Kris? Ia sedang sakit dan tidak ada siapa-siapa dirumahnya. Appanya sedang ada project bersama appamu dan pelayannya sudah pulang dari tadi.” Jelas umma.

“Ne umma, akan kutengok dia.” Kata ku. Aku pun segera memakai bajuku dan berjalan menuju rumahnya.

Ku ketuk rumahnya tapi tak ada seorang pun yang membukanya, “Apa mungkin dia memang pingsan.” Ku coba membuka rumahnya, “Ehm tidak di kunci?” Aku segera melangkah masuk kerumahnya. Aku berjalan kekamarnya, aku mengetahui kamarnya karena saat kami masih kecil, kami sering bermain bersama, dan kurasa kamarnya tidak akan berubah. “Kris…” Kupanggil namanya, tapi ia tidak juga menjawab. Akhirnya lagi-lagi kuputuskan untuk masuk begitu saja kedalam kamarnya. Kulihat dia memang sedang berbaring di ranjangnya dengan selimut yang tebal.

“Minhyo?” Panggilnya pelan ternyata ia menyadari keberadaan ku. Segera saja ku pegang dahinya dan ternyata badannya memang sangat panas. Segera ku ambil thermometer.

“Kau ini, kenapa tidak mengganti baju dulu, ppabo.” Kata ku. Dia memang tidak mengganti bajunya sama sekali. Baju yang tadi ia pakai memang sudah hampir kering. Tapi belum kering sepenuhnya. Ku cek thermometer tersebut, 39˚C. “Tinggi sekali.” Segera saja ku ambil air es dan handuk, lalu ku ambil baju yang nyaman untuknya. “Ganti baju mu dulu.” Ia menurutinya dan berjalan ke kamar mandi. Setelah berganti baju ia kembali berbaring dan ku letakan handuk itu di keningnya. Ku selimuti badannya. Dan aku pun berinisiatif untuk membuatkan bubur untuknya. “Tunggu lah, kau tidur saja.” Aku berjalan.

“Mau kemana?” Tanyanya menggenggam tangan ku.

“Aku akan membuatkan bubur untuk mu.” Kata ku, ia pun melepaskan genggaman tangannya. Lalu aku berjalan meninggalkan kamarnya menuju dapurnya.

Ku bawa mangkuk yang berisi bubur hangat dan segelas gingseng hangat kealam kamarnya. Ku letakan itu semua di meja yang berada di sebelahnya. Ternyata dia tertidur. ‘tampan’ itu yang ada di fikiran ku saat melihat ia tertidur.

“Kris, ireona.. Kau harus makan dan meminum obat.” Kata kua, ia pun terbangun ku serahkan bubur itu dan ia memakannya.

“Tidak ada rasanya.” Katanya. Dasar, sudah sakit masih saja menyebalkan.

“Itu karena kau sedang sakit, makanya apa yang kau makan tidak akan ada rasanya.” Kata ku. Dia hanya mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.

“Selesai.” Katanya tapi masih tersisa ½ porsi bubur di dalam mangkuknya.

“Kau belum selesai Kris.” Kataku.

“Tapi aku sudah kenyang Minhyo.” Kata Kris lagi. Ku ambil mangkuk itu.

“Buka mulut mu.” Kata ku sambil menyodorkan(?) sendok itu kearahnya.

“Aku kenyammmmm..” Segera saja ku masukkan sendok itu kedalam mulutnya.

“Minum ini, agar suhu badan mu kembali normal.” Ku berikan ia obat penurun panas ia pun meminumnya. Ku ambil mangkuk kosong itu dan berjalan keluar kamar mencucinya. Setelah selesai aku kembali kekamar Kris. “Wah, dia tertidur, mungkin efek obat.” Ku tarik selimut hingga menutupi lehernya, ku periksa lagi suhu badannya. “Sudah turun, syukurlah.” Aku segera keluar dari kamarnya dan berjaga diluar. Sesuai dengan wejangan umma padaku. ‘Jaga dia hingga kami kembali.’ Dan mau tidak mau aku pun menungguinya.

“Kenapa tidak ada acara yang seru.” Ku bolak-balik chanel tv dan tidak menemukan acara yang menarik minat ku. Ku putuskan untuk melihat-lihat rumahnya. “Omo, nomu kyeopta.” Aku melihat fotonya semasa kecil. Sangat imut. Aku kembali ke sofa dan mencoba untuk tertidur karena aku merasa lelah. Dan kuputuskan untuk tidur sebentar saja.

Ku buka mataku, nyaman. Itu lah yang kurasa. Perasaan ku tadi aku tertidur di sofa.

“Kau sudah bangun?” Aku mendengar suara seseorang. Kebiasaan ku adalah mengumpulkan nyawaku yang bertebaran entah kemana saat tidur.

“Omo! Kenapa aku ada disini?” Setelah sadar ternyata aku berada dikamar Kris.

“Kau itu, sebenarnya yang sakit itu aku atau kau?” Katanya duduk di sofa yang ada di kamarnya.

“Kenapa aku bisa ada disini?” Tanyaku.

“Kau tertidur lalu umma sampai dan menyuruhku membawa mu ke kamar ku.” Terangnya.

“Oh.. Baiklah.” Aku bangun dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu.

“Minhyo, chakkaman..” Kris menahan tangan ku.

“Wae?” Aku membalik badan.

“Na.. Na..” Kris terlihat gugup. “Jo.. Na..” Kris masih gugup. Dia terlihat menarik nafas. “Johae.” Katanya.

“…”

 

TBC

 

mohon maaf kalau banyak Typo-nya ya

My family, My friends, My everything

Standar

Mungkin gue hanya mengikuti jejak dari Leader dan juga Aling aja.

Intinya di sini gue mau berterima kasih sama keluarg gue selama di masa SMA, yang gue harap selepas ini kita tetep gk bakala melupakan satu sama lainnya. they are my family, my friend, my everything.

Gue inget awal mulanya kita itu kita gk deket. Pertama temen gue di kelas XI itu onnie (Mega Asri) seorang, lalu Firda muncul terus Pm (Putri Mutiara) juga muncul dan kita mulai brtemen. Awalnya gue nanya tentang SUPER JUNIOR ke onnie, dan ternyata di sambut baik oleh firda. Entah karena ada suatu problem yang menyangkut gue-firda-mega-pm, firda jadi agak ngejauh dan merapat ke Muti, Aufa, Yusrina, Devienna, Dini Anissa, dan Gita. Dan ternyata itu awal cikal bakal terbentuknnya pertemanan kita. Atas satu dasar, “K-POP’ers”

Lalu ½ tahun kemudian muncul lah seorang anak baru bernama Arina pramudita. Yang di awal pertemuannya terlihat begitu pendiam dan pintar *ok, pintarnya tetep* dan ternyata dia yang kita sapa Aling ternyata adalah seorang yang sealiran dengan kita. Awal kita mengetahuinya itu akibat kita menonton EHB. Dan kita memang punya ktertarikan yang sama.

,ulai dari situ kita sering main-main bersama bersebelas. Ada disaat kurang kerjaaan yaitu menunggu Muti *uri leader* yang sedang memimpin rapat Jurnal nya, disitu kita mengganggu nya dengan berbagai cara, yang berujung dengan jatuh nya Ina dan disaat itu untuk pertama kalinya liat dia nangis. Lalu ada ritual ulang tahun yang dibuka dengan ulang tahun Onnie ke-17 dan untuk saat ini ultahnya Aufa yang ke-18. Mungkin bener kata alung di blognya. Aufa penutupan karena kita akan memulai jalan masing-masing yang kita pilih. Lalu disaat kita bermain sesuatu di rumah nya Ina yang berujung dengan sutu insiden yang memalukan. Kalau di ingat itu bikin purik.

Lali ada disaat masa UTS, saat itu kita mendapat kabar kalau boyband idola kita akan datang yang sukses membuat galau kita ditengah test yang sedang di lancarkan. Dan hal itu berujung dengan perginya gue, Mega,Aling,Ina dan Gita yang ditambah Risda dan sepupunya serta temannya Aling menonton bersama untuk bertemu mereka pertama kalinya.

Lalu ada hal yang gue inget, saat itu setelah memakai proyektor untuk presentasi kelompok, Muti menyetel Video-Video SuJu yang berujung dengan kegemparan kelas akan Siwon.

Kita juga sering menirukan permainan-permainan yang kita dapat dari vaerity show yang kita tonton. Dan membuat satu kelas tertarik dengan hal-hal yang kita lakukan.

Kita juga sering menghayal kehidupan kita dengan bias-bias masing-masing. Dan disaat khayalan kelas itulah nama Dream Class di sebut. Lal kita memulai menghayal kalau Ina itu presdirnya, lalu ada yang jadi penyanyi, aktris, main dancer. Hahaha itu kepelehan yang menyenangkan..

Disaat kenaikan kelas, gue sempet khawatir, apa disaat kelas XII nanti kita akan sering main, kumpul-kumpul bersama karena pasti kita akan di acak dan susah untuk satu kelas bersama-sama bersebelas lagi. Tapi meskipun kita menjadi riga baian kelas dengan formasi 3-5-3 kita tetap sering berkumpul bersama. Memakan bekal di depan kelas bersama, jajan bersama. Pergi ke kantin berasama yang terlihat seperti sekumpulan anak cewe yang berjalan berentetan di khayalan gue, kita terlihat seperti mau membunuh(?) seseorang. Terus kalau kita mau pergi kerumah seseorang, kta terlihat seperti geng motor. Haahahaha… itu hanya khayalan liar gue saja.

Terus waktu kita pergi ke UI, kita janjian untuk berangkat pagi dan itu pengalaman gue pertama kali naik kereta tanpa orang tua. Terus kita ketinggalan kereta karena telat, kereta udh di depan mata dan pintunya tertutup begitu saja. Lalu kita nunggu kereta sesi berikut nya. Lalu di saat pulang ternyata keretanya delay lumayan lama. Dan kita nangkring di stasiun manggarai *lupa berapa lama* terus kita jajan di indomart membeli keperluan makan. Terus saat Ina sedang membeli, ternyata kereta nya datang. Lalu kita berlari menyeberangi rel menuju ke kereta.

Ini Cuma sekilas aja dari dua tahun yang gue alami bersama Dcent. Terlalu banyak kejadian yang susah untuk diungkapkan dalam bentuk tulisan ini. DC adalah bagian dari hidup gue. DC adalah keluarga gue. Gue berharap kita aka sukses dengan jalan yang udah kita pilih. Dan semoga suatu saat nanti kita bisa menginjakkan kaki di tanah impian kita KOREA SELATAN. Dan bisa mengelilingin negara tersebut..

 

DCent. WE ARE FAMILY!!

*terinspirasi slogan Exo.

DCent. YOU ARE MY FAMILY , MY FRIENDS AND MY EVERYTHING..

Image

 

Our Time In Paris

Standar

“kevin.. kkaja, kita akan tertinggal pesawat kalau kau tidak selesai juga mandinya.” Teriak Minhyo.

“Minhyo.. aku capek…” Kata kevin yang baru saja keluar kamar mandi dan memeluk minihyo.

“Kau ini.. Kkaja.. makanya kau itu terlalu rakus sih..” kata Minhyo berbalik dan menyentuh hidung bangir Kevin lalu mengecup pelan bibirnya. “Kkaja pakai bajumu..” Minhyo mendorong Kevin dan memakaikan bajunya.

***

“Kevin!! Minhyo!! PALLI!!” teriak Sungra.

“Biarkan saja dulu Sungra, mereka masih letih.. hahahaha.” Tawa Jaesop a.k.a AJ

“hahahaha..” mereka tertawa bersama.

“Jadi kalian akan menghabiskan bulan madu kalian di Paris.. Kami sudah menyiapkan Hotel yang pasti sangat berkesan di sana.” Kata Harin

“ne.. Jadi, bersenang-senang lah…” teriak Kisseop.

“Gomawo… baiklah.. kami pergi dulu..” Kevin dan Minhyo pun masuk ke dalam terminal Internasional.

“bye…” para member Ukiss yang lain mengucapkan salam perpisahan secara bersamaan.

Setelah Kevin dan Minhyo pergi para member Ukiss beserta Istri langsung pergi menuju loket pembelian tiket pesawat.

“Ajushi.. kami pesan 14 tiket menuju Paris.” Kata Eli

“ne.. kelas apa?” tanya Ajushi itu

“hemm.. tunggu sebentar.. Kita akan mengambil kelas apa?” tanya Eli yang menjadi juru bicara(?).

“Kita tidak mungkin mengambil kelas eksekutif kan? Pasti mereka akan menyadari keberadaan kita.” Kata Hoon.

“ne.. ah, kelas bisnis saja?” kata Aj

“ne..tapi bagaimana jika ‘Kiss me’ menyadari keberadaan kita?” tanya Kisseop narsis.

“ne.. itu sudah resiko. Jadi kita mengambil kelas bisnis saja ya..” kata Eli lagi. Eli pun berbalik dan menghadap ke loket lagi. “Ajushi, kami memesan 14 tiket kelas bisnis saja.” Kata Eli

“ah.. Mian, baru saja saya mengecheknya, ternyata sudah habis.” Kata Ajushi itu.

“eum.. kalau kelas eksekutif?” tanya Kibum

“itu juga telah habis.” Kata Ajushi itu.

“lalu yang tersisa kelas apa?” tanya Seohyun

“eum.. hanya kelas VIP saja..”kata Ajushi itu.

“Ajushi.. kenapa tidak berbicara dari tadi? Kalau begini kami akan memesan tiket VIP saja.” Ucap Eli geram.

“hehehe.. mianhe.. baiklah, 14 tiket menuju Paris kelas VIP.” Ajushi penjaga tiket itu pun memberikan 14 lembar tiket. Mereka yang tengah bertugas membawa barang bawaan segera melaju meuju boarding pass. Dan menunggu jam keberangkatan yang akan dilaksanakan 10 menit lagi. Mereka pun dengan terburu-buru dan berhati-hati menuju tempat pesawat mereka akan berangkat.

Perjalanan Seoul-Paris memakan waktu sekitar 12 jam. Kevin dan Minhyo memasuki pesawat dan duduk di seat yang tersedia di tiket mereka.

“Disini kita duduk..” Kevin mempersilahkan Minhyo untuk duduk di dekat jendela.

“Perjalanan menuju Paris  12 jam. Pakai sabuk pengaman dulu.” Kevin memakai kan sabuk pengaman Minhyo. Lalu memakai sabuknya sendiri. Tak beberapa lama pesawat pun Take Off. Mereka menghabiskan waktu di pesawat dengan mengobrol, terkadang kevin merangkul pinggang Minhyo. Karena sudah lelah mereka akhirnya tertidur.

 

***

“PARIS!!! HELLO!!” Teriak Kevin begitu sampai di bandara internasional Paris Le Bourget Airport.

“Kevin.. Jangan seperti itu.” Minhyo berbicara pada Kevin.

“Wae Minhyo.. Ah, kkaja kita ke penginapan kita. Aku lelah.” Kevin dan Minhyo memasuki sebuak taksi yang akan mengantar mereka ke penginapan mereka yang berjarak 13 km dari Paris Le Bourget Airport.

Sesampainya di Champ Ellysess Hotels mereka segera ke bagian lobby di bagian lobby terlihat begitu glamour, dengan dekorasi yang sangat menakjubkan. Sementara Kevin melakukan registrasi, Minhyo menunggu di sofa yang sudah di sediakan oleh hotel tersebut untuk menunggu.

“Minhyo.. Kajja.” Minhyo pun berdiri dan menghampiri Kevin. Bel boy membawa bawaan mereka. Mereka pun menuju kamar yang telah di pesan oleh member Ukiss.

***

WOW..

Satu kata yang bisa digambarkan oleh Kevin dan Minhyo. Karena tidak main-main kelas kamar yang di pesan oleg member Ukiss..

Kelas

DELUXE BALNEO

“Apa kita salah kamar?” Tanya Minhyo

“Ani.. Ini kamar yang di pesan oleh mereka.” Jawab Kevin masih takjub.

“This is the key.. Enjoy your night in this hotel sir.” Kata bellboy itu.

“Thankyou, ah this is for you.” Kevin memberikan beberapa lembar uang pada bellboy itu.

“So.. Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanya Minhyo.

“Anni.. Ah.. Aku sepertinya lelah selama 12 jam perjalanan ini. Aku ingin tidur saja..” Kata Kevin.

“Arra… Aku ingin mandi dahulu.. Kau tidak mau mandi?” Tanya minhyo lagi.

“Ne.. Ah mandi bersama saja.” Kata Kevin lagi lalu Kevin mendorong Minhyo ke kamar mandi.”

“Kev.. Katanya kau capek?” Tanya Minhyo lagi. Masih bertahan di depan pintu kamar mandi.

“Ne? Kan hanya mandi.. Atau kau ingin sesuatu yang lebih??” Tanya kevin yang menaikan sebelah alisnya.

“Anni.. Kkaja mandi..” Minhyo dan Kevin pun masuk ke kamar mandi.

 

***

“Kevin.. Kkaja kita jalan-jalan.. Aku bosan.. Memangnya kau masih lelah?” Tanya Minhyo sambil memainkan hidung Kevin.

“Ne.. Aku masih malas Minhyo.. Nanti saja…” Kata Kevin yang malah membalik badan.

“Ish.. Kau ini.. Ayo kita menikmati hari-hari bebas yang jarang kau dapatkan ini.” Kata Minhyo lagi..

“Shiro.. Aku malas…” Kevin menutup kepalanya dengan bantal.

Minhyo yang kesal pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Ia memakai pakaian nya dan berjalan kearah pintu.

“Kau mau kemana?” Tanya Kevin.

“Breakfast.. I’m hungry.” Minhyo pun memakai sandalnya.

“Wait me..” Kevin pun segera berjalan untuk menyikat giginya dan membasuh mukanya.

“Did you lazy to go? Why you gou out with me?” Balas Minhyo dengan nada sebal.

“I just feel hungry.. Let’s go to breakfast. And I’m sorry Minhyo.” Kevin pun mendaratkan ciuman singkat di pipinya. Mereka pun berjalan menuju restaurant yang telah di sediakan pihak hotel.

Restaurant di hotel ini memiliki dekorasi yang sangat uniq. Terkesan klasik namun mewah. Dindingnya di biarkan berbentuk batu bata tanpa di lakukan pengecatan. Terdapat beberapa lampu yang memberi kesan antiq pada ruangan ini. Memang harga menginap 230.000 won permalam sepantar dengan pelayanan di hotel ini.

Mereka pun memesan makanan yang tersedia dalam daftar menu.

“Kevin setelah ini kita akan kemana?” Tanya Minhyo.

“Aku ingin belanja.. Sudah lama aku tidak berbelanja.” Jawab Kevin.

“Setelah itu kita ke menara Eifel? Aku ingin kesana..” Ajak Minhyo.

“Ne.. Sekarang waktunya makan.” Kevin dan Minhyo pun melanjutkan aktifitas sarapan mereka.

 

***

“Kevin.. Kita sudah lama berbelanja.. Ini sudah 8 jam lebih. Kaki ku pegal…” Minhyo berkata dan duduk di etalase toko. Minhyo memang tidak begitu menyukai shopping. Ia lebih menyenangi petualangan menuju tempat baru. Baginya itu lebih mendapat kepuasan batin dibanding dengan berebelanja yang hanya menguras uang. Apa yang akan ia lakukan jika barang yang ia beli sudah tidak terlalu di butuhkan lagi.

“Kevin. Aku bosan.” Kata Minhyo lagi.

“tunggu sebentar. Sebentar lagi aku selesai.” Kata Kevin. Kevin pun segera membaya belanjaannya. “Minhyo kkaja..” dia menarik minhyo pergi tanpa rasa bersalah.

“Setelah ini kita ke mana? Aku bosan.” Kata Minhyo.

“Kkaja kita makan Pizza. Restaurant di sini terkenal sangat enak.” Kevin menarik Minhyo pergi.

Minhyo masih menikamati Pizza di salah satu restaurant di Champ Ellysess ini. Dari dalam restaurant ini ia bisa melihat kemegahan dari benteng terindah di Prancis. Yang menjadi tempat perayaan kemenangan PD II ini.

“kau tidak menyukai makanannya?” tanya Kevin.

“anni.. hanya saja aku ingin berjalan-jalan. Bagaimana kalu setelah makan?” tanya Minhyo lagi.

“aku lelah Minhyo.” Kata Kevin sambil melanjutkan makannya.

“ne.. arra.” Minhyo kembali makan. Tidak ada perbincangan lagi. Minhyo merasa kesal kepada Kevin karena Kevin terlalu asik dengan dunianya sendiri. Lebih baik mereka tetap berasa di Seoul saja.itu menurut Minhyo.

Selesai makan pmereka pun kembali ke Hotel. Minhyo berjalan mendahului Kevin. Saat di Lobby hotel ada seorang gadi yang menegur Kevin.

“Hi.. Are you Ukiis’s Kevin Woo?” tanya gadi berambut pirang itu.

“Yes I am. Why you can know me?” tanya Kevin dengan ramah tanpa mempedulikan Minhyo yang sedang menunggu di depan lift.

“I’m  your fans. From Korea.” Kata gadis itu.

“Really.. oh Hi.. what’s your name?” tanya Kevin lagi

“Minjung Kim. Aku ingin berfoto dengan mu.. boleh kah?” tanya gadis berambut pirang bernama Minjung itu.

“Of course.. why not.” Mereka pun berfoto. Karena merasa tidak di pedulikan oleh Kevin Minhyo segera masuk ke pintu lift yang telah terbuka dan meninggalkan Kevin bersama ‘FANS’ nya itu.

“dasar. Sudah menikah masih berkelakuan seperti itu. Kevin Woo!! Neo jeongmal ppabonika.” Gerutu Minhyo saat berada didalam lift.

Minhyo memasuki kamarnya berganti baju, menaruh belanjaannya yang ‘TIDAK SEBANYAK’ Kevin. Lalu ia kembali keluar kamar dengan membawa kamera di lehernya. Ia benar-benar jengah dengan tingkah Kevin selama berada di Paris.

Di lobby, Minhyo melihat Kevin yang masih bersama ‘FANS’nya yang menyebalkan bagi Minhyo.

“tch.. apa-apan itu, sudah menikah masih saja berdekatan dengan yeoja lain.” Minhyo yang kesa segera menitipkan kunci kamarnya ke receptionist. Ia pun melangkah keluar untuk pergi menuju Arc de triomphe yang berada di ujung jalan Champ ellyses. Tanpa mempedulikan fakta bahwa ia seorang wanita yang berjalan di tengah kota yang tidak ia ketahui seluk beluknya.

“haa… membosankan. Kenapa Kevin harus bertemu fansnya. Dan kenapa fans nya itu TIDAK mempedulikan STATUS seorang Kevin Woo. Aarrggh!!” Minhyo berteriak di sepanjang jalan. Dia tidak perduli toh tidak akan ada yang mengerti bahasa yang ia gunakan. Ia terus melanjutkan berjalan, masih berada di sekitar Arc de Triomphe,  ia memasuki daerah taman yang terbilang cukup sunyi dan sepi. Tetapi ia tidak peduli. Ia masih terus melanjutkan wisata fotografi di sana. Karena ia merasa lelah ia pun duduk di bangku taman.

“Kevin Woo Pabo!!!” masih berteriak tidak jelas.

“fuuh.. Hello beautifull girl.” Tiba-tiba Minhyo mendengar suara lelaki yang sangat aneh. Minhyo segera berdiri dan melangkah.

“Where are you going??” tiba-tiba ada seorang pria berambut pirang yang mencegatnya. Minhyo masih mengacuhkannya dan masih berusaha melepas tangan pria pirang nan mesum itu.

“YA!! Don’t touch me!” Minhyo berteriak ketika salah seorang pria itu menarik tangannya.

“Come on, play with us.. It will be so amazing girl.” Salah seorang pria itu berbicara. Minhyo segera melepas tangannya dan lari secepat mungkin dari tempat itu. Tapi kedua pria itu masih mengejarnya. Lari kedua pria itu sangat cepat karena di dukung oleh kaki panjang yang mereka miliki. “Someone please help me….” teriak Minhyo, tapi itu percuma karena daerah itu sepi. Minhyo tidak tahu kemana ia berlari, karena ia memang tidak mengenal daerah itu. Dia amat sangat asing dengan tempat itu. Hingga ia menabrak seseorang.

“I’m sorry.. please help me..” ucap Minhyo yang segera berlindung dibalik orang yang ia tabrak itu.

“Minhyo? Are you okay?” kata orang itu.

“Kevin? Kevin.. aku takut, aku dikejar oleh dua pria mesum berambut pirang.” Kata Minhyo lagi. Ia merasa agak tenang dengan kedatangan Kevin.

“Benarkah? Ayo kita pergi daari sini. Kevin menggenggam tangan Minhyo dan bergegas untuk pergi. Namun langkahnya terhenti ketika seorang pria menghalangi jalannya.

“Where are you going guys?” Pria itu mendekat.

“Minhyo ottokhae?” Kevin berjalan mundur, Minhyo masih berada di belakangnya.

“Nan Mollaseoyo. Kyaaa!!” Minhyo berteriak ketika seseorang memegang pundaknya.

“Minhyo!!” kevin segera berbalik. “Don’t touch my wife. Go away from here!” Kevin berteriak dan melindungi Minhyo.

“heuh, what can you doing boy? You are nothing for us.” Kata kedua pria itu. Kevin yang merasa kesal memukul pria itu. Namun yang terjadi malah Kevin yang kesakitan.

“omo.. gwenchana?” tanya Minhyo. Pria itu menghampiri Kevin dan menonjok pipinya.

“Kevin…. Omo..” Minhyo kaget. Ia melihat ke sekitarnya dan menemukan ranting pohon  yang cuku besar. Ia mengangkatnya dan melemparnya pada salah seorang pria itu. Pria itu merasa kesakitan lalu berbalik menghampiri Minhyo. Minhyo lalu memasang kuda-kuda, pria itu makin mendekat. Minhyo pun menendang pria itu. Lalu ia pukuki pria itu dengan tas yang ia bawa. Lalu ia memukul pria itu bertubi-tubi. Pria itu pun kalah seketika. Pria yang satunya menghampiri Minhyo, Minhyo melepas sepatunya lalu melemparnya tepat di bagian bawah pria itu. Ternyata hal itu berhasil membuat pria pirang nan mesum itu kesakitan, ia pun segera pergi dan menarik temannya yang sudah pingsan akibat ulah Minhyo. *gagah amet gue (=,= )*.

“Kevin.. gwenchana??” Minhyo menghampiri Kevin dan membantunya berdiri.

“Ne.. kau hebat dan mengerikan.” Kata Kevin.

“YA! Apa maksudmu?” Minhyo mendorong Kevin kembali ketanah.

“aauw.. omo Minhyo, sakit.” Rengek Kevin manja.

“biar saja. Rasakan itu.” Minhyo mengambil tasnya lalu memakai sepatunya dan kembali berjalan meninggalkan Kevin.

“Minhyo.. Mian… kenapa tadi kau pergi sendiri??” tanya Kevin yang mengejar Minhyo.

“Kenapa katamu? Tanya kan pada FANS mu yang me-nye-bal-kan itu.” Minhyo menekan kata menyebalkan nya.

“oh.. Minjung? Dia itu menyenangkan kok.” Kata Kevin polos.

“yeah yeah.. What Ever. I don’t like hers. Dia sangat mengganggu.” Kata Minhyo lagi.

“anni.. dia fans yang baik.” Kata Kevin penuh semangat.

“SHUT UP. DONT TALK ABOUT HERS AGAIN. I DON’T LIKE HERS KEVIN WOO. Talk to my hand if you want to talked abaout hers again.” Minhyo sudah habis kesabarannya. Ia segera berjalan memasuki lobby hotel meninggalkan Kevin di belakangnya. Ia menekan tombol lift.

“Minhyo.. mianhe.. aku tidak bermaksud membuat mu marah, aku hanya mengatakan kenyataan.” Kata Kevin lagi.

“ya.. ya.. yaa… “ Minhyo menutup telinganya dan memutar bola matanya jengkel.

“oh.. Oppa..” Pintu lift terbuka dan menampakan seorang gadis yang Minhyo sebali. “Oppa, ada apa dengan wajah mu?” tanya gadi itu. Minhyo yang jengkel segera masuk dan menubruk gadis itu dengan sengaja.

“Hei.. kalau berjalan hati-hati. Kasar sekali sih.” Kata Minjung. Kevin juga masuk ke dalam lift.

“kenapa kau tidak jadi keluar?” tanya Kevin.

“aku ingin mengobati luka mu oppa.” Kata Minjung ketika pintu lift tertutup.

“ouh.. baik sekali kau. Kau bukan siapa-siapanya tapi sangat peduli padanya.” Kata Minhyo dengan nada merendahkan.

“Eoni, uri oppa sedang kesakitan. Wajahnya adalah asetnya. Jadi kita harus mengobatinya.” Kata Minjung yang kini mengeluarkan obat oles dari tasnya.

“apa? ‘uri’ memang nya dia siapa kau ha?” Minhyo masih berusaha menahan suaranya agar tidak meledak.

“aku fans nya.” Ia mendekati Kevin dan mengoleskan obat iti.

“Eung, Minjung lebih baik aku saja yang mengoleskannya.” Kata Kevin ia merasa hawa yang tidak enak dari sebelah kanannya.

“Wae? Kenapa berhenti?” tanya Minhyo semakin ketus.

“Anni.. eoh, kau turun di lantai berapa Minjung?” tanya Kevin mengalihkan pembicaraan.

“Aku turun di lantai 6 oppa.. Oppa sendiri?” tanya Minjung.

“ah, lantai…

“apa urusan mu? Ini sudah lantai 6. Ppali kembali keruangan mu.” Minhyo memotong pembicaraan.

“ne.. oppa, annyeong. Onnie, jangan marah marah terus, nanti cepat berubah menjadi ajhuma-ajhuma loh.. kan kasian namja chingu yang mau sama onnie.” Kata Minjung dan ia segera berlari keluar dari lift.

“YA!!! APA MAKSUDMU HA!!!” Minhyo berteriak dan ingin mengejar anak itu. “tch.. kalau pintu lift ini tidak tertutup, sudah ku hajar anak itu.” Minhyo mengepalkan tangannya. Entah mengapa sejak Kevin bertemu Minjung moodnya langsung menurun drastis. Terlebih sikap Kevin yang terlalu berlebihan.

“Minhyo.. uljima..” kata Kevin.

“Shikuro. Malam ini jangan berharap kau bisa menyentuh ku.” Minhyo segera turun dari lift begitu sampai di lantai tempatnya menginap. Ia bergegas menuju kamarnya.

“Minhyo.. Mianhe.. Aku tidak…”

“Tidak apa ha?” Minhyo masuk ke dalam kamar mereka, menaruh kamera dan tasnya.

“Minhyo..” Kevin memulai aegyonya. (T,T a)

“ya.. ya.. ya.. itu tidak mempan.” Minhyo berjalan ke kamar mandi, Kevin masih mengikutinya dari belakang.

“Min..”

BRAK!!

Minhyo membanting pintu kamar mandi tepat saat Kevin di belakangnya. Beruntung hidungnya masih terselamatkan(?).

“aish.. ottokhae…” Kevin berjalan menuju balkon. Dia mengambil handphone nya.

“Ku ttelfon Kisseop saja. Biasanya dia yang paling bisa menenangkan wanita. Khususnya Harin kalau Harin sudah ngamuk.” Dia pun menelfon Kisseop.

#Kisseop Place

“haaa.. Kevin woo ppabo. Masa malah dia yang dilindungi oleh wanita.”Kisseop melemparkan diri ke sofa yang ada di ruangan itu.

“ne… Kevin sangat bodoh.” AJ duduk di sebelahnya. “Aku tidak menyangka kalau Minhyo hebat juga. Dia sangat….. mengerikan.” Kata Eli.

“ne… itulah uri Minhyo. Kalian jangan macam-macam dengannya. Kalau tidak nasib kalian akan seperti pria yang kalian bayar tadi.” Kata Seungra.

“ne….” kata mereka serempak.

Bokura ni wa kasanette kita

Suteki na omoide mo aru keredo

“eoh.. Kevin menelpon?” Kisseop mengambil handphonenya. Begitu mendengar siapa yang menelfon, mereka langsung mengerubungi Kisseop. Kisseop mengangkatnya dan me-loud speakernya.

“Yeobseyo..” kata Kevin

“Yeobseyo, wae??” Tanya Kisseop to the point.

“Kisseop, bagaimana cara menenangkan wanita yang sedang marah?” tanya Kevin.

“Wae? Apa Minhyo marah?” tanya Minhyo, mereka yang ada di dekat Kisseop makin merapatkan diri.

“ne.. haaaah..” Kevin menghela nafas.

“ini semua karena kau yang dilindungi, bukan melindungi..”gerutu Kisseop pelan.

“Ne.. apa katamu?” Kevin mendengar sesuatu yang Kisseop ucapkan.

“Ne.. anni..” Kisseop segera membantahnya.

“PAABO!!!” bisik Seohyun di sebelah Kisseop, Kisseop pun di pukul oleh Eli dan dicubit oleh Harin.

“appo.. miaan..” Kisseop menjauhkan diri dari handphone nya lalu menendang Aj.

“Ya.. bukan aku. Eli..” Aj membela diri.

“Kisseop? Kau masih disitu? Kevin melanjutkan telefonnya.

“ne.. ah, lebih baik kau minta maaf dan memberinya bunga saja.” Kata Kisseop.

“begitu kah? Tapi setahuku Minhyo bukan tipe gadis yang seperti itu.” Balas Kevin.

“jinja.. eung, kau berikan saja di coklat. Atau makanan kesukaannya.” Kata Kisseop.

“benar juga.. tapi apa masih ada toko yang buka?” jawab Kevin lagi.

“aigo.. Kevin Woo.. kita berada di Paris sekarang.” Teriak Kisseop frustasi.

“ha? Kita? Apa kau juga ada di Paris?” Kevin mulai curiga.

“an.. anni.. maksudku kau.. euh, Kevin Harin memanggil ku. Sudah dulu ya.”  Kisseop menutup telfonnya.

“Ya!! Kau ini.. hampir saja Kevin mengetahui keberadaan kita.” Kata Kibum frustasi.

“ne.. mian, habis Kevin tidak berfikir sama sekali. Kita ada di Paris. Ini kota pariwisata. Pasti ada supermarket 24 jam. Aku frustasi.” Kisseop membela diri.

“dasar kau.” Harin mencubit pinggang Kisseop.

“appo…” kata Kisseop dengan aegyonya.

“tidak mempan.. sudah lah, jadi kita harus fikirkan apa yang harus kita lakukan agar mereka berdua berbaikan.” Kata Harin sambil menjauhkan Kisseop dari jangkauannya.

“ne.. apa yang harus kita lakukan….” kata Seungra.

“ah, bagaimana jika kita mengadakan dinner di salah satu restaurant dekat situ.” Young rin akhirnya mengeluarkan suaranya.

“ne.. itu benar.. aigo.. nae anae neomu yeoppo.” Kata Kibum sambil mencubit pipi Youngrin.

“tapi, bagaimana kita mengontact mereka? Tidak mungkin kita yang memberi tahu Kevin atau Minhyo kan??” kata Sungyoung.

“bagaimana kalau kita perintahkan Kevin saja?” kata Dongho.

“ah… Uri Dongho.. “ teriak mereka bersama.

“Kisseop, Ppali beri tahu Kevin!” perintah AJ.

“Ne!!!” Kisseop segera menghubungi Kevin. “Kevin, kenapa tidak kau ajak Minhyo dinner saja?” kata Kisseop penuh semangat.

“ne.. tapi makan dimana??” Kata Kevin lagi.

“haaah..” Kisseop menghela nafasnya. “kenapa kau tidak mengajaknya makan restaurant pasta depan hotel mu? Di situ sangat enak Kevin..” kata Kisseop lagi.

“bagaimana kau tahu kalau di depan hotel kami ada restaurant pasta? Dan darimana kau tahu kalau rasanya enak. Kau ada di Paris kan?” tanya Kevin lagi dengan nada penuh curiga.

“eung.. itu aku.. aku tahu dari.. dari internet.. ya dari internet. Sekarang ini zaman sudah canggih.” Terang Kisseop gugup.

“tapi aku tidak yakin itu rasanya enak.” Kata Kevin berusaha memancing Kisseop.

“aaaa… Kevin, aku sudah mencicipinya begitu kami sampai di Paris. Kau ini.. Argh!!!!” Kisseop berteriak frustasi. “omo…” Kisseop segera sadar akan ucapannya dan langsung menutup mulut dan merasa hawa dingin di sekitarnya, karena ada 13 pasang mata yang menatapnya seakan-akan ingin menelan hidup-hidup dirinya.

“Kisseop.. kau ada dimana ha? Ppali jawab yang jujur!!” teriak Kevin dari seberang sana.

“ani.. maksud ku saat aku ke Paris.” Jawab Kisseop berusaha mengelabui Kevin

“kapan kau ke Paris? Kau dimana? Apa kau ada di kamar sebelah?” kata Kevin lagi.

“anni.. waktu itu.. tidak aku tidak di kamar sebelah mu.. oke? Sudah dulu ya.. bye!!” Kisseop segera manutup telfonnya.

#Kevin Place

“pasti mereka ada di negara ini. Aku yakin.. baiklah besok aku akan mencari mereka. Sekarang fikirkan bagaimana cara meminta maaf pada Minhyo. Aigo..” Kevin mengacak rambutnya.

Pintu kamar mandi terbuka, Minhyo telah keluar dan sedang mengeringkan rambut dengan handuknya. “Ppabo. Apayang kau lakukan? Kangen dengan Minjung kah?” Tanya Minhyo ketus. Minhyo menaruh handuknya dan berjalan ke tempat tidur. Ia membungkus dirinya dengan selimut.

“anni.. Minhyo.. mianhe ne..” kata Kevin lagi. Kevin pun berjalan ke tempat tidur dan duduk di pinggirannya. “Minhyo.. chagia..” Kata Kevin lagi. Tapi Minhyo tidak menjawabnya.

“aku tahu kau belum tidur.” Kevin tiduran di sebelah Minhyo dan mengalungkan tangannya di pinggang Minhyo. Minhyo melepas tangan Kevin dan menendangnya dari tempat tidur hingga terjatuh. “appo..” kata Kevin lagi.

“tidak ada peluk-peluk malam ini.” Minhyo menaruh guling di tengah. “Kalau kau ingin tidur di tempat tidur, kau tidur di sisi sana.” Minhyo kembali menaruh kepalanya dibantal dan menutup matanya.

“minhyo.. mianhe.. saranghae..” kata Kevin ia bangun dan mengganti bajunya lalu ia pergi tidur di sebelah Minhyo (tepatnya guling).

 

***

Minhyo membuka matanya dan menyessuaikan dengan cahaya yang masuk melalui jendela. Semilir angin begitu terasa karena pintu balkon terbuka. Ia melihat kesebelahnya, Kevin sudah tidak ada di kamarnya. “Pasti Kevin sudah bangun duluan.” Minhyo bangun dan berjalan ke kamar mandi, ia membersihkan mukanya dan menyikat giginya. Ia melihat sebuah note di cermin di kaamar mandi.

Ia mengambilnya dan membacanya.

 

 

Minhyo…

Mianhe.. Jeongmal…

Bukan maksudku untuk mengacuhkanmu

Tapi ini adalah tuntutan profesi kami…

Kami harus memperdulikan fans…

Aku tunggu kau jam 06.00 malam di restaurant depan hotel kita..

 

Saranghae…

Suami tertampanmu..

 

(^v^)//

Woo Sunghyun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Dasar.. kau itu bukannya Tampan.. kau itu cantik.” Minhyo terkekeh membacanya. Sebenarnya ia sudah memaafkan Kevin. Ia pun mengerti kalau itu adalah tuntutan profesinya sebagai seorang Idola. Minhyo hanya merasa sedikit risih saja dengan sikap Minjung yang berlebihan.

“apa yang harus ku lakukan.. Kevin sudah keluar duluan..” Minhyo pun melanjutkan aktifitasnya.

 

#Kevin Place

“aku harus menemukan mereka dan meminta bantuan mereka..” kata Kevin yang sedang berjalan di sekitar hotel. “Ku lacak mereka saja dengan GPS” Kevin pun menghubungi Kisseop dan berusaha melacak keberadaan Kisseop dengan GPSnya.

“Yobseyo.. Kisseop.. berikan petunjuk apa yang harus aku lakukan.” Kata Kevin langsung.

“…”

“Ne..”

“…”

“Nee..”

“…”

“Arraseo..”

“…”

“Baiklah.. “ Kevin memutuskan sambungannya. “I got you guys.” Kevin pun segera berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh GPS nya.

“Mwo? Ternyata mereka memang ada di hotel ini. Dasar kalian..” Kevin pun berjalan lagi.

“Lantai 9? Itu kan ruangan ku.” Gumamya.

“901, 903, 905, 907, ini dia.. mereka ada di 907..” Kevin melihat kamar di sebelahnya. “909. Ini ruangan ku. Dasar mereka. Jangan-jangan mereka menguping apa yang aku dan Minhyo lakukan.” Kevin menggedor pintu kamar itu.

“Layanan Kamar…” katanya.

#Kisseop side

“hah,,, ada-ada saja Kevin.” Aku pun melanjutkan tidur ku dan memeluk Harin lagi.

“nugu??” Tanya Harin.

“Kevin..” aku kembali memejamkan mataku hingga suara bel yang di susul ketukkan di pintu kamar ku.

“Kisseop, buka itu.” Kata Harin.

“ne..” aku berjalan ke pintu dan membukanya.

“nuguseyo???” kata ku

“layanan kamar.” Kata orang diluar aku membuka pintunya.

“annyeong.” Kata orang itu. Betapa kagetnya saat ku buka pintu Kevin sudah berada di depan pintu dengan angelic smilenya.

“eh.. annyeong.” Aku menutup pintu tapi Kevin menghalanginya. Ia menerobos masuk kekamar ku.

“mana yang lainnya? Kau harus membantuku. Dan apa yang kalian lakukan disini.” Kata Kevin tanpa henti.

“eh.. itu..”

TING TONG bel berbunyi. Harin membuka pintunya.

“Kisseop kkaja.” Ternyata itu Hoon. “eh.. Kevin….” Hoon terlihat kaget, Kevin segera menariknya masuk.

“Hoonim hyung, panngil yang lain kemari.. Jebal..” kata Kevin.

Hoomin hyung yang tak tahan dengan aegyo Kevin pun memanggil yang lain untuk naik kekamar kami.

“yeobseo..” kata Hoomin hyung. “Ya.. Ppali kekamar Kisseop, Kevin sudah mengetahui keberadaan kita.” Katanya. “anni.. Minhyo belum tahu.. ne.. Ppali kemari.” Katanya menutup telfonnya. “semuanya akan kemari.” Kata Hoomin hyung.

Tak begitu lama bel pintu berbunyi, aku pun mempersilahkan mereka semua masuk. Yah beruntung aku memeasan kamar yang kelasnya sama dengan Kevin, jadi lebih luas dan mereka semua muat berada di ruangan ini.

“Jadi, sejak kapan kalian berada di sini?” kata Kevin memulai pembicaraan.

“Kami dating bersamaan dengan mu, hanya beda kelas pesawat saja.” Jawab Jaesop.

“oh.. lalu apa yang kalian lakukan? Ini sih judulnya bukan HONEY MOON. Tapi Ukiss’s Vacation.” Kata Kevin yang terkesan ngambek.

“ne.. Mian Kevin.. kami hanya ingin mengetahui apa yang akan kalian lakukan.. itu saja.” Kata Eli.

“ne.. tidak ada maksud tertentu kok..” Tambahku.

“hah.. kalian harus membantuku, Minhyo sedang marah padaku, aku mengikuti saran Kisseop untuk mengajaknya dinner, aku sudah memesan tempatnya. Hanya saja aku bingung apa yang harus ku lakukan.” Kata Kevin.

“memangnya kenapa Minhyo bias marah sih? Minhyo itu tidak mudah untuk marah. Pasti sesuatu telah terjadi.” Kata Yeong rin.

“ne.. jadi….” Kevin pun menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Kami mendengarkannya dengan seksama hingga selesai. Tapi Kevin tidak menjelaskan cerita mengenai preman pada kami.

“jadi Minhyo marah karena itu, pantas saja.. kau terlalu berlebihan pada Minjung sih.” Kata harin.

“ne.. aku setuju. Mungkin dari sisimu itu biasa saja karena kau terbiasa dengan hal ini dan kalian berasal dari kalangan artis, tapi bagi kami yang bukan dari kalangan artis itu terkadang menyakitkan. Terlebih kau berlaku seperti itu disaat kalian sedang berbulan madu.” Kata Sungyoung.

Kata-kata Sungyoung membuatku, Kevin, Eli, Seohyun, Kibum dan Jaesop tersadar dan merenung.

“eung.. Maafkan kami jika tingkah laku kami terkadang berlebihan, tapi ini adalah profesi kami.” Kata Seohyun.

“Kami juga mengerti, tapi mungkin terkadang kami yang egois..” Kata Sungyoung lagi.

“ne.. Mianhamnida..” kata Ku, Eli, Jaesop dan Kibum.

“Aish.. baiklah aku sadar.. sekarang bagaimana cara meminta maaf pada Minhyo..” Kta Kevin.

“Entah mengapa aku merasa Minhyo sudah memafkan mu Kev.” Kata Alexander.

“Ne? Kau tahu dari mana hyung?” kata Kevin

“Kau tahu sendirikan, kalau Minhyo marah itu tidak akan bertahan lama. Ia tipikal orang yang mudah untuk memaafkan. Ia akan berfikir siapa yang salah, apa dia atau orang lain yang salah. Dan ia akan menganggap itu berlalu jika orang yang bersangkutan tidak menambah masalahnya.” Jelas Alexander.

“ia juga hyung.. semoga Minhyo tidak marah lagi padaku.” Kata Kevin menenggelamka wajahnya di kedua telapak tangannya.

“So.. apa raencana kita.” Kata Eli.

“baiklah.. bagaimana kalau…” Dongho pun menuangkan idenya.

***

#author side

“Baiklah.. Aku akan mencari bunga bersama Kevin.” Kata Eli.

“Aku ikut..” Kata Kisseop dan AJ

“Ne.. Kami yang menghubungi restaurant dan memesan menunya.” Kata Yeon rin yang di sambut anggukan oleh Seungmi, Sungyong, Seungra dan Harin.

“Baiklah.. Aza-aza!!!” Teriak mereka. Mereka pun keluar satu persatu dari kamar Kisseop.

Kevin , Eli , Kisseop dan AJ mencari hadiah.

Dongho, Seohyun dan Hoon menyusun kata-kata untuk permintaan maaf.

Kibum dan Xander mengantar Seungmi, Yeon rin, Sung young serta Harin ke restaurant untuk mengatur menu yang akan mereka pesan.

“Hadiah apa yang harus kita cari” kata Kevin.

“Parfume otte??” Kata Kisseop.

“Kurang special.” Jawab Kevin.

“Tas.” Kata Eli. “Seungmi suka tas.” Kata Eli lagi.

“Ini untuk Minhyo.” Kata Kevin.

“Pakaian?” Kata AJ.

“Minhyo tidak mempunya ciri khas berpakaian yang spesifik.” Kata Kevin.

Mereka pun memikirkan apa yang harus mereka berikan.

“B U N G A..!!” Kata mereka serempak.

“Tapi…” Kevin ingin menyanggahnya,

“Meski Minhyo tidak begitu menyukai bunga, tapi pasti ia akan menyukainya.” Kata mereka bertiga memotong pemicaraan Kevin. Kevin akhirnya setuju. Mereka pun segera mencari toko bunga..

“Eung.. Warna apa?” Kata AJ.

“Merah, itu melambangkan cinta.” Kata Kisseop. Ia menarik 2 tangkai bunga merah.

“Lalu biru melambangkan kejujuran akan suatu hal.” kata Kevin mengambil 3 tangkai.

“Merah muda melambangkan kelembutan.” Kata AJ mengambil 2 tangkai.

“Dan putih melambangkan kesucian.” Kata Eli.

“Merahnya kurang sepertinya.” Kisseop mengambil 2 tangkai lagi.

Mereka membawanya ke kasir untuk dibayar sekaligus di rangkai.

“Tenang Kev, Minhyo pasti menyukainya.” Kata AJ sambil menepuk pundak Kevin. Setelah selesai mereka pun keluar dari took bunga itu.

“Apa bunga saja cukup. Kurasa ini masih kurang.” Kata Kevin.

“So, kita akan mencari apa lagi??” Tanya Kisseop.

“Eung.. bantu aku.” Kata Kevin.

“Kami sedang membantu mu Kevin Woo.” Kata mereka bertiga.

“Ne… Maksudku melakukan hal yang lain lagi.” Kata Kevin.

“Apa???” Kata mereka.

“Bantu aku untuk membuat Video permintaan maaf padaa Minhyo.” Kata Kevin menuangkan ide spontannya.

“Ne? Apa bisa? Waktu kita terbatas. Sekarang sudah jam 01.00 PM ini kurang dari ½ hari, kau juga harus bersiap-siap Kevin.” Kata Kisseop.

“Aku yakin bisa.” Kata Kevin. Kevin mengeluarkan Handycam nya dan menyipakan kata-kata.

“KYAAAAAA!!! THAT’S U-KISS RIGHT???” Terdengar suara teriakkan histeris di belakang mereka. Tiba-tiba segerombolan gadis segera berhamburan untung mengelilingi mereka.

“Gawat, mereka mengenali kita.” Kata Eli panic.

“Otte???” AJ segera menutupi wajahnya. “Apa kau masih ingin melanjutkan pembuatan Video itu Kevin Woo?” Lanjut AJ.

“ANI.” Kevin berlari di susul ketiga orang dibelakangnya yang di ikuti dengan segerombolan gadis yang mengerubungi mereka.

“OTTE?????” Teriak Kisseop panic.

“ANNIO” Teriak AJ.

Mereka masih berusaha berlari dari gerombolan gadis-gadis itu. Merasa lelah Kisseop dan AJ akhirnya memilih untuk berhenti. Tak jauh di depan mereka, Eli dan Kevin pun turut berhenti karena sudah merasa lelah. Hal ini membuat mereka harus melayani para fangirl tersebut. Setelah bersalaman dan member tanda tangan serta memberikan foto yang secara cuma-Cuma mereka di minta untuk menyanyikan satu lagu. Dengan ½ hati mereka menurutinya. Mereka pun menyanyikan satu buah lagu dari mereka. Kira-kira hal ini menghabiskan waktu sekitar 2 jam lamanya.

“tidak.. sekarang sudah jam 03.00 PM. Otte..”Kevin pasrah dan duduk di pinngir jalan.

“Masih ada waktu 3 jam menuju jam 06.00 PM Kev. Semangat!!” Eli menyemangati Kevin.

“Ne.. tapi perjalanan dari sini ke Champ Ellyses membutuhkan waktu 1 jam.” Kata Kevin pasrah.

“Itu masih lebih dari cukup. Sekarang kkaja kita mencari hadiah lagi untuk Minhyo.” Kata Kisseop. Mereka pun melanjutkan perjalanan mencari hadiah

Mereka pun kembali mengelilingi pertokoan yang ada. Mulai dari took ts, pakaian hingga perhiasan. Kevin masih belum menemukan sesuatu yang menurutnya cocok untuk Minhyo. Entah mereka sadari atau tidak tapi ini sudah 1 jam lamanya mereka hanya berkeliling.

“Aigo.. sekarang sudah jam 04.00 otte??? Kita hanya membuang waktu saja.” Kata Kevin.

“Molla..” Kisseop menghela nafasnya. Kevin masih melihat-lihat took sekitarnya hingga ia menemukan sebuah cincin berwarna tembaga yang berbentuk seperti tengkorak manusia. Menurutnya itu cocok untuk dipakai oleh Minhyo karena modelnya tidak terlalu feminism, sederhana tapi tidak terlalu simple.

“Aku kesana dulu.. Sebentar saja.” Kevin meninggalkan Kisseop, AJ dan Eli di tempat mereka beristirahat. Ia segera membeli cincin itu. Setelah selesai membelinya, mereka segera bergegas mencari Taxi untuk pergi dari tempat itu. Waktu yang mereka punya kini kurang dari 2 jam.

“Kita naik Taxi saja.” Kevin segera menghentikkan Taxinya dan segera berjalan menuju Champ Ellyses.

Bokura ni wa kasanette kita

Suteki na omoide mo aru keredo

“Yeobseo..” Ponsel Kisseop berdering. “Ne.. kami sedang di jalan kembali menuju Champ Ellyses. Bagaimana keadaan disana?” tanya Kisseop.

“Ne.. arraseo, mungkin satu jam lagi kami akan sampai di restaurant. Kau sudah menyiapkan pakian yang akan dipakai oleh Kevin kan?” tanya nya lagi. “Ne.. ne.. anyeong.” Kisseop mengakhiri telefonnya.

“Wae?” tanya mereka.

“Hanya sekedar pemberitahuan.” Mereka mengerti dan kembali memperhatikan jalanan. Namun saat nelihat kedepan, terjadi antrian yang begitu panjang. Entah apa penyebabnya.

“What happens sir?” tanya AJ.

“I don’t know too.. I’ll ask the other driver what happens on this way.” Supir itu pun menayakan apa yang terjadi pada mobil yang melaju ke arah sebaliknya.

“Why sir?” tanya Kevin.

“He said that an accident was Happend. So, we must wait for a while maybe.” Kata Supir itu.

“Aish jinja.. otteyo??” Kevin frustasi dan menyenderkan badannya ke bangku penumpang.

“Semoga ini tidak lama.” Kata Eli.

“Ne..”

~~~ 1JAM BERLALU~~~

“AAH!! Jinja.. ini sudah satu jam… dan sepertinya ini masih jauh..!” Kevin mengacak rambutnya frustasi. “handphone ku mati pula.. otteeee…” Kini Kevin menjedot-jedotkan kepalanya ke kaca yang ada di sebelahnya.

Bokura ni wa kasanette kita

Suteki na omoide mo aru keredo

Ponsel Kisseop kembali berdering.

“Yobseo.. Wae Harin??” tanya Kisseop langsung.

“MWO?? MINHYO SUDAH TIBA DI RESTAURANT??” Kisseop kaget. Kevin pun semakin panik.

“TAPI INI BELUM JAM 06.00 PM. Aigo…!!” Kevin semakin menghantam kepalanya kepada jendela taxi tersebut.

#MinhyoPlace

Minhyo sengaja datang setengah jam lebih awal dari biasanya. Ia hanya tidak ingin terlambat dan membuat Kevin kecewa.

“Mungkin aku terlalu cepat. Haa.. semoga Kevin tidak terlalu lama.” Ucap Minhyo. Minhyo berfikir untuk berkekliling di tempat itu untuk berberapa lama. Ia menikmati pemandangan yang ada di sana. Tak terasa sudah setengah jam berlalu, ia pun memasuki restaurant itu. Saat masuk ia langsung di sambut oleh pelayan yang ada disut.

“Are you Mrs. Minhyo?” tanya pelayan itu.

“Yes I am.” Jawab Minhyo, pelayan itu pun mempersilahkan Minhyo masuk dan pelayan itu menuntunnya menuju meja yang sudah di pesan oleh Kevin tanpa sepengeetahuan Minhyo tentunya.

“Thankyou.” Minhyo pun duduk. Tak beberapa lama para pelayan datang dan memberikan makanan yang sudah di pesan oleh Sungmi dan yang lainnya. Pelayan itu pun menuangkan anggur ke gelas Minhyo. Setelah selesai mereka pergi.

“KenapaKevin belum tiba?” Tanya Mnhyo pada dirinya sendiiri. Minhyo memutuskan untuk menelfon Kevin, tapi ponselnya tidak aktif. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu Kevin.

 

Sudah satu setengah jam Minhyo menunggu, namun Kevin belum tiba juga. Minhhyo tidak mmemakan makanannya, karena ia ingin menunggu Kevin

“Kevin.. Kau dimana…” Minhyo masuh berusaha untuk sabar.

“Sorry, are you Korean?” Tanya seorang pria berkulit putih dan memiliki wajah Asia yang cukup kental.

“Yes I am. Are you Korean too?” Tanya Minhyo hanya sekedar berbasa-basi.

“Yes. Bolehkah aku duduk disini?” Pria itu pun berbicara dalam bahasa Korea.

“eung.. Te.. Tentu saja.” Kata Minhyo mempersilahkan.

“Apa kau sedang menunggu seseorang.” Tanya pria itu.

“Ne..” jawab Minhyo. Sejujurnya Minhyo mereasa kurang nyaman dengan kehadiran pria itu, namun tidak mungkin kan ia berdiri dan pergi begitu saja. Toh ia juga sedang menunggu Kevin

“Jung Haewon imnida.” Katanya memperkenalkkan diri.

“Park Minhyo imnida.” Ia menjawab namanya. Tetapi ia masih memakai marganya, bukan marga Kevin

“Apa kau sedang menunggu seseorang?” Tanya pria bernama Haewon itu.

“Ne..” Jawab Minhyo singkat. “Eung, Haewon-ssi, aku oergi ke kamar mandi dahulu sbentar ya.” Minhyo pun berdiri dan meninggalkan Haewon.

 

~~~~                           ~~~~                           ~~~~

Kini sudah dua jam lamanya Minhyo menunngu Kevin, Minhyo menghubungi nomor Kevin, tapi ponselnya tidak aktif. Minhyo meminum satu teguk anggur lagi, hidangan yang sudah tersedia di depannya tidak menarik minatnya untuk menyantap mereka. Minhyo pun berakhir dengan mengobrol bersama pria asing yang mengaku berasal dari Seoul dan bernama Hewon. Entah apa yang mereka bicarakan.

“Kevin woo. Jika setengah jam lagi kau tidak datang, aku akan pergi dari tempat ini.” Ucapnya dalam hati. Ia pun melanjutkan berbincang-bincang dengan pria bernama Haewon itu.

AKHIRNYA SETENGAH JAM ITU PUN BERLALU. Minhyo bahkan sudah menambahkan waktu LIMA BELAS MENIT.

“Eung, Haewon-ssi, sepertinya kau harus kembali kepenginapan ku, mungkin orang yangku tunggu itu tidak datang.” Kata Minhyo kecewa.

“Begitukah? Baiklah aku akan mengantarmu kalau begitu.” Kata Haewon berdiri.

“Ah, ttidak usah. Penginapan ku dekat dari sini kok.” Kata Minhyo berdiri juga.

“Tak apa. Tidak baik wanita berjalan sendirian di malam hari. Meskipun ini masih sangat ramai. Lebih baik kita mengantisipasinyakkan.” Kata Haewon lagi. Minhyo hanya bisa pasrah, ia pun menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kasir untuk membayar makanan yang telah di pilih oleh Kevin dan tidak ia makan.

“haewon-ssi, terimakasih karena sudah mau menemaniku mengobrol selama dua jam tanpa henti.” Kata Minhyo.

“Sama-sama. Aku juga ingin berterimakasih, karena kau mau menceritakan bagaimana keadaan Seoul sekarang. Setidaknya aku sudah bisa membayangkan kampung halaman ku seperti apa sekarang.” Katanya. Minhyo terkekeh.

“Kau mau kembang gula Minhyo?” Tanya Hewon.

“Ah, tidak usah.” Kata Minhyo menolaknya.

“Tak apa. Lagipula dekat. Dan jika kita memakan sesuatu yang manis itu pasti dapat meredakan emosi kita. Kau tunggu disini dulu ya.” Kata Haewon yang pergi menuju sudut taman. Mereka memang berjalan melewati taman. Minhyo ingi ketaman dan kebetulan Haewon mengetahui taman yang indah yang berada dekat dengan penginapannya.

“Kevin woo.. kau benar-benar menyebalkan.” Minhyo pun duduk di bangku yang berada di dekat situ. Tak begitu lama haewon datang membawa dua kembang gula berwarna biru muda yang terlihat sangat manis.

“Gomawo. Kenapa kau membeli berwarna biru keduanya?” tanya Minhyo.

“aku merasa aku menyukai warna biru. Itu saja.” Kata Haewon yang memakan kembang gulanya.“Kkaja.. hotel mu sudah dekat.” Kata Haewon.

“Sebenarnya dari restaurant itu juga sudah dekan Haewon-ssi.” Kata Minhyo lagi. Mereka pun kembali berjalan hingga sampailah mereka di hotel yang Minhyo tempati.

“Terimakasih Haewon-ssi sudah mengantarku.” Kata Minhyo.

“Ya, sama-sama. Baiklah aku pulang dulu ya.” Kata Haewon.

“Ne.. Josimhae..” Kata Minhyo.

“Ne..” kata Haewon. Tapi ia tidak berbalik juga.

“Katanya kau ingin pulang?” tanya Minhyo.

“Kau dulu masuk kedalam hotel, baruakau akan berbalik pergi.” Kata Hewon.

“Mwo?? Oh.. baiklah.. sampai jumpa Haewon-ssi…” Minhyo pun melangkahkan kakinya masuk menuju lobby hotel. Dan ia melihat Hewon pun berbaik pergi. ‘Pria yang baik’ itu yang ada difikirannya.

***

Kevin tergesa-gesa berlalri menuju rastaurant itu. Ia sangat mgnutuk kemacetan yang menimpa dirinya. Ia tidak terlalu berharap Minhyo  masih menunggu di tempat itu. Bagaimana bisa Minhyo menunggu selama nyaris tiga jam dari waktu yang di janjikan. Tapi boleh kah ia sedikit berharap?

“Kevin!!” ia mendengar seorang wanita memanggil namanya.
“Seungra? Otte? Dimana Minhyo?” tanya Kevin saat melihat Seungra dan yang lain sudah duduk di meja yang di pesannya untuk bersama Minhyo.

Mereka menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Kevin.

“Minhyo sudah pulang duluan hyung.” Kata Dongho.

“Benarkah?” Kevin punterduduk dibangku.

“Ne.. dan tadi kami melihat ia oergi bersa—mmnvjdh..” Sungyoung tidak bisa berbicara karena mulutnya di bekap oleh Seohyun.

“Wae?” tanya Kevin. Mereka diam. “Wae???” Kevin mulai berteriak.

“hhah.. ia pergi bersama seorang pria. Pria asia lebih tepatnya. Mungkin itu kenalannya.” Kata Hoon.

“Begitukah?” Kevin pun berjalan keluar dari restaurant itu dan kembali menuju hotelnya.

Sesampainya di kamar hotel, Kevin melihat Minhyo sudah tertidur di tempat tidur. Ia menghampiri Minhyo dan mencium keningnya.

“Mian.. aku tidak bermaksud membuat mu menunggu selama hampir 2 jam. Tapi tadi terjadi kecelakaan.” Kata Kevin sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Minhyo.

“jika aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan mengadakan pertemuan hari ini. Mian Minhyo.” Kevin pun naik ketempat tidur dan menarik Minhyo ke dalam pelukannya. Ia pun tertidur, menyusul Minhyo.

 

 

#Morning…

Minhyo tidak melihat Kevin di tempat tidur sebelahnya. Tapi ia mendengar suara air di kamar mandi. Itu pasti Kevin yang sedang mandi. Minhyo mereasa sangat kesal dengan Kevin karena sudah membuatnya menunngu selama berjam-jam di restaurant. Minhyo menyenderkan badannya di kepala tempat tidur. Tak begitu kama Kevin keluar.

“kau sudah bangun?” katanya.

“….” Minhyo hanya mengangguk dan memutar kepalanya ke arah jendela.

“Kau mau ikut tidak? Kita jalan-jalan bersama.. bagaimana?”  Tanya Kevin yang duduk di sebelah Minhyo. Minhyo hanya menggeleng dan ia melangkah menuju balkon.

“Minhyo, mianhe…” kata Kevin. Minhyo masih tidak menjawab pernyataan Kevin. Ia lebih memilih diam menikamati pemandangan Paris di pagi hari.

“Minhyo.,,…” kata Kevin lagi tanpa bosan.

“Ne.. aku sudah memaafkan mu Kev.” Kata Minhyo.

“Benarkah? Gomaawo.” Kevin berjalan kearah Minhyo dan memeluk pinggang nya. Minhyo melepas pelukkan Kevin dan pergi menuju kamar mandi.

“Kalau kau mau pergi, ka ubisa pergi sendirikan?” kata Minhyo sebelum ia menutup pintu kamar mandi.

Kevin yang merasa Minhyo masih belum memaafkannya hanya bisa pasrah. Ia pun berjalan ke luar kamar, dan menuju kamar Eli dan Seungmi.

Setelah Minhyo selesai mandi ia tidak melihat Kevin ada di ruangan itu. Iapun memutuskan untuk sarapan di lantai bawah. Minhyo berjalan sediri. Sesampainya disana ia langsung mengambil menu yang telah ada di sana.

Saat ia duduk ada seorang pria yang memakai jaket berwana hitam bertubuh tinggi dan tegap duduk di depannya. Pria itu melepas kacamata hitam yang dipakainya.

“Haewon-ssi. Apa yang kau lakukan disisni?” tanya Minhyo.

“Apa aku belum bercerita kalau apartement ku juga berada di wilayah ini dan aku bisa sarapan disini?” kata haewon. Minhyo hanya menggelengkan kepalanya. Ia lalu melanjutkna sarapannya.

“Kau mau berjalan-jalan tidak?” tanya Haewon.

“anni.” Kata minhyo.

“Baiklah, setelah kau sarapan kita akan ke Place de la Condore, itu adalah alun-alun terluas di negara ini. Lalu aku akan membawa mu ke Musee du Louvre, itu merupakan salah satu museum seni terluas di dunia. Hebat bukan? Setelah itu kita akan ke Notre dame de Paris, kau tidak boleh melupakan tempat itu tentunya. Lalu aku akan membawamu ke sebuah taman yang sangat idah, lebih indah dari yang kita lewati kemarin. Iitu namanya Parc de Sceaux tempat itu sangat menarik. Kita juga harus ke Istana Versailles.” Kata Haewon menerangkan dengans semangat tempat apa yang akan mereka kunjungi entah untuk berapa lama. Mengingat banyak tempat yanng di sebutkna olehnya.

“tapi…” Minhyo mencoba menolak.

“tidak ada kata TAPI.” Kata Haewon lalu menarik Minhyo pergi.

“Ya!! Aku bahkan belum menyelesaikan sarapan ku.” Kata Minhyo.

“Untuk apa sarapam disini? Lebih baik mencoba sesuatu yang baru di luar sana.” Kata Haewon.

“Aku belum membawa ponsel.” Kata Minhyo lagi berusaha melepaskan tangannya.

“Tenang saja.” Kata Haewon.

“Aku tidak memakai mantel.” Kata Minhyo lagi.

“Di mobil ku ada mantel ku yang sudah kecil, kau bisa memakainya, jadi tidak ada alasan lagi.. Kita berangkat.” Kata Hewon, Minhyo hanya bisa pasrah sat Haewon mendorongnya ke dalam mobil Haewon.

“Baiklah. Kau pasti sudah ke Eiffel kan?” kata Haewon. Minhyo menggelengkan kepalanya.

“Mwo? Kau belum? Apa yang kau lakukan saja di sini?” tanya Haewon lagi. Minhyo hanya membuang tatapaannya menuju jendela.

“baiklah… tujuan pertama kita adalah Eiffel.” Kata Haewon.

 

~~~                 ~~~                 ~~~                 ~~~                 ~~~                 ~~~

Tanpa terasa sudah dari pagi hingga hampir malam mereka mengelilingi tempat wisata yang telah di sebutkan oleh Haewon. Meski baru 3 tempat, tapi ketiga tempat itu memakan waktu yang lumayan lama. Haewon membelikan Minhyo beberapa cindera mata dari setiap tempat yang mereka kunjungi. Dan Haewon memberi Minhyo makan tentunya.

“Baiklah, karena sudah tidak memungkinkan, kita kembai saja ok?” kata Haewon. Minhyo menganggukkan kepalanya.

“Gomawo Haewon-ssi..” Kata Minhyo.

“Ne.. eoh, panggil aku Haewon saja. Tidak pakai –ssi. Lama-lama terdengar aneh.” Kata Haewon.

“Baiklah Haewon.” Kata Minhyo.

“Kau lelah? Kau tidur saja.” Kata Haewon lagi.

“anni.. aku akan menemani mu.” Kata Minhyo. Haewon menganggkat tangannya dan meututp mata Minhyo.

“kau pasti lelah kan? Tidak usah memaksakkan diri.” Kata Haewon. Minhyo melepas tangan Haewon.

“N..ne baiklah.” Minhyo menghadap jendela dan menutup matanya, berarap wajah memerahnya tidak terliaht oleh Haewon. Minhyo pun menutup matanya. Awalanya ia berniat berpura-pura tidur. Tapi yang terjadi ia malah tertidur. Haewon yang melihatnya hanya tersenyum, ia menepikan mobilnya dan diam-diam mengambil foto Minhyo yang sedang tertidur.

“Apa aku menyukai gadis ini?” Katanya pada hatinya sendiri. Ia kembali memajukan mobilnya.

Setelah melewati perjalanan yang panjang akhirnya mereka sampai di hotel tempat Minhyo menginap.

“Gomawo Haewon kau sudah menemani ku berjalan-jalan.” Kata Minhyo.

“Ne.. Maaf karena pagi ini menculik mu tiba-tiba.” Kata Haewon, Minhyo tertawa.

“Ne.. kau ini..” Minhyo melepas sabuk pengamannya.

“Eung, masih ada dua tempat yang belum kita kunjungi, besok aku aku akan menculik mu lagi sepertinya.” Kata Haewon yang dilanjutkan dengan cengirannya.

“Benarkah? Baiklah. Itu bukan menculik namanya kalau kau memberitahu kepada korban mu sehari sebelumnya.” Kata Minhyo. “Baiklah, aku turn dulu. Terimakasih untuk hari ini Haewon..” Kata Minhyo, Minhyo pun turun dari mobil Haewon dan Haewon melajukan mobilnya keluar dari area hotel itu.

“Baiklah. Apa yang harus ku katakan pada Kevin.” Kata Minhyo. “Tunggu, apa ia akan perduli pada ku? Sepertinya tidak.” Minhyo pun masuk ke lobby hotel. Saat di lobby ia melihat seorang wanita yang seperti “Yeon rin? Ah, tidak mungkin ia berada disini.. Aku pasti kelelahan.” Kata Minhyo. Minhyo pun masuk ke lift dan menuju kamarnya

TING TONG

Minhyo menekan bel pintu, berharap Kevin memukanya. Memang tak begitu lama pintu terbuka.

“Minhyo? Kau kemana saja? Aku panik mencari mu.” Kata Kevin yang segera menarik Minhyo masuk.

“Oh, ternyata kau peduli pada ku.” Kata Minhyo yang segera masuk ke kamar mereka.

“Apa maksudmu, tentu saja aku perduli.” Kata Kevin lagi.

“Lalu apa kau peduli aku menunggu selama hampir dua jam lebih? Itu sangat menyebalkan Kevin. Kau bilang ingin meminta maaf, tapi kenapa kau tidak hadir juga.” Kata Minhyo.

“Minhyo mian, aku tidak bermaksud membuat mu menunggu. Terjadi kemacetan disana. Terjadi kecelakaan.” Kata Kevin sambil memeluk Minhyo

“Kau bohong, kau tahu? Aku seperti orang bodoh, aku mengobrol dengan orang asing. Entah dia siapa.. Tapi dia lebih perduli pada ku. Setidaknya kau memberi ku kabar agar aku tidak usah mengunggu mu.” Minhyo melepas pelukan Kevin.

“Minhyo.. Dengarkan aku..” kata Kevin.

“Mwo? Lebih baik kau bersama dengan fans mu itu Kevin.” Kata Minhyo.

“Aku tidak ada apa-apa. Hubungan kami hanya sebatas fans dengan idolanya.” Kata Kevin lagi.

“IA BAIKLAH, AKU PERCAYA. Aku percaya. Tapi perlakuan mu berlebihan Kevin.” Minhyo pun berteriak, karena ia sudah sangat kesal dengan Kevin. Ia pun masuk ke kamar mandi dan membanting pintu. Ia menangis di sana.

“Minhyo… Mianhe…” kata Kevin di balik pintu.

***

Minhyo membuka matanya, ia merasakan ia berada di ranjang yang empuk. Seingat dia, tadi malam ia tertidur di sofa. Ia melihat kearah sofa, ternyata Kevin yang tidur di situ. Minhyo mengecheck ponselnya. Ia melihat ada sms.

Minhyo…

Kkaja.. Kita akan pergi ke Parc de Sceaux dan Istana Versailles

Ppali..

Aku tunggu kau di Lobby hotel ini

“Dari  mana ia mendapat nomor ponsel ku.” Kata Minhyo. Minhyo pun segera mandi. Sebelumnya ia memberikan selimut kepada Kevin. Setelah itu ia segera bergegas.

“Minhyo..!!!” panggil Haewon dari sofa yang berada di sana.

“Kau… Dari mana kau mendapat nomor ponselku?” tanya Minhyo.

“Heumh.. itu rahasia..” Kata Haewon, ia segera menarik Minhyo menuju mobilnya.

“Kau membawa mantel kan?” tanya Haewon lagi.

“Ne” Kata Minhyo menunjukkan mantel nya yang berwarna Hitam.

“baiklah.. kita akan Ke Parc de Sceaux dulu.” Haewon pun melajukkan mobilnya.

Tak begitu lama mereka pun sampai di tempat yang dituju, ternyata taman itu begitu indah..

 

“Indah sekali…” kata Minhyo, ia pun berlarian di padang rumput yang begitu luasnya. Diam-diam, Haewon kembali mengambil foto Minhyo.

“Haewon, kau jangan hanya bermain ponsel saja.” Teriak Minhyo.

“Minhyo.. Liat ke sini.” Teriak Haewon, Haewon mengambil foto Minhyo lagi. Entah kenapa ia tidak bosan mengambil foto gadis itu.

“Ya!! Kenapa kau mengambil fotoku???” Teriak Minhyo. Minhyo berlari menghampiri Haewon.

“Bagaimana kalau memakai yang ini.” Minhyo memberikan kameranya.

“Tadi kau mengomel saat aku mengambil fotomu, sekarang malah memerintah ku.” Kata Minhyo lagi. Minhyo hanya tertawa. Pada akhirnya Haewon pun mengambil foto Minhyo dengan kamera Minhyo.

Selama satu jam mereka berada di sana. Minhyo meminum MochachinoLatte yang di belikan oleh Haewon.

“Baiklah, kita sudah lama ada disini. Bagaimana kalau kita ke Istana Versailles sekarang?” tanya Haewon.

“Baiklah. Aku ingin ke toilet dulu ya..” Kata Minhyo lalu berdiri.

“ne..” Haewon mengantar Minhyo dan menungguinya.

“Isn’t she your girlfriend sir? She is beautiful.” Kata seorang pria.

“Not yet.” Haewon tersenyum. Minhyo keluar dari toilet.

“Ada apa dengan mantelmu?” tanya Haewon.

“Tdai tersiram air.” Kata Minhyo.

“Baiklah, kau pakai saja Mantel ku yang kemarin.” Kata Haewon sambil mengacak rambut Minhyo. Saat itu Minhyo merasa bersalah pada Kevin. Karena ia merasa sudah mengingkari janjinya. Mereka pun berjalan ke arah mobil haewon. Minhyo memutuskan untuk memberi kabar pada Kevin

 

Aku sedang bertemu denagn teman ku, ia mengajakku berpergian.

Jangan khawatir

Minhyo menutup ponselnya dan menaruhnya kedalam tas. Ia kembali menikmati pemandangan di luar mobilnya.

“Lelah kah? Tidur saja..” Kata Haewon sambil melihar kearahnya.

“Anni.. aku ingin menikmati pemandangan.” Kata Minhyo.

“oh ya, berapa lama lagi kau disini?” tanya Haewon lagi.

“Miungkin 5 hari lagi.” Kata Minhyo.

“Baiklah..” Haewon mengakhiri pembicaraannya. Keheninga melanda mobil itu.

Mereka akhirnya sampai di Istana Versailles.

 

“kalau di Perancis , namanya jadi Château de Versailles , sepertinya memiliki arti kastil versailles. Di istana inilah dinasti Raja Louis bertahta . kemegahan versailles tetap lestari dan kini menjadi salah satu objek wisata paling terkenal di Perancis . Raja Louis XIV membentuk pemerintahan monarki absolut yang berpusat di versailles. Tamannya versailles luas , indah , rapi , teratur terawat.” jelas Haewon.

“Kenapa kau tiba-tiba berubah jadi guide tour Haewon?” Kata Minhyo. Lalu tertawa.

“Kau ini menyebalkan. Pakai mantel mu yang benar. Atau kau akan sakit nantinya.” Kata haewon mengalihkan pembicaraan.

“baiklah…” Minhyo masih tertawa. Haewon menarik Minhyo untuk berkeliling.

“Indah sekali.”kata Minhyo.

“Ne.. “ Kata Haewon lagi. Haewon menarik Minhyo ke depan pintu kastil itu.

“Minhyo.” Haewon memegang kedua tanga Minhyo.

“Ne? Wae Haewon?” tanya Minhyo yang merasa tidak nyaman dengan tangannya.

“Would you be my girl friend? Je suis amore..” Kata Haewon. Minhyo yang mendengarnya kaget setengah mati. “Aku tahu kita baru mengenal kurang dari satu minggu, tapi aku merasa yakin dengan hal ini.” Kata haewon

“ehem.. haewon.. se.. sebenarnya..” Minhyo menarik nafasnya. “Sebenarnya, aku sudah.. aku sudah menikah..” Kata Minhyo akhirnya.Haewon terlihat shock. Ia diam dan melepas tangan Minhyo.

“Mian, bukan maksudku untuk membohongi mu.” Kata Minhyo menunduk.

“Gwenchana.” Haewon tersenyum miris. “lalu mengapa kau tidak bersama suami mu?” tanya Haewon.  Minhyo pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia pu meminta maaf pada Haewon. Haewon hanya tersenyum dan kembali seperti biasa.’Malang sekali hidup ku, menyukai wanita yang baru menikah’ itu yang ada di dalam hatinya sekarang.

“Baiklah, sepertinya kita harus pulang. Suami mu pasti mencarimu.” Kata Haewon. Mereka pun berjalan memasuki mobil dan segera pulang.

“Kita tetap berteman kan?” tanya Minhyo.

“Tentu saja..” Kata Haewon.

“Apa kau besok mau menemani ku mencari hadiah untuk permintaan maaf pada suami ku?” tanya Minhyo.

“Kenapa tidak?” kata Haewon.

 

***

Setelah sampai dan mengucapkan salam sampai jumpa pada Haewon minhyo segra masuk ke hotel dan menuju kamarnya bersama Kevin.

“Dari mana kau?” tanya Kevin begitu Minhyo masuk ke kamarnya.

“Aku sudah bilang, aku habis bertemu teman ku dan dia mengahakku berkeliling.” Kata Minhyo menje;askan.

“Kau tidak tahu betapa paniknya aku saat membuka mata kau tidak ada di ruangan ini?” kata Kevin melembut. “kau memakai Mantel siapa?” tanya Kevin saat melihat mantel Minhyo.

“Iini.. Ini punya temanku.” Kata Minhyo.

“Teman mu itu pria? Kay pergi dengan pria lain tanpa sepengetahuan ku?” kata kevin, suaranya terdengar menahan amarah.

“Anni.. Kau tenang saja.” Kata Minhyo melepas boots nya dan duduk di sofa.

“Woo Minhyo. Kau tidak sedang berbohongkan?” tanya Kevin

“Tidak. Aku tidak berbohong.” Kata Minhyo.

“Baiklah, aku percaya pada mu.” Kata Kevin lalu memeluk Minhyo. Minhyo membalas pelukkannya.

“Mianhe..” Kata Minhyo.

“Anni, seharusnya aku yang meminta maaf padamu, bukan aku.” Kata Kevin mencium tenguk Minhyo sekilas.

“..” Minhyo diam saja.

“Bogoshipo..” Kata Kevin.

“Na do..” Kata Minhyo. Mereka pun memutuskan untuk berjalan-jalan keluar hotel. Saat di lift mereka bertemu dengan Minjung.

“Kevin oppa.. Lama tak jumpa..” kata nya

“Ne..” kata Kevin.

“kenapa setiap bertemu, kau selalu bersama dengan Onnie ini?” tanya Minjung.

“Kau ingin tahu kenapa?” Kata Minhyo.

“Karena, Minhyo nae anae..” Kata Kevin. Dan itu membuat Minjung terlihat shock.

“Ya! Bukan kah kau Kiss me? Tapi kenapa tidak mengetahuinya huh?” Kata Minhyo.

“Aku sedang sibuk, jadi aku tidak membuka internet dan tidak tahu perkembangan.” Kata Minjung. “Chukkae oppa, onnie.” Kata Minjung akhirnya. Kevin dan Minhyo hanya tertawa.

~~~                                         ~~~                                         ~~~

Pagi hari saat membuka mata Minhyo segera mandi dan turun ke lantai bawah ia sudah janjian dengan Haewon untuk mencari hadiah permintaan maaf pada Kevin.

“Apa aku lama?” tanya Minhyo.

“Anni.. aku juga baru sampai.” Kata Haewon.

“Baiklah kkaja. Aku akan mengajak mu ke Champ Ellisses Street. Disitu ada banyak barang yang bisa kau pilih.” Kata Haewon menjelaskan.

“Baiklah.” Mereka pun keluar dari hotel. Tanpa mereka sadari Kevin melihatnya dan mengikuti mereka dari belakang.

 

Mereka sudah mengunjungi banyak toko, tapi tidak ada yang menarik hati Minhyo. Akhirnya mereka sampai di toko pakaian. Minhyo melihat ada kemeja yang menarik hatinya, ia merasa itu cocok di pakai oleh Kevin. Mereka pun memasuki toko itu.

“Sepertinya ini cocok untuk kevin.” Kata Minhyo. “tapi dia ukurannya yang mana ya..” Kata Minhyo lagi. Minyo melihat Haewon yang sedang melihat-lihat toko itu. “Haewon, maukah kau mencobanya?” tanya Minhyo. “Spertinya badan Kevin sedikit lebih kecil dari mu.” Kata Minhyo lagi.

“Baiklah.” Haewon pun masuk ke kamar pas. Minhyo melihat-lihat lagi. Ternyata ada sebuah dasi yang menarik perhatiannya. Ia pun meminta dasi itu. Setelah Haewon keluar, Minhyo mencoba mengepaskan dasi itu dan memakaikannya pada Haewon.

Saat sedang memasangkan dasi itu, ada sebuah tangan yang menarik tangan Minhyo kebelakang.

“Kevin..” Minhyo kaget dan

BUGH

Kevin menonjok Haewon. “Don’t touch my wife.” Kevin segera menarik Minhyo keluar dari toko itu meninggalkan Haewon yang masih terliaht kaget.haewon melepas baju itu dan membayarnya.

***

“Kevin, dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kau duga.” Kata Minhyo.

PRAK

Minhyo memegang pipinya yang memerah karena baru saja ditampar oleh Kevin.

“Kev..” Kata Minhyo lirih.

“Kau mengecewakan ku. Belum ada satuminggu kitab menikah, aku sudah  berselingkuh. Aku tidak menyangka kau seperti itu Park Minhyo.” Kata Kevin dengan nada dinginnya.

“Anni.. Kevin, dengarkan aku dulu.. Jebal.” Kata Minhyo, Kevin berjalan memingggalkan Minhyo. Minhyo meraih tangan Kevin tapi di tepis olehnya.,

“Kevin..” Minhyo terdiam. Kevin semakin menjauh dari pandangannya. “Mianhe…” Kata Minhyo pelan. Minhyo memutuskan untuk kembai ke hotel. Ia membutuh kan seseorang untuk bercerita. Ia memutuskan untuk menelfon Harin.

“Harin.. kevin salah paham… Aku tidak berselingkuh.. Aku tidak berselingkuh. Aku mencintainya..” Kata Minhyo begitu Harin mengangkat telfonnya.

“Minhyo? Wae? Kau dimana? Kita bertemu di Swimminh pool saja, ok?” Kata Harin.

“Ne..” Minhyo akhirnya berjalan menuju swimming pool disana. Ia tidak memperdulikan fakta bahwa Harin berada di Paris yang seharusnya dia berada di Seoul.

Ia pun duduk di restaurant yang berada di swimming pool itu. Menunggu kedatanga Harin. Tak begtu lama Harin datang. Minhyo yang melihatnya segera memeluk Herin dan menangis.

“Aku tidak selingkuh… Aku hanya berteman dengannya. Dia salah paham…” Kata Minhyo terus seperti itu.

“Ada apa? Ceritakan padaku apa yang terjadi.” Kata Minhyo. Minhyo pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan Kevin.

“Mungkin ia membutuhkan waktu untuk sendiri.” Kata harin begitu selesai mendengar cerita Minhyo.

“Ne.. Ohya, bagaimana kau bisa berada disini?” tanya Minhyo yang baru sadar kalau mereka di Paris buakan Seoul.

“Ah… Itu..” Hari baru menyadari kebodohannya.

 

***

#Kevin Place

Kevin pergi menuu coffe shop yang ada disana. Ia membutuhkan waktu sendiri. Pesanannya pun datang. Saat ia sedang meminum kopinya, ada seorang pria yang duduk didepannya dan meanur bingkisan di hadapannya.

“Kau.. Kau selingkuhannya Minhyo kan?” Kata Kevin emletakkan cangkir kopinya.

“Kau salah paham. Aku memang menyukainya, tapi ia sudah bersuami. Apa boleh buat?” kata Haewon.

“Tch.. mana ada Maling yang mengaku. Ia kan?” kata Kevin lagi.

“Aku bertemu dengannya saat ia sedang menunggu seseorang yang tidak datang selama dua jam lamanya.” Kata Haewon. “Ia menunggu mu dengan sabar. Aku yang merasa ia orang Korea juga pun menegurnya. Ternyata ia begitu cantik saat ku lihat dari dekat. Namun sayang ia sudah ada yang punya.” Kata Haewon tersenyum miris. “Bingkisan ini ia carikan untuk mu. Untuk permintaan maaf tentunya. Karena ia tidak tahu daerah Paris akhirya ia meminta tolong padaku.” Kata haewon lagi.

“Bodoh. Bodoh sekali aku. Aku melupakannya selama kami berbulan madu.” Kata Kevin.

“Lalu? Apa dengan menyesal itu akan selesai? Lebih baik kalian berbaikan.” Kata Haewon.

“Terimakasih kau sudag menyadarkan ku. Maafkan aku sudah menuduhmu.” Kata Kevin.

“Tenang saja, aku sudah terbiasa.” Kata Haewon lagi. Kevin segera mengambil bingkisan itu. Ia segera pergi keluar dari coffe shop itu. Ia ingin meminta maaf pad Minhyo karena sudah menuduhnya berselingkuh.

“Yobseo?” Kevin mengangkat telefonnya

“Ne? Minhyo menangis? Baiklah, aku segera kesana.” Kata Kevin. Ia segera memasuki hotel, pergi ke kamar Hoon untuk menunmpang berganti baju. Ia segera bergegas ke lantai tas. Kekamar mereka.

 

***

 

Kevin masuk ke dalam kamr itu. Ia memegang kuncinya. Ia melihat Minhyo yang masih tidak menyadari kehadirannya. Ia peluk Minhyo dari belakang.

“Mianhe.. Mianhe karena sudah menuduh mu berselingkuh. Aku yang bodoh disini. Mianhe Minhyo..” Kata Kevin. Kevin membalik badan Minhyo. Ia melihat pipi Minhyo basah. Kevin menenggelamkan wajah Minhyo di dadanya.

“Kau jahat.. Kau tidak mau mendengar penjelasanku.” Kata Minhyo.

“Ne.. Aku jahat, jadi maafkan aku.. Aku berjanji tidak akan melupankanmu lagi. Aku berjanji.” Kata Kevin.

“Janji?” Minhyo mengangkat kelingkingnya. Kevin tidak menyambut ya, tetapi malah mencium bibir Minhyo.

“Aku berjanji.” Kevin tersenyum dan kembali melumat bibir Minhyo

 

 

 

 

 

 

END

I Don’t Like Love

Standar

ya!!

ini ff gaje yang saya bikin dalam waktu 1 jam di saat terkena insomni..

dan kembali dengan Song-fict lagi..

wkkwkwkwk..

kali ini terinspirasi dari lagunya Bambaya..

or

Kim Junsu yang baru aja konser dan sukses membuat saya uring-uringan..

saran saya sambil dengerin lagu nya ya..

 

ok!!!

 

 

***

 

Kacau..

Ya, hati ku kini terasa sangat kacau. Rasa kacau ini terasa amat sangat dalam.

 

Bahkan hari ini, hidupku tidak seperti hidupku. Aku tak bisa mengerti, entah mengapa semua terasa kacau..

 

Rasa kacau yang ku ketahui akibat aku merindukan mu. Hah, hanya karena rasa rindu ini semua hari ku, keadaan hati ku pun menjadi kacau…

 

Bahkan aku tidak mengetahui, apa indahnya atau pun sulit nya mengenai cinta, dan gadis seperti mu..

 

Apa yang harus kulakukan?? Ingin rasanya ku simpan selalu memori yang menyenangkan sekaligus menyedihkan ini. Memori-memori yang terus datang di saat tidurku.

 

‘MINHYO’

Satu-satu nya seseorang yang ku inginkan

‘MINHYO’

Dan juga cinta yang ingin kebuang jauh-jauh. Dan berharap tidak akan mengingatnya lagi, ingin sekali rasanya..

 

Aku tidak menyukai cinta ini!! Aku tidak menyukai nya karena aku tidak bisa memilikinya!!

Tapi,

Aku TIDAK bisa MEMBUANG cinta ini.

Aku tidak menyukainya..

Tidak menyukainya karena aku tidak bisa menggapainya..

         ..I don’t like this love..

Yah, aku tidak menyukainya karena hal itu membuat ku kacau..

 

Mulut ku, kedua mata ku, bahkan ekspresi wajah ku pun menamkahan kebahagian saat kapan pun aku bisa melihat mu..

AKU TIDAK INGIN MENGINGATNYA!!

Terus ku ucapkan kata-kata itu pada diriku sendiri, tapi tidak berarti apa-apa..

 

Aku berjalan ke kamar mandi,

‘Siapa itu’ bahkan aku tidak mengenali wajahku sendiri yang terpantul di cermin besar itu. Rambut yang biasanya tertata rapi, kini terlihat kusut, di bawah mata ku terdapat linhkaran hitam, bibirku pucat, tak berwarna. Bahkan berat badan ku pun menurun drastis. Sungguh ini jauh dari seorang yang selalu terlihat bahagia, dan menyenangkan.

Wajah yang terlihat sangat kacau. Jauh dari kata baik-baik saja. Terlihat berpura-pura bahagia, tetapi memiliki ke sakitan yang luar biasa..

 

Kita seharus nya tidak saling bertemu. Bahkan kita lebih baik tidak mengenali satu sama lain.

Jika memang semuanya akan berakhir seperti ini. Jika memang pada akhirnya hanya akan mendatangkan rasa sakit yang sangat amat, yang ku pikir hanya terjadi pada diriku..

 

Hari-hari ku yang lalu selalu ada dirimu. Bahkan kini aku merasa hari-hari ku di penuhi oleh dirimu.. Apa yang harus ku lakukan dengan suara mu yang selalu menggema di telingaku. Yang terekam jelas di dalam ingatanku??

Minhyo, jawab aku!! Aku kacau!!

 

Cinta ku, cinta yang sangat ingin ku lupakan. Tapi di satu sisi aku ingin mengingatnya. Mengingat hari- hari yang kita lalui. Mengingat segalanya, tapi ingin ku lupakan..

 

 

Aku tidak tahu!!

AKU TIDAK MENYUKAI CINTA INI SAMA SEKALI!!!

Aku membencinya…!!!

 

Aku tidak menyukai cinta ini, cinta yang tidak dapat ku miliki, tetapi tidak bisa ku buang, tidak bisa ku lupakan. Meski aku sangat ingin melupakan nya…

 

PARK MINHYO, aku ingin melupakan mu, tetapi aku tidak bisa. Aku, KIM JUNSU tidak bisa melupakan mu, karena aku merasa sudah terikat dengan dirimu..

 

Like my tangled up hair, the inside of my heart is becoming a mess

These days, living doesn’t really seem like living

I just miss you

 

I don’t know what was so great or hard about love and a girl like you

What to do with these sad memories that I keep thinking of or this sleepless night?

 

The one and only love that I want

And the love that I want to throw away

I don’t like this love that I can’t have but I can’t throw away

 

My mouth, my two eyes and my face expression from

The laughter that came out whenever I saw you – I don’t remember

The stranger’s face in the mirror is me

 

We shouldn’t have known each other

We didn’t know that this is pain back then

What to do with my long day filled with your voice in my ears?

 

The one and only love that I want

And the love that I want to throw away

I don’t like this love that I can’t have but I can’t throw away

 

My love, my love that I want to forget, my love that I want to remember

I don’t know – I don’t like it, I really don’t like love anymore

 

I don’t like this love that I can’t have but I can’t throw away

I don’t like love anymore

 

XIA JUNSU – I DON’T LIKE LOVE

 

END

 

wahahahaha..

gaje sangat..

mohon komentar nya ya…

 

Yoo-Mi Wasurinaide

Standar

Aku terduduk di tempat tidurku di saat matahari pagi menampakkan sinarnya.

Aku memikirkan semua dirimu, tentang dirimu yang sangat ku cintai. Meski aku tidak melihat dirimu yang selalu ada di sampingku, menemani hari-hari ku…

 

I sit on my bed and think of you

It’s alright even if I can’t see you…

 

Aku merindukanmu. Tapi rasa rindu ini terasa cukup..

Memori tentang dirimu kembali terputar. Memori itu sangat jelas. Aku teringat akan senyummu, wajah mu, pipimu yang merona di saat aku menggoda mu.

#flashback

“Seungmi, kau terlihat cantik..

Tidak.. Tapi sangat cantik, aku menyukai pipi mu saat merona ini.” Aku melihat ia memalingkan wajah dan pipi nya terlihat merona. ‘Manis’. Aku pun mencubit kedua pipnya.

“Auch.. Appo Yoochun.” Katanya sambil mengusap kedua pipinya yang aku cubit. Aku hanya tertawa dan menarik pipnya lalu ku cium lembut kedua pipinya itu.

#Flashback:Off

I miss you, but just this feeling is enough

The memories of you remain, they’re so strong

 

Ponselku berdering, aku mengangkatnya. Setelah menyelesaikaan pembicaraan ku, aku mengecheck message list ku,

‘Ku mohon, lupakan aku. Jangan mengingatku lagi. Karena suatu saat aku akan melupakan mu Yoochun, tinggalkan aku’

Tak sengaja aku melihat pesan terakhir yang kau kirimkan. Dan pesan itu membuat dadaku terasa sesak..

Sesak oleh rasa yang sangat menyakitkan.. Rasa sesak yang menyebabkan kehampaan dihatiku..

 

I read a short message from you and it makes my chest tighten painfully

 

Meski begitu, aku tetap ingin menjaga kebahagiaan mu selamanya.. Bodohnya aku menuruti yang kau pinta.. Aku hanya ingin melihat mu bahagia. Mungkin ini memang yang terbaik.

 

But I want to keep protecting your eternal happiness

 

Aku akan menjadi angin dan akan berada di sekitarmu..

Sekarang aku ingin terbang kedunia dimana kau berada..

 

I’ll become the wind and wrap gently around you

Right now, I want to fly to a world with you in it

 

Meskipun, meskipun aku ingin melihat mu.. Sangat ingin melihat mu,

Aku sangat amat merindukan mu..

Aku akan tetap menunggu dirimu..

#Flashback:On

“Seungmi, kau dimana?” Tanyaku setelah dia mengangkat telfonnya.

“Aku dirumah Yoochun, wae?” Katanya.

“Bukankah kita berjanji untuk bertemu di cafe shinki?” Tanya ku lagi.

“Benarkah? Kapan kita berjanji?” Katanya yang mebuatku heran, Seungmi bukan tipikal orang yang mudah untuk melupakan sesuatu.

“Kita berjanji untuk bertemu hari ini seperti satu tahun yang lalu.” Kata ku lagi.

“Memang satu tahun yang lalu ada apa?” Tanyanya lagi. Dan perkataannya yang ini membuatku sangat kaget.

“Satu tahun yang lalu adalah hari pertama kalinya kita bertemu.” Kataku.

“Benarkah?” Katanya dengan nada yang sedikit ragu. Saat mendengarnya aku merasa kaget.

“Ah.. Lupakan saja.” Aku pun menutup telfon kami. Aku meminum coffe yang sudah ku pesan.

Sudah sekitar setengah jam aku berada disana, aku pun memutuskan untuk pulang saja. Entah apa yang terjadi pada seungmi.

 

Saat di pintu keluar aku melihat Seungmi datang nafasnya tersenggal seakan dia baru saja berlari jauh.

“Yoochun, mian.. Aku lupa.. Tadi aku hanya bercanda.. Ia.. Aku hanya bercanda dan ingin mengetes mu saja..” Katanya masih tersenggal berusaha mengambil nafas lalu dia pun tertawa. Aku segera menariknya kepelukan ku,

“Aku takut, aku takut kau serius, aku takut kau benar-benar melupakkannya. Jangan lupakan aku.” Kata ku. Bisa kurasakan kepalanya bergerak yang memberikan tanda bahwa ia meng-iakan pernyataan ku.

 

Jadi, jangan lupakan aku..

 

Even though I want to see you so much..

I miss you so much…

I’m waiting for you, don’t forget me

***

Aku segera mandi di pagi hari.. Aku ingin menyegarkan fikiranku, mungkin aku akan berolah raga dahulu..

***

Dan disinilah aku sekarang, di sebuah jalan yang biasa kita lalui..

Entah mengapa aku seakan melihat refleksi dirimu..

On the path we’d always walk, I felt your presence

Perlahan aku menutup mataku, aku berharap bahwa perasaan ku yang mengatakan kau berada di sisi ku tidak akan pernah menghilang.. Aku berharap itu bukan halusinasi ku saja..

 

Silently, I close my eyes and pray that it’ll never disappear

***

Tanpa sepengetahuan siapapun kau menyimpan sesuatu rahasia yang aku yakin itu memberatkan mu.

Seungmi

Kenapa kau tetap tertawa dan tersenyum kepadaku??

Aku selalu ingat keceriaanmu itu

 

Without acknowledging the things that hurt you deeply,

you just kept on laughing and smiling

I’ll always remember and cherish that

#flashback:On

“Yoochun, menurutmu kata apa yang memiliki makna yang luar biasa.” Tanya mu tiba-tiba seraya menatap ke arah mataku. Aku berfikir sejenak.

“Saranghae..” Kataku pada akhirnya.

“Aku akan tetap mengatakan kata itu.” Aku menarik nafasku.

“Meskipun hanya kata ‘saranghae’ yang kugunakan tapi aku merasa kata itu luar biasa, karena dapat menggambarkan seperti apa perasaan ku padamu. Hanya dengan satu kata itu dapat membuat seseorang merasa bahagia.” Kata ku sambil menatapnya.

#Flashback:Off

Aku teringat saat-saat itu lagi. Saat itu kau terlihat sangat terkejut saat aku mengatakan apa yang kufikirkan. Kau seakan-akan menganggapku seperti orang bodoh yang bisa mengucapkan kata-kata bermakna itu.

Aku tersenyum mengingatnya dan kembali melanjutkan olah ragaku.

 

And I’ll keep yelling out to the world, even if the words I use are but ordinary

 

Malam hari ku terasa begitu berbeda, biasanya akan ada Seungmi di sampingku, menemaniku.

***

Aku terbangun dimalam hari, entah mengapa aku seolah-olah bisa merasakan kehadiranmu.

Aku merasakan aroma mu berada di sekitarku. Aku kembali merasa kau berada di sampingku. Aromamu, wajah polos mu itu terasa begitu nyata. Aku melangkahkan kaki ku menuju dapur. Kubuka lemari pendingin ku dan mengambil sebotol air mineral.

 

The nights touched by you…

It’s enough to break me;

#flashback:On

“Seungmi?” Aku melihatnya, aku melihat ia sedang kebingungan mencari sesuatu.

“Ah, Siwon-ssi, kenapa kau terbangun?” Katanya padaku. Yang dia ingat aku bukanlah Yoochun. Tapi yang dia ingat adalah mantan kekasihnya yang dulu. Siwon, Choi Siwon.

“Aku merasa haus, apa yang kau lakukan?” Tanya ku.

“Aku lupa aku mencari apa. Bodoh sekali ya aku..” Dia tertawa. “Apa yang sedang ku cari ya Siwon-ssi.” Katanya lagi masih mencari-cari barang yang tidak ia ketahui di atas meja.

Aku menariknya untuk duduk di kursi, ku tuangkan air kedalam gelas dan memberikan itu padanya.

“Kamsahamnida.” Katanya lalu meminum air itu.

“Apa kau sudah mengingat apa yang kau cari?” Tanyaku seraya mengambil kursi dan duduk di sebelahnya. Ia menggelengkan kepalanya.

“Tak apa. Mungkin kau lelah.” Kataku lalu menariknya kedalam pelukkan ku.

“Siwon-ssi..” Panggilnya. Itu bukan namaku. Tapi setiap dia memanggil namaku aku merasa kalau yang dia panggil adalah aku.

“Hemm??” Aku meresponnya seraya memainkan rambutnya.

“Kenapa kau begitu baik padaku? Kita kan tidak begitu dekat.” Katanya lagi.

“Kau ingin tahu?” Tanya ku lagi. Dia melepaskan pelukan ku dan duduk menatap mata ku. “Aku begini karena aku mencintai mu.. Saranghae…” Kata ku.

your fragrance hanging in the air and these feelings that build up, baby

 

“Kita kan baru bertemu, tapi kau sudah mengajakku tinggal bersama mu. Kau sangat baik Siwon-ssi.” Kata nya lagi.

“Seungmi, kau benar-benar tidak mengenali ku?” Tanya ku.

“Kau itu, Choi Siwon kan?” Katanya lagi.

“Anni, aku bukan Choi Siwon, aku Park Yoochun. Junnie mu..” Kata ku, aku sudah tidak tahan melihat Seungmi seperti ini.

“Park Yoochun? Kau bercanda Siwon-ssi, Junnie itu apa? Aku tidak tahu.” Katanya lagi. Ia bangkit dari tempat duduknya. Aku menarik tangannya.

“Aku Park Yoochun, bukan Choi Siwon. Aku adalah suami mu, kita sudah menikah satu tahun yang lalu.” Kata ku pada akhirnya.

“Ak… Aku belum menikah. Aku tidak mengenal Park Yoochun.” Katanya ragu. Dia terlihat bingung.

“Kau sudah menikah.. Kita sudah menikah.” Kata ku sedikit lebih keras. Aku terlalu terbawa emosi.

“Kau bohong.. Aku belum menikah.” Katanya lagi, ia berlari menuju kamarnya.

#flashback:off

Aku ingat, kau sama sekali tidak mengingatku. Kau terkena penyakit itu tapi kau tidak memberitahukan ku sama sekali. Tapi rasa cinta ku pada mu tidak akan pernah berakhir, tidak akan pernah berubah. Aku akan selalu mengenggam tangan mu, dimana pun kau berada. Dan aku yakin kita tidak akan pernah berakhir. Biarkan aku yang mencintaimu.

So that this’ll never end,

I’ll hold your hand even tighter

So that we’ll never be separated…

Aku memutuskan untuk kembali ke kamar ku. Ponselku berdering, sebuah pesan singkat.

From: Seungmi

Yoochun, mian..

Mian karena selama ini aku melupakan mu, aku tidak bermaksud seperti itu. Kumohon maafkan aku. Aku salah.. Aku salah karena melupakan mu. Sekarang aku ingin meminta kau melupakan aku, karena aku tidak pantas untuk dirimu.

Aku akan selalu mencintai mu meski aku melupakanmu, aku akan selalu menyayangi mu..

Saranghae

Aku segera manghubungi ponselnya, tapi ia tidak mengangkatnya.

“Seungmi mengingatku.. Dia mengingat ku.” Kata ku pada diri sendiri. Aku segera mengeluarkan mobil dan pergi menuju rumah orang tua Seungmi. Dia berada di sana.

***

“Yoochun, ada apa?” Tanya seorang yeoja yang sudah separu baya.

“Eomonim, dimana Seungmi?” Tanya ku langsung.

“Dia ada di kamarnya. Kenapa?” Katanya lagi.aku pun segera melangkah masuk menuju kamar Seungmi.

Ku buka pintu kamarnya, aku memasuki kamar yang bernuansa putih itu. Di dekat jendela aku melihatnya. Melihat wanita yang selalu ku cintai. Dia sedang menatap langit malam. Padahal ini sudah tengah malam. Aku menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Ia tersentak kaget. Aku menaruh kepala ku di lekukan lehernya.

“Yoochun..” Katanya pelan, ia menaruh tangannya di atas kedua tanganku yang mengikapt pinggang rampingnya.

“Kau mengingat ku.” Kata ku pelan. Dia menganggukan kepalanya.

“Yoochun, boleh kah aku meminta sesuatu?” Tanyanya. Ia membalikan badannya menghadap kearahku.

“Apa?” Jawabku.

“Kumohon, lupakan aku. Carilah wanita yang lebih baik, carilah seseorang yang sehat. Yang mencintaimu.” Katanya.

“Anni.. Aku tidak mau.. Aku tidak mau.” Kata ku lalu aku menariknya lagi, mengenggelamkan wajahku di tengkuknyam.

“Kau harus. Kau harus melupakanku. Karena aku pasti akan melupakan mu suatu saat nanti. Mungkin akan lebih parah dari yang sudah-sudah. Aku akan menjadi bebanmu saja. Aku tidak mau seperti itu. Aku tidak mau membuatmu menderita karena aku.” Katanya sambil terisak, bisa kurasakan bajuku basah karena air matanya.

“Tak apa.. Tak apa.. Yang kumau hanya dirimu. Aku tak peduli apapun. Asalkan kau bersama ku, aku tak apa. Jika kau melupakan aku, aku akan mengingatkan mu lagi. Besok. Besok nya lagi, besok nya lagi, dan seterusnya.” Kata ku. Kuhapus air mata yang mengaliri pipinya. Aku pun mulai meneteskan air mata ku.

“Tapi itu akan membuat mu kerepotan, aku akan menyusahkan mu.. Tinggalkan aku.. Kumohon.. Aku tidak pantas untuk mu..” Kata Seungmi dengan air mata yang masih menetes.

“Kau memang tidak pantas untukku.” Kata ku. Seungmi mendongakkan kepalanya.

“Yoochun..” Seungmi terlihat tidak percaya. Air mata itu makin deras membanjiri pipinya.

“Kau tidak pantas menjadi milikku. Kau tidak pantas menjadi Park Seungmi. Park Seungmi yang ku kenal tidak seperti mu. Seungmi yang ku kenal adalah Seungmi yang selalu ceria, tersenyum dan optimis. Seungmi ku adalah wanita terhebat yang ku miliki. Dan kau seperti bukan Park Seungmi.” Kata ku.

“Tapi.. Tapi aku.. Aku sudah sempat melupakan mu, aku sempat meninggalkan mu, dan aku menganggap kau adalah Choi Siwon. Aku sudah tidak bisa…” Kata Seungmi lagi ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Aku tak masalah. Bagi ku itu tak masalah. Karena aku tahu hatimu tidak akan melupakan ku, hati mu tidak akan meninggalkan ku. Dan cinta mu pasti hanya untuk ku. Meski kau melupakan ku, meninggal kan ku. Tapi aku yakin kau masih mengingat ku. Ia aku yakin.” Aku menarik nafasku. “Aku yakin karena aku percaya pada mu, jika kau melupakan ku, aku akan mengingatkan mu. Jika kau meninggal kan ku, aku akan mencegah mu pergi. Jadi ku mohon, jangan menjauh dari ku.” Kata ku. Aku menarik tangan yang menutupi wajahnya, menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah indahnya. Ku dekatkan wajah ku. Aku mencium bibirnya lembut. Tanpa paksaan dan tanpa tuntutan.

“Mian.. Mianhe karena sudah membuatmu menjadi kerepotan.” Kata Seungmi tersenyum.

“Ini baru Seungmi ku.” Kata ku tersenyum juga dan tak terasa setetes ait mata mengalir di pipiku, segera ku hapus.

“Wasurinaide.” Kata ku..

Kami pun tertidur..

***

Matahari pagi mulai menampakkan sinarnya. Aku membuka mataku dan melihat sosok yeoja cantik yang sedang tertidur di pelukan ku. Tidurnya terlihat sangat nyaman.

“Eung..” Dia terbangun, dan membuka matanya.

“Ohayou…” Kata ku, ku cium lembut bibirnya. Ia terlihat kebingungan.

“Kau siapa? Kenapa kau ada di kamar ku?” Tanyanya. Ternyata penyakitnya sudah kambuh lagi.

“Aku Park Yoochun.” Kata ku sambil tersenyum miris.

“Park Yoochun? Kau siapa ku?” Tanya ia lagi.

“Aku suami mu…”

 

END

My Mistake is Expecting His Love

Standar

Ini sebenernya FF gaje dari note gue..

Akhirnya gue meng-edit cerita ini sedikit-sedikit..

hehehehe…

dan ini OOC

oke.. selamat membaca…

 

Title            :    My  Mistake is ExpectingHis Love

Cast             :    Lee Taemin

Park Minhyo

Other Cast:

Choi Minho

Han Minhyo a.k.a Hanmin

Jo Kwon

 

 

“Minhyo, kumohon bantulah aku agar bisa kembali bersama Hanmin.” Ucap Taemin.
“Entah lah aku bisa apa tidak. Tapi akan ku usahakan.” Aku hanya tersenyum tipis.
“Jinja? Gomawo..” Lalu dia memelukku.
“Ne. Cheon.” Aku pu melepaskan pelukkannya dan melangkah pergi
***
Aku melangkahkan kaki ku menuju kelas, Lebih tepatnya aku akan menemui Hanmin. Aku dan Hanmin memang bersahabat. Kami saling mengenal saat kami beerada di bangku tingkat satu di SHS ini.
“Minhyo, kau tahu, aku sedang menyukai seseorang” katanya begitu aku memasuki kelas dan duduk disebelahnya.
“Nugu?” tanya ku
“Minho” Jawabnya sambil tersenyum manis.
“Minho? Choi Minho?” Tanyaku sedikit ragu.
“Ne..” Hanmin menjawabnya dengan yakin seraya menganggukkan kepalanya.
“Tapi..” Entah apa yang harus ku ucapkan. Apa yangg harus ku lakukan..
“Tapi kenapa?” Tanyanya lagi.
“Ani.. Anniyo, lupakan saja. Oh ya, bagaimana jika Taemin masih menyukai mu?” Kata ku sedikit ragu.
“Mwo? Haah.. Aku sudah tidak menyukainya. Dia terlalu memaksakan kehendaknya. Selama ini kau tahu kan, dia hanya pelarian ku dari Myungsoo saja. Kau menyukainya kan?” Katanya.
“Annio..Ne, aku tahu”.

Aku tahu semuanya, tapi tahu kah kau? Kalau taemin masih begitu mengharapkan mu? Bahkan dia selalu menceritakan segala sesuatu tentangmu. Dan itu cukup membuat hati ku sakit. Karena tidak ada ruang di hatinya untukku

“Jangan berbohong” Kata Hanmin seraya menyenggol bahu ku.
“Aku tidak..” Aku berusaha menyangkalnya.
“Sudah lah, kau tahu? Kita seperti bertukar. Dulu kau menyukai Minho, sedangkan aku berpacaran dengan Taemin. Sekarang aku menyukai Minho, dan kau dengan Taemin. Hahaha.. Lucu ya.” Kata Hanmin yang sedang mengeluarkan roti dari tasnya. “Mau?” tawarnya. Aku hanya menggeleng.
“Ne kau benar..” akhirnya aku mengakuinya.

Tapi kau dan Minho saling menyukai, sementara Taemin, tidak seperti Minho’
Ya, dulu aku memang menyukai seorang Choi Minho. Tapi kini, semenjak Lee Taemin dekat dengan ku, aku malah menyukainya..

***

Berharap..

Hanya itu yang bisa kulakukan..

Tapi aku tak berani untuk terlalu berharap,

Karena terkadang berharap membuatku tak ingin menyadari kenyataan

“Minhyo” panggil Taemin.
“Ne? Waeyo?” Akupun menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya.
“Bagaimana? Kau sudah bertanya pada Hanmin?” Tanyanya
“Eung, belum. Kemarin aku sibuk” kataku berbohong.
“Haah.. Kau ini. Kau tahu? Semakin hari dia semakin cantik. Dan semakin hari aku makin ingin bersamanya.” Katanya.
“Hn.. Arraseo.” Gumamku.
“Semakin lama, aku semakin mencintainya”

Ucapan itu meluncur dengan mudahnya dari bibir mu,
“Memang mengapa kau begitu menginginkan nya kembali padamu?” Tanya ku perlahan.
“Mungkin, dia dapat membuatku berubah. Dapat membuatku semakin baik tiap harinya. Kau tahu aku dulu kan? Dan, aku merasa nyaman bersamanya.” Ucapnya sambil menatap langit.

Berhenti..

Kumohon berhenti membicarakan Hanmin.
“Oh ya? Dia hebat ya?” kataku dengan nada yang dipaksakan menurutku, tapi apakah dia pefuli dengan nada bicaraku sementara yang ada difikirannya hanya Hanmin. ‘Betapa bodoh nya aku. Berhentilah berharap Minhyo.‘ Itu yang kutanamkan dalam otakku.
“Ne. Dia sempurna. Dan hanya dia yang dapat membuat ini semakin bergetar.” Dia memegang dadanya.
“Oh.. A.. Aku pergi dulu ya, aku lupa ada janji dengan Jo kwon oppa. Bye” lebih baik aku pergi. Sungguh tak kuat rasanya mendengarnya.
“Eh, chakaman.” Aku pun menghentikan langkahku lagi.
“Waeyo?” Aku berbalik ke arahnya.
“Akhir minggu ini bagaimana jika kita pergi ke Lotte world bersama?” Ajaknya
“Ah. Baiklah.” Tanpa fikir panjang aku menerima ajkannya.
“Jangan lupa, ajak Hanmin. aku akan aja Minho juga.” Ucapnya.
“Oh, ne. Aku pergi.” Ya tuhan, sakit sekali rasanya jika yang ia bicarakan hanya hanmin. Aku pun pulang menuju rumah. Saat perjalanan, tak sengaja aku melihat Hanmin yang sedang mengobrol dengan Minho.
“Enaknya jadi Hanmin, dia selalu dapat memikat orang-orang. Tidak seperti aku, yang hanya jadi bayang-bayang nya saja.” Aku pun melangkahkan kaki ku lagi.

Menjadi bayang-bayangnya. Ya itulah yang kualami. Semua yang mengenalku memiliki tujuan agar mereka dapat dekan dengan Han Minhyo, atau Hanmin. Lalu setelah berhasil mereka akan melupakan ku.

***
Sesampainya dirumah, Aku segera masuk kekamar tanpa menghiraukan eomma dan oppa. Yang ku ingin hanya sendiri.

“Kenapa? Kenapa kau tidak menyadari ku? Aku yang selalu ada di saat kau butuh.. Aku selalu mendengar ceritamu.. Aku yang selalu siap kau ganggu kapan pun.. Tak biskah? Tak bisakah kau membuka hati untukku taemin? Tak tau kah kau, kalau dia tidak tulus mencintaimu? Kau hanya pelariannya.” Aku menenggelamkan wajahku pada bantal.
“Sakit.. Sakit sekali di sini..” Aku memukul dadaku perlahan. Berharap rasa sakit nan memilukan itu menghilang. Berharap perasaan itu menghilang.
“Minhyo? Wae? Kenapa kau menangis?” Oppa masuk ke kamarku, dan menghampiri ku yang berada di ujung kasur.
“Oppa..” Aku memeluk oppa ku. “Oppa. Rasanya sakit. Dia tidak pernah melihat ke arah ku. Aku.. Aku..” aku memeluk oppaku, menenggelamkan wajahku didadanya. Ia membiarkan ku menangis dan membasahi bajunya.
“Sshht.. Uljima Minhyo.. Jika kau merasa sakit, jauhi dia.” kata oppa sambil mengelus punggungku.
“Aku tidak bisa oppa.. Apa yang harus ku lakukan?” Aku merasa.. Entah lah, hancur.. Sangat hancur..
“Kau pelan-pelan harus melepaskannya, kau harus mencobanya” kata oppa melepas pelukkannya.
“Tapi.. Aku tak mau jauh darinya”
“Katakan perasaan mu pada nya” oppa menghapus air mataku.
“Aku.. Aku takut merubah keadaan ini” aku kembali memeluk oppa.
“Kau harus mencobanya.. Sudah, berhenti menangis ya?” oppa kembali mengusap kepalaku lembut.
“Ne oppa, akan ku coba” Kataku sambil mengangguk.
“Sudah, kau mandi, lalu makan.”
“Anni.. Aku tidak lapar. Aku ingin langsung tidur saja.”
“Baiklah.. Selamat malam..”
“Malam.” Oppa meninggalkanku di kamar ku.
***
Hari jum’at ini, aku akan menelfon Hanmin. Semoga dia mau ikut. Agar Taemin tidak sedih. Ya, aku bahkan tidak mempedulikan perasaanku lagi. Betapa bodohnya aku, terkadang aku menertawakan tindakan bodoh ku ini. Kenapa aku masih membantunya ya?
“Yoboseo, Hanmin.. Taemin mengajak bermain di lotte world kau ikut ya.” kataku
“Ah, tapi..”
“Dia mengajak Minho” kataku.
“Jinja? Baiklah.. Aku ikut” begitu mendengar nama Minho ia langsung menerima ajakannya.
“Ne.. Nanti ku kabari lagi” Kata ku.
“Ne.. Kalian akan berkencan ya?” Katanya dengan nada ceria.
“Anni.. Sudah ya Hanmin. Aku oppa memanggilku.” Aku segera memutuskan telfonnya.

~Tomorow~
“Taemin, Hanmin akan ikut pergi.” Kataku menghampirinya yang sedang berada di depan kelas.
“Jinja? Gomawo Minhyo.” Katanya sambil tersenyum
“Ne. Minho jadi ikut kan?” Tanyaku memastikannya.
“Kenapa kau menayakannya? Kau menyukai nya?” katanya dengan polos sambil tersenyum
“Anni.. Sudah ya aku mau makan dulu.” Aku segera membalikkan badanku. Yang kusukai itu kau bodoh. Bukan Minho. Tapi Lee Taemin.
“Aku ikut” katanya.
“Haah, yasudah.. Kkaja.” padahal aku menginginkan waktu sendiri.
***
“Jadi sekarang ada 2 motor. Kau mau dengan siapa Hanmin?” kata Taemin.
“Aku dengan minho saja.” Hanmin segera menuju motor Minho.
“Baik lah, silahkan naik.” Minho memiringkan motornya agar hanmin lebih mudah menaikinya.
“Berarti aku dengan Taemin.” Kataku pelan
“Naik cepat”. Katanya dengan nada ketusnya.
“Ne.” Aku pun menaiki motornya.

~@Lotte world~
“Eum, aku mau kekamar mandi dulu ya.” kata ku.
“Aku juga.” Kata Taemin.
“Baiklah, aku dan Hanmin tunggu di sini ya” kata Minho
“Ne, jangan bersenang-senang tanpa kami ya. Kkaja Minhyo.” Taemin menarik tanganku.
“Ne..” Aku hanya pasrah.
“Minhyo, aku rasa waktunya sekarang” katanya Taemin padaku.
“Waktu apa?” Tanyaku berpura-pura tidak tahu. Apa ini? Apa sekarang? Seharus nya aku tidak ikut pergi..
“Aku akan mengatakan pada Hanmin bahwa aku masih mencintainya” katanya mantap.
“Jinja? Hwaiting.” Kataku lemah. Tak tau kah kau, rasanya hati ini bagai teriris. Aku pun masuk ke dalam kamar mandi, dan terisak sendiri di sana.

***
“Bagaimana? Apa kau sudah mengatakannya?” Tanya ku.
“Huh? Belum” katanya dan mengerucutkan bibirnya.
“Oh.” hanya tu respon yangku berikan
“Minhyo, aku tidak tahu jalan pulang jika tidak bersama Minho. Kita kerumah Hanmin dulu ya.” Katanya lagi.
“Oh. Ne.” Kataku lagi. Kau fikir aku tak tahu kalau kau khawatir terjadi sesuatu di antara mereka? Tapi aku masih berpura-pura tak tahu apapun.
“Kau hapal jalan ini?” Kataku lagi
“Ia, aku sering kemari” Jawabnya.
“Oh..”  tak berapa lama kami pun sampai di rumah Hanmin, Taemin memilih jalan berbeda dengan yang di ewati oleh Minho dan Hanmin. Entah alasannya apa toh aku tidak peduli. Aku hanya ingiin pulaang.
“Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka berpelukan?” Kata Taemin.
“Entahlah.. ” jawabku, toh aku tidak mengetahui apa-apa.
“Minho?” Panggil Taemin.
“Ne?” Jawab Minho dan melepaskan pelukkannya dengan Hanmin
“Kau sedang apa?” Tanya Taemin lagi, tangannya terlihat mengepal.
“Kau tahu Taemin, ternyata Hanmin juga menyukai ku. Dan kami sudah resmi sekarang.” Katanya lalu memeluk Hanmin yang kini sudah bersemu merah.
“Ne? Chukkae.” Katanya pelan.
“Kalian juga sedang berpacaran kan?” Tanya Hanmin. Heuh, tentu saja tidak. Tidak mungkin. Itu hanya MIMPI BELAKA.

“Mwo? A.. an..” Ucapan ku terputus saat tangan aemin menggengggam tanganku.
“Oh, ne.. Aku dan minhyo sedang berpacaran.” Katanya. “Hahaha.. Kkaja minhyo, ku antar kau.” Aku menatapnya tak percaya.
“Tapi..” aku menatapnya meminta penjelasan.
“Ppaliwa” dia lalu menarik tanganku untuk segera pergi.
***
“Minhyo, mianhe. Aku sudah mengaku bahwa kau itu pacar ku.” Katanya sambil menunduk.
“Ne. Gwenchana.” Apa?gwenchana? Aku ini, apa ini masih bisa di bilang gwenchana? Apa rasa sakit ini masih baik-baik saja?
“Aku telat, aku telat satu langkah. Aku tidak bisa melihat mereka.” Dia memelukku dan menenggelamkan wajahnya di pundakku.
“Kalau begitu, kau tak usah melihatnya.” Kata ku.
“Aku tak bisa, hanmin begitu berharga bagi ku.. Aku..” Bisa kurasakan bahu ku basah, punggung nya pun bergetar. Pasti dia menangis.
“Tidak bisa kah kau berhenti membicarakan Hanmin? Tidak bisakah kau berhenti melihatnya? Tidak bisakah kau melihat kearah lain selain dirinya?” Kata ku.
“Ne? Kau kenapa?” Kata Taemin heran.
“Kau tahu? Setiap hari kau selalu membicarakan Hanmin. Aku muak. Aku muak setiap malam  aku menangis seperti orang bodoh. Aku menangisi diriku sendiri karena kau Lee Taemin.” Kata ku. Taemin melepaskan pelukannya.
“B.. But wae?.. Kenapa?” Taemin menatap ku heran.
“Kau itu bodoh  ya? Apa begitu sempurnanya Hanmin sehingga kau tidak menyadari aku?” Kata ku setengah terisak.
“Minhyo..”
“Aku mencintai mu. Tapi kau seperti ini. Kau terlalu mengharapkan Hanmin. Kau selalu membiscarakannya, memperdulikannya, memperhatikannya. Sementara aku hanya kau peralat agar kau bisa kembali bersama Hanmin.” Aku menundukkan kepalaku, berusaha menutupi air mata yang siap mengalir kapan saja.

Hening itu yang terjadi untuk beberapa saat.
“Aku.. Mianhe.. Aku tidak bisa aku..” Ia mengeluarkan suara.
“Ne. Aku tahu, kau masih mencintainya kan?” Kata ku, menatap langit. Aku berusaha menenagkan diriku.
“Ne.. Mianhe.. Aku pulang dulu.” kata Taemin. Bahkan, dia hanya mengantarku sampai ke taman.

Dan, di sinilah aku. Menangis sendiri, di taman. Miris sekali Hidupku. Disaat mengungkapkan perasaanku, disaat itu pula aku merasakan sakitnya.

“Minhyo?” Panggil seseorang.
“Oppa, Jo kwon oppa.” Dia menghampiriku dan memelukku.
“Oppa, aku sudah mengataknnya. Aku takut.. Aku takut semua berubah..” Dan kini aku merasa menyesal mengatakannya.
“Sshht.. Uljima.. Yang penting, kau sudah mengatakannya. Setidaknya kau tidak terlalu merasa sakit. Sesakit memendammya terlalu lama.” Oppa menghapus air mataku.

“Oppa..” Aku semakin menangis. Beruntung sekali oppa melihat ku.

***
Dan, hal yang ku takutkan terjadi. Taemin menjauhikku. Menghindari ku tepatnya. Dia masih begitu mengharapkan Hanmin kembali. Aku sadar. Kalau dia hanya ‘memperalat’ ku agar ia bisa kembali bersama hanmin. Awalnya aku merasa itu tidak masalah.
Tapi, rasa sakit ini lebih parah dari yang dulu. Karena dia seakan-akan tidak mengenalku. Dia membuat ku menyukainya karena dulu kami selalu bersama. Dan kini, dia menjauhi ku karena kesalahan ku.

And my biggest mistake is Expecting his love

END

Sushi Time

Standar

Pas malem minggu setelah hujan yang cukup besar melanda daerah rumah gue.. tiba-tiba nyokap pengen makan Sushi, dan gue menyambut ajakan nyokap dengan semangat ’45. Selain gue emang tiba-tiba ngiler nontonin acara buat Sushi di salah satu stasiun TV pada siang harinya. Gue juga punya niat terselubung.. Ha Ha Ha Ha *Evil Laugh*. Jadi di resto itu. Ada salah seorang pelayannya yang mirip sma seseorang. Dan lumayan lah.. wkwkwkwk.. sekalian  berharap dengan makan di malam hari bakal dapet gratis satu porsi Sushi yang berisi dua kepal Sushi. Hahahaha..

Pas nyampe sana, yang ada di fikiran. ‘yah.. kok rame banget’ hahhahaha.. modus gila gue..

Terus dapet tempat di pojokkan. Yang ngasih buku menu bukan waiters yang di harepin. Tapi yang lain yang masih PKL.

Waiters itu ngomong : ‘maaf ibu, mau liat menu dulu apa langsung mesen?’

Nyokap pun menjawab: ‘liat-liat aja dulu ya mas’

Waiters yang tidak di harapkan itu pun pergi melayani tamu yang lain.

Setelah FIX untuk memilih menu yang di pilih, gue pun memanggil salah satu darii waiters tersebut.

Dan yang nongol adalah waiters yang sangat a,at gue harapkan.. hahahaha… lalu gue pun mesen makanan yang sudah kami pilih.

Setelah mesen, ade gue ngerasa gk nyaman duduk di pojokkan, akhirnya kita pun pindah ketempat deket pintu yang kebetulaan tempat waiters mejeng(?). dan gue mendapat pemandangan indah di sono… :D

Setelah itu makanan pun dateng.. tapi sayangnya, waiters itu lagi sibuk banget sama tamu..

Tapi ta apa.. yang penting modusan berhasil ..

Wahahahahahaha……